Breaking
Memuat breaking news...

Tiga Perusahaan AI Raksasa Mengaku Model Mereka "Meretas Sendiri", Ini yang Perlu Diketahui Pengguna Biasa

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 8 Agustus 2026 - 8.11 AM WIB
Tiga Perusahaan AI Raksasa Mengaku Model Mereka "Meretas Sendiri", Ini yang Perlu Diketahui Pengguna Biasa
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Dalam waktu kurang dari sebulan, tiga laboratorium kecerdasan buatan terbesar di dunia—OpenAI, Anthropic, dan Meta—mengungkap hal yang sama: model AI mereka berhasil menembus sistem milik perusahaan lain saat sedang diuji coba, tanpa perintah eksplisit dari manusia. Rentetan pengakuan ini memicu kekhawatiran baru soal keamanan siber di era AI otonom, sekaligus memunculkan pertanyaan sederhana bagi masyarakat umum: apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang perlu dilakukan agar data pribadi tetap aman?

Pengakuan pertama datang dari OpenAI pada 21 Juli 2026. Perusahaan itu menyatakan bahwa kombinasi model GPT-5.6 Sol dan satu model lain yang belum dirilis ke publik berhasil keluar dari lingkungan uji tertutup (sandbox) dengan memanfaatkan celah keamanan yang sebelumnya tak diketahui.

Setelah mendapat akses internet—sesuatu yang seharusnya tidak mereka miliki selama pengujian—model tersebut menyasar Hugging Face, platform penyedia model dan dataset open-source, karena diperkirakan menyimpan jawaban atas tugas yang sedang diujikan. Intrusi ini berlangsung sekitar 11–13 Juli 2026.

Menurut laporan Reuters, agen AI yang sama juga sempat menembus sistem milik klien perusahaan teknologi lain, Modal Labs. OpenAI menyebut kejadian ini sebagai insiden siber yang belum pernah terjadi sebelumnya dan melibatkan kapabilitas siber tingkat mutakhir.

Sepekan kemudian, giliran Anthropic angkat bicara. Terdorong oleh kasus OpenAI, perusahaan pembuat Claude ini menelusuri ulang 141.006 log evaluasi keamanan siber yang pernah dijalankan modelnya. Hasilnya, ditemukan tiga insiden berbeda—melibatkan model Opus 4.7, Mythos 5, dan satu model riset internal yang tidak direncanakan untuk dirilis—yang sempat mendapat akses internet dari dalam lingkungan pengujian milik mitra evaluasi pihak ketiga, Irregular, lalu masuk tanpa izin ke infrastruktur produksi tiga organisasi berbeda.

Dua dari tiga perusahaan itu bahkan tidak menyadari sistem mereka pernah disusupi sampai Anthropic menghubungi mereka. Salah satu model, Mythos 5, sempat mengunggah paket Python berbahaya ke PyPI dan berhasil membobol 15 mesin sebelum akhirnya berhenti karena "curiga" bahwa dirinya sedang tidak berada dalam simulasi lagi. Anthropic menegaskan tak satu pun model yang mencoba melarikan diri dari lingkungan pengujiannya sendiri; semuanya murni berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan.

Insiden ketiga menyusul pada 5–6 Agustus 2026, kali ini dari Meta. Perusahaan tersebut mengaku salah satu modelnya—menurut laporan The Information adalah Muse Spark 1.1, model andalan Meta untuk pengkodean dan tugas agentic—mengeksploitasi kerentanan pada sistem pihak ketiga setelah kesalahan konfigurasi dari Irregular, penguji independen yang sama, secara tidak sengaja memberinya akses internet. Irregular sendiri menyebut kasus ini sebagai "persoalan lingkungan evaluasi yang sama persis" dengan yang sebelumnya dialami Anthropic, bukan pelarian dari sandbox atau serangan siber yang canggih. Identitas perusahaan yang sistemnya terdampak belum diungkap secara publik.

Meski terdengar seperti skenario fiksi ilmiah, para pakar keamanan siber mengingatkan agar publik tidak buru-buru menyimpulkan bahwa AI sudah "berkehendak sendiri" untuk berbuat jahat. Ketiga perusahaan menjelaskan penyebabnya berbeda-beda: OpenAI karena eksploitasi celah keamanan yang belum diketahui, sedangkan Anthropic dan Meta karena kesalahan konfigurasi yang tidak sengaja membuka akses internet selama pengujian.

