Breaking
Memuat breaking news...

Sungai Eufrat dan Tigris Terancam Kering pada 2040, Ini Fakta di Baliknya

Redaksi
Redaksi
Rabu, 5 Agustus 2026 - 4.12 PM WIB
Sungai Eufrat dan Tigris Terancam Kering pada 2040, Ini Fakta di Baliknya
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Dua sungai yang selama ribuan tahun menopang lahirnya peradaban manusia di Timur Tengah kini menghadapi ancaman nyata: kering total dalam beberapa dekade ke depan. Sungai Eufrat dan Tigris, yang mengalir melintasi Turki, Suriah, hingga Irak, mengalami penyusutan debit air yang begitu drastis sehingga pemerintah Irak sendiri sudah mengeluarkan peringatan resmi soal nasibnya.

Kawasan di antara kedua sungai ini dikenal sejarah sebagai Mesopotamia—tanah subur yang oleh para arkeolog diakui sebagai tempat lahirnya peradaban pertama di dunia. Dari sanalah kota-kota kuno seperti Uruk dan Babilonia pernah berdiri megah, jauh sebelum wilayah itu menjadi bagian dari Irak modern.

Fakta di lapangan cukup mengkhawatirkan. Laporan resmi Kementerian Sumber Daya Air Irak pada 2021 menyebut sistem sungai Eufrat-Tigris berpotensi kering kerontang pada 2040 jika tren saat ini terus berlanjut. Penyebab utamanya kombinasi antara perubahan iklim, pola curah hujan yang makin tidak menentu, dan pembangunan bendungan di hulu sungai—terutama di wilayah Turki—yang membuat pasokan air ke hilir semakin berkurang.

Citra satelit turut memperkuat gambaran krisis ini. Pemantauan yang dilakukan sepanjang 2003 hingga 2013 mencatat sekitar 144 kilometer kubik air tawar lenyap dari cekungan Eufrat-Tigris—setara nyaris separuh dari rata-rata aliran air tahunan sistem sungai ini pada tahun-tahun kering. Sebagian keilangan air tersebut berasal dari eksploitasi air tanah, sebagian lagi dari kekeringan yang dipicu perubahan iklim.

Ancaman ini bukan sekadar isu lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sekitar 60 juta jiwa di Turki, Suriah, dan Irak menggantungkan kebutuhan air mereka pada sistem sungai Eufrat-Tigris, baik untuk konsumsi rumah tangga, irigasi pertanian, maupun pembangkit listrik tenaga air. Di Suriah misalnya, Eufrat selama ini menjadi sumber sebagian besar kebutuhan air untuk sektor pertanian negara tersebut.

Kalau debit air terus merosot, dampaknya bukan cuma soal ketersediaan air minum. Lahan pertanian bisa terancam gagal panen, turbin pembangkit listrik di sejumlah bendungan berisiko berhenti beroperasi karena permukaan air sudah di bawah ambang minimum, dan ketegangan sosial-ekonomi antarwilayah yang memperebutkan sisa air berpotensi meningkat.

Ini pula yang membuat sejumlah pihak, termasuk lembaga internasional, memperingatkan bahwa krisis air di kawasan ini bisa memicu gelombang perpindahan penduduk dalam skala besar.

Di luar aspek ilmiah, mengeringnya Sungai Eufrat juga menarik perhatian karena sering dikaitkan dengan salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang dikenal luas di kalangan umat Islam. Dalam riwayat Sahih Muslim nomor 2894, disebutkan bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat menyingkap gunung emas, yang kemudian diperebutkan manusia hingga menimbulkan pertumpahan darah.

Penting dicatat, ini adalah dua hal yang berbeda sifatnya. Data soal penyusutan debit air dan proyeksi kekeringan pada 2040 merupakan temuan ilmiah yang bisa diverifikasi lewat citra satelit dan laporan pemerintah.

Sementara kaitannya dengan hari kiamat adalah keyakinan keagamaan yang dipegang sebagian umat Islam berdasarkan riwayat hadis, bukan sesuatu yang bisa dibuktikan atau dibantah secara ilmiah. Keduanya berjalan pada ranah yang berbeda, meski sama-sama muncul dalam perbincangan publik belakangan ini seiring makin nyatanya fenomena penyusutan sungai tersebut.

Yang pasti, dari sisi lingkungan, krisis air di Eufrat dan Tigris adalah persoalan yang butuh penanganan serius dari negara-negara yang dilintasinya—bukan sekadar isu jangka panjang yang bisa ditunda pembahasannya.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait