Breaking
Memuat breaking news...

Zuckerberg Minta AS Longgarkan Aturan AI Open-Source, Singgung Ancaman dari China

Redaksi
Redaksi
Rabu, 12 Agustus 2026 - 7.26 AM WIB
Zuckerberg Minta AS Longgarkan Aturan AI Open-Source, Singgung Ancaman dari China
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Mark Zuckerberg kembali angkat suara. Kali ini bos Meta itu menagih pemerintah Amerika Serikat untuk mengurangi beban regulasi bagi pengembangan AI open-source. Alasannya sederhana: kalau tidak, perusahaan teknologi AS bisa kalah cepat dari para pesaingnya di China.

Momennya tidak sembarangan. Seruan ini muncul bersamaan dengan peluncuran Muse Glimmer, model AI open-weight terbaru Meta, pekan ini. Bedanya dengan model-model raksasa yang selama ini jadi sorotan, Muse Glimmer justru dibuat ringkas — cukup dijalankan dengan satu kartu grafis di laptop atau PC biasa, tanpa perlu server cloud.

Targetnya jelas: pengguna yang ingin menjalankan tugas otomatis (agentic tasks) secara lokal. Meta juga sudah memberi sinyal, model-model lain menyusul dalam waktu dekat, termasuk Muse Spark 1.2 yang digarap tim superintelijen mereka.

Pernyataan Zuckerberg ini bukan sekadar kutipan di sela peluncuran produk. Ia menuliskannya panjang lebar dalam esai berjudul "The Future is for Everyone", dilengkapi unggahan video. Intinya, ia menolak gagasan bahwa AI harus dikuasai segelintir perusahaan besar demi alasan keamanan. Baginya, cara pikir seperti itu justru bermasalah.

Argumen ini sejalan dengan arah yang belakangan makin diminati industri: beralih ke model open-weight. Ada dua pendorong utama. Pertama, biaya berlangganan AI tertutup (closed model) yang terus membengkak. Kedua, kekhawatiran soal insiden keamanan siber yang pernah menyeret nama-nama besar seperti Anthropic, OpenAI, bahkan Meta sendiri.

Model open-weight menawarkan biaya operasional lebih murah dan keleluasaan memodifikasi kode sumber — sesuatu yang mustahil dilakukan pada model tertutup buatan OpenAI atau Anthropic.

Ironisnya, di ranah AI open-weight ini, startup-startup China yang sedang memimpin. Kimi K3 dari Moonshot, Qwen3.8-Max dari Alibaba, dan V4-Flash dari DeepSeek disebut mampu menyaingi performa model-model papan atas Amerika.

Sementara itu, pemain besar AS seperti OpenAI, Anthropic, dan Google masih setia dengan skema tertutup, yang biayanya jauh lebih mahal. Kondisi ini yang disebut-sebut membuat sejumlah perusahaan AS mulai melirik model AI asal China ketimbang bertahan dengan model dalam negeri.

Pasar tampaknya menangkap sinyal positif dari langkah Meta ini. Saham META sempat naik hampir 3% dalam perdagangan pra-pasar Senin lalu — meski secara year-to-date performanya masih tertekan sekitar 10%.

Zuckerberg tidak berhenti di soal model AI saja. Ia juga mengumumkan dana hibah US$1 miliar, sekitar Rp17 triliun, untuk komunitas di sekitar lokasi pusat data (data center) milik Meta. Ini bukan tanpa alasan: pembangunan pusat data raksasa belakangan kerap memicu penolakan warga sekitar dan menjelma jadi isu politik di AS.

"Satu kerugian besar AS dibandingkan negara seperti Tiongkok adalah rumitnya membangun infrastruktur di sini," ujar Zuckerberg. Tahun ini saja, belanja modal (capex) Meta mencapai US$145 miliar, dan sebagian besar habis untuk infrastruktur AI.

Ia juga mendesak agar aturan soal penggunaan data dan teknik distillation — cara melatih model AI kecil memakai keluaran model yang lebih besar agar lebih hemat komputasi — dirombak. Menurutnya, aturan yang terlalu ketat di AS justru membuka celah bagi laboratorium AI di luar negeri untuk melaju lebih kencang.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait