New York City mengambil langkah tegas terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sekolah. Pemerintah kota akan melarang siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) menggunakan berbagai alat AI generatif selama satu tahun ajaran penuh.

Kebijakan ini diumumkan Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, pada Rabu (2/9/2026), dan akan berlaku bagi lebih dari 600.000 siswa di sistem sekolah negeri kota tersebut. Langkah ini diambil untuk memberi waktu bagi pejabat pendidikan kota mempelajari dampak teknologi AI terhadap proses belajar anak, sebelum menentukan kebijakan jangka panjang. Mengutip CNBC.com, Minggu (6/9/2026), arah kebijakan yang disampaikan pemerintah kota menegaskan komitmen memastikan teknologi digunakan untuk mendukung siswa, bukan menggantikan proses belajar mereka.

Apa yang Dilarang, Apa yang Masih Diperbolehkan

Larangan ini secara spesifik mencakup perangkat lunak berbasis student-facing generative AI — istilah untuk teknologi AI generatif yang digunakan secara langsung oleh siswa, seperti chatbot AI yang bisa diajak berdiskusi atau diminta mengerjakan tugas.

Namun kebijakan ini tidak sepenuhnya menutup pintu AI di sekolah. Siswa sekolah menengah atas (SMA) masih bisa mengikuti program literasi AI dan sejumlah program percontohan yang menggunakan perangkat AI dalam lingkungan yang diawasi. Guru pun tetap diperbolehkan memakai AI untuk membantu menyusun rencana pembelajaran dan pekerjaan administratif — namun AI dilarang digunakan untuk memberi nilai terhadap tugas siswa.

Selain itu, anak-anak juga dibatasi dari penggunaan companion chatbot — chatbot yang dirancang untuk mensimulasikan hubungan emosional, pertemanan, atau interaksi sosial dengan penggunanya.

Perdebatan di Balik Kebijakan Ini

Kebijakan ini muncul di tengah perdebatan yang lebih luas soal penggunaan AI dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, teknologi ini dinilai bisa membantu proses belajar dan menjadi keterampilan penting bagi siswa di masa depan. Di sisi lain, sejumlah kelompok orang tua dan pemerhati pendidikan khawatir AI justru membuat siswa lebih mudah mencontek, terlalu bergantung pada teknologi, serta mengurangi kesempatan mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Kebijakan ini pun mendapat tanggapan beragam. Sebagian pihak menilai larangan ini bisa membuat siswa kehilangan kesempatan memahami teknologi yang semakin penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun sejumlah pakar pendidikan justru melihat moratorium setahun ini sebagai kesempatan untuk menguji bagaimana AI seharusnya digunakan secara tepat di lingkungan sekolah.

Bree Dusseault, principal sekaligus managing director Center on Reinventing Public Education, menilai kebijakan sementara ini bisa menjadi pendekatan yang tepat di tengah perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat — dengan catatan, keberhasilannya akan sangat bergantung pada hasil penelitian pemerintah kota soal dampak AI terhadap proses pendidikan selama setahun mendatang.

Sementara itu, psikolog pendidikan dari American Psychological Association (APA), Nicole Barnes, menekankan bahwa sekolah perlu memastikan teknologi yang dipakai benar-benar membantu siswa belajar, bukan sekadar membuat mereka lebih lama berinteraksi dengan layar.

Menurutnya, anak-anak tidak membutuhkan akses AI tanpa batas untuk mempelajari literasi AI — mereka justru perlu memahami sejak dini bahwa AI bisa menghasilkan jawaban yang keliru, dan kemampuan berpikir kritis tetap membutuhkan peran manusia, bukan sepenuhnya diserahkan ke mesin.

Bukan Kebijakan Pertama, dan Berpotensi Jadi Acuan Nasional

New York City sebenarnya bukan wilayah pertama yang memperketat aturan AI di sekolah. Pada 2023, sistem sekolah negeri kota ini sempat memblokir akses ke ChatGPT, sebelum kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan.

Kebijakan terbaru ini pun diperkirakan akan menarik perhatian distrik sekolah lain di Amerika Serikat, mengingat New York City kerap dijadikan acuan dalam penerapan kebijakan pendidikan di negara tersebut. Sebagai konteks tambahan, data College Board pada 2025 menunjukkan hampir 40 persen sekolah di AS sudah melarang penggunaan alat AI di ruang kelas — meski di banyak sekolah lain, keputusan soal penggunaan AI pada akhirnya tetap diserahkan kepada masing-masing guru.

Dengan moratorium ini, New York City memilih mengambil jeda untuk mengevaluasi dampak AI pada siswa usia muda, sebelum memutuskan apakah akan memberikan akses yang lebih luas di masa depan. Pendekatan hati-hati ini mencerminkan ketegangan yang lebih besar dalam dunia pendidikan saat ini: bagaimana memanfaatkan potensi AI tanpa mengorbankan proses belajar fundamental anak-anak, terutama di usia yang masih dalam tahap perkembangan kemampuan berpikir kritis.