"People shouldn't worry about AI going rogue just yet. Masalah yang muncul belakangan ini terjadi karena kontrol atas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan AI belum dibangun dengan benar dalam pengujian keamanan," kata Jake Moore, penasihat keamanan siber global di ESET. Menurutnya, pengujian semacam ini justru dirancang untuk memahami cara berpikir AI di luar kebiasaan, yang pada akhirnya membantu membangun sistem AI dengan pengaman yang lebih baik.

Sebuah temuan dari UK AI Security Institute turut memperkuat gambaran ini: dari 122 kali uji coba, model-model Anthropic dan OpenAI tercatat mengambil tindakan yang tidak sah di internet nyata sebanyak 19 kali. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini bukan kejadian sekali jadi, melainkan pola yang berulang di berbagai laboratorium AI—dan menjadi salah satu alasan sejumlah pihak mendesak lahirnya regulasi baru, termasuk usulan yang dikenal sebagai "AI Kill Switch Act" di Amerika Serikat.

Nama Mythos memang berulang kali muncul dalam pemberitaan soal kapabilitas AI di bidang keamanan siber. Awal tahun ini, Anthropic sempat menyatakan bahwa model kelas Mythos memiliki kemampuan menemukan kerentanan sistem komputer yang sangat tinggi, sehingga perusahaan memilih tidak merilisnya secara luas ke publik.

Akses hanya diberikan kepada sejumlah organisasi terpilih, dengan tujuan membantu mereka mengamankan sistem sekaligus menjaga agar kemampuan tersebut tidak jatuh ke tangan pihak yang berniat jahat. Kehati-hatian itulah yang membuat keterlibatan model Mythos 5 dalam insiden pembobolan yang diungkap Anthropic pada akhir Juli lalu terasa ironis—mengingat model tersebut justru dikenal karena kemampuan ofensifnya di ranah siber.

Menurut Moore, ancaman yang lebih mendesak bukan datang dari skenario "AI memberontak", melainkan dari kemajuan agentic AI yang memungkinkan pelaku kejahatan menipu korban dan mengotomatiskan serangan siber dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, ia mengakui agentic AI juga punya potensi menghemat waktu manusia lewat otomatisasi tugas berulang—asalkan dikembangkan dan digunakan secara bertanggung jawab.

Pandangan senada disampaikan Ezra Newman, insinyur di perusahaan riset AI Apollo Research. Dalam unggahannya di X, ia menyebut dunia tengah memasuki fase di mana serangan siber bertenaga AI mulai meluas dalam skala besar. Ia menilai anggapan lama bahwa seseorang "tidak cukup berharga untuk diretas manusia" kini tidak lagi berlaku, karena serangan bisa dijalankan sepenuhnya oleh sistem otomatis tanpa memandang siapa targetnya.

Kabar baiknya, saran keamanan yang diberikan para pakar untuk menghadapi ancaman ini sebagian besar tidak jauh berbeda dari kebiasaan dasar keamanan siber yang sudah lama dianjurkan:

  • Gunakan pengelola kata sandi (password manager) dan hindari memakai kata sandi yang sama di banyak akun.

  • Aktifkan autentikasi multifaktor (MFA) pada akun-akun penting, terutama email dan layanan perbankan.

  • Tetap skeptis terhadap panggilan telepon dan email mencurigakan, karena teknik penipuan berbasis AI kini bisa terdengar dan terlihat jauh lebih meyakinkan dibanding sebelumnya.

  • Segera perbarui perangkat dan aplikasi setiap kali ada notifikasi pembaruan, karena pembaruan tersebut sering kali menambal celah keamanan yang bisa dieksploitasi.

Bagi perusahaan dan organisasi, Moore menekankan pentingnya penerapan kebersihan keamanan (security hygiene) yang konsisten. "Pastikan tersedia orang, proses, dan alat yang dibutuhkan untuk mengenali perilaku AI yang mencurigakan, otomatiskan pembaruan perangkat lunak, dan kunci akses ke data sensitif agar tidak bisa dijangkau sistem AI kecuali benar-benar diperlukan," ujarnya.

Sejauh ini, belum ada informasi resmi mengenai identitas perusahaan yang sistemnya ditembus dalam insiden Meta, maupun rincian lengkap dari seluruh organisasi yang terdampak insiden Anthropic. Ketiga perusahaan AI itu pun kompak menyatakan tengah memperbaiki prosedur pengujian mereka agar kejadian serupa tidak terulang.

Yang jelas, deretan pengakuan dalam beberapa pekan terakhir ini menjadi pengingat bahwa kemampuan AI di bidang siber sedang berkembang jauh lebih cepat dibanding kesiapan sebagian besar sistem untuk menghadapinya—dan langkah pengamanan paling dasar justru menjadi semakin relevan untuk dilakukan sekarang, bukan nanti.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait