Ternyata Anjing Bisa "Baca" Raut Wajah Kita, Bukan Cuma Kebetulan

Pernah nggak sih kamu merasa anjingmu tahu persis kapan kamu sedang sedih atau lagi bete? Ternyata itu bukan perasaanmu saja. Penelitian terbaru dari Universitas Wina, Austria, membuktikan bahwa otak anjing memang punya cara khusus untuk membedakan ekspresi wajah manusia — dan buktinya bukan cuma dari perilaku, tapi langsung dari isi kepala mereka.
Selama ini kita sudah tahu anjing bisa merespons tawa, cemberut, atau tangisan pemiliknya. Yang belum jelas adalah apa yang sebenarnya terjadi di otak mereka saat itu. Nah, penelitian yang dipimpin Raúl Hernández-Pérez dan timnya inilah yang akhirnya coba menjawab pertanyaan itu, lewat pemindaian otak langsung.
Cara mereka meneliti ini cukup unik. Peneliti merekrut 14 ekor anjing yang sudah terbiasa bersosialisasi dengan manusia maupun sesama anjing. Sebagian besar border collie — sebanyak 11 ekor — ditambah dua golden retriever dan satu labrador. Beberapa dari anjing-anjing ini bahkan sudah berpengalaman ikut penelitian serupa sebelumnya, jadi mereka sudah terlatih diam saat masuk mesin pemindai.
Pemiliknya sendiri jadi relawan tanpa dibayar sepeser pun. Anjingnya yang jadi bintang penelitian.
Setelah dilatih diam dan memakai headphone pelindung telinga di dalam mesin, barulah pemindaian dimulai. Metode yang dipakai adalah fMRI, singkatan dari functional magnetic resonance imaging — semacam pemindaian yang bisa memperlihatkan bagian otak mana yang paling aktif saat itu juga. Anjing-anjing itu bebas keluar dari sesi kapan saja kalau memang tidak nyaman, tapi supaya hasil pemindaiannya valid, mereka perlu bertahan minimal enam menit di dalam mesin.
Selama sesi berlangsung, para anjing diperlihatkan foto wajah orang dengan berbagai ekspresi: bahagia, marah, takut, dan sedih.
Ini bagian yang paling menarik. Ketika melihat wajah bahagia, dua area di otak anjing langsung "menyala" — korteks temporal dan nukleus kaudatus. Yang pertama berhubungan dengan pemrosesan kognitif tingkat tinggi, sementara yang kedua berkaitan dengan sistem penghargaan atau reward di otak.
Tapi untuk emosi-emosi negatif seperti marah, sedih, dan takut, ceritanya sedikit berbeda. Wilayah otak yang aktif tidak semencolok saat melihat wajah bahagia. Meski begitu, hasil analisisnya tetap menunjukkan pola aktivitas otak yang berbeda-beda untuk tiap emosi negatif tersebut. Artinya, otak anjing bisa membedakan antara wajah orang yang takut dan wajah orang yang marah, misalnya — bukan cuma menyortir "ini baik" atau "ini buruk" secara umum.
"Manusia memang jago menangkap detail-detail kecil di wajah, dan ternyata anjing juga," kata Hernández-Pérez dalam keterangannya. Menurutnya, dengan mempelajari otak anjing, kita bisa memahami adaptasi seperti apa yang berkembang di balik kemampuan sosial dan emosional mereka yang luar biasa terhadap manusia.
Ada dugaan menarik soal kenapa hasil penelitian ini bisa semenonjol itu: mayoritas anjing yang diteliti adalah border collie. Ras ini memang terkenal jago membaca isyarat sosial dan lebih sering memperhatikan gerak-gerik manusia dibanding ras lain.
Karena itu, tim peneliti bilang kemungkinan border collie punya kemampuan lebih tinggi dalam menafsirkan ekspresi wajah manusia dibanding ras anjing lainnya. Tapi ini masih dugaan awal. Penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk memastikan apakah memang ada perbedaan perilaku dan pola otak antar-ras anjing dalam hal ini.
Ini penting digarisbawahi. Sekadar melihat foto wajah manusia dan otaknya bereaksi, bukan berarti anjing benar-benar mengalami emosi seperti yang dirasakan manusia. Foto diam cuma satu potongan kecil dari cerita yang jauh lebih besar.
Di kehidupan nyata, anjing nggak cuma mengandalkan wajah kita. Mereka juga membaca bahasa tubuh, nada suara, bahkan penciuman mereka yang superjeli bisa mendeteksi ketika manusia sedang stres. Jadi kemampuan "membaca" manusia pada anjing itu sebenarnya gabungan dari banyak indra sekaligus, bukan cuma soal wajah.
Ada juga faktor lain yang bisa memengaruhi respons anjing terhadap ekspresi wajah kita: suasana hati mereka sendiri saat itu. Seperti kata Dr. Zoe Parr-Cortes, mantan dokter hewan bedah, kepada NPR, respons anjing bisa berubah tergantung suasana hatinya di momen tersebut, atau bahkan bagaimana kondisi hidupnya secara umum saat itu.
Penelitian ini menguatkan sesuatu yang selama ini mungkin sudah kamu rasakan sendiri: anjing memang punya kepekaan sosial yang tinggi terhadap manusia, dan itu bukan sekadar mitos atau perasaan pemiliknya saja. Ada dasar biologis di baliknya, meski penelitian soal ini masih terus berkembang.
Yang jelas, hubungan anjing dan manusia memang unik. Nggak banyak spesies lain yang punya kemampuan sedekat ini dalam memahami emosi manusia lewat wajah. Riset semacam ini pelan-pelan membantu kita mengerti kenapa anjing pantas disebut sahabat terbaik manusia — bukan cuma karena setia, tapi juga karena otaknya memang "dirancang" untuk memahami kita.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda