Breaking
Memuat breaking news...

SK Hynix vs Samsung: Kenapa Skema Buyback Lebih Dipercaya Pasar?

Redaksi
Redaksi
Selasa, 25 Agustus 2026 - 7.27 AM WIB
SK Hynix vs Samsung: Kenapa Skema Buyback Lebih Dipercaya Pasar?
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Dividen Terbesar Sepanjang Sejarah Samsung Justru Bikin Saham Chip Memori Rontok

Samsung baru saja menyetujui pengembalian dana ke pemegang saham terbesar sepanjang sejarah perusahaan — namun alih-alih disambut positif, kabar ini justru memicu penurunan saham di hampir seluruh sektor chip memori dunia pada Senin.

Angka Rekor yang Tetap Mengecewakan Pasar

Dewan direksi Samsung menyetujui pengembalian dana ke pemegang saham untuk tahun 2026 senilai 90 triliun hingga 110 triliun won — sekitar lima kali lipat dari rekor sebelumnya. Angka sebesar ini dimungkinkan karena bisnis memori Samsung sedang mencetak laba tertinggi sepanjang sejarahnya: laba operasional kuartal kedua melonjak 19 kali lipat dibanding tahun sebelumnya, didorong permintaan memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI).

Namun, alih-alih naik, saham Samsung justru anjlok 8,7 persen di Bursa Seoul pada Senin — hari pertama pasar Korea bereaksi setelah pengumuman ini dirilis usai penutupan perdagangan Jumat. Indeks Kospi ikut turun lebih dari 3 persen.

Menurut laporan The Korea Herald, pasar sebenarnya berharap angka pengembalian dana bisa mencapai 150 triliun won — jauh di atas batas atas 110 triliun won yang akhirnya diumumkan Samsung. Ukuran nominal yang "hanya" lima kali rekor sebelumnya ternyata tak cukup memuaskan ekspektasi investor.

Bukan Sekadar Soal Besaran, tapi Soal Kepastian

Struktur skema pembayaran menjadi masalah yang lebih besar dibanding besaran angkanya. Rencana Samsung dimulai dengan sekitar 30 triliun won dividen tunai pada kuartal ketiga, sebagai bagian dari komitmen mengembalikan 50 persen arus kas bebas yang dihasilkan sepanjang periode 2024-2026.

Masalahnya, sisa dari total pengembalian dana ini — termasuk kemungkinan pembelian kembali saham (buyback) dan pembatalan saham — baru akan diputuskan dalam rapat dewan direksi pada Januari mendatang, setelah hasil kinerja tahun 2026 rampung. Investor menginginkan kepastian rincian buyback dan pembatalan saham sekarang, bukan janji rincian yang baru akan diumumkan kemudian.

Perbandingan menarik datang dari SK Hynix, kompetitor Samsung di bisnis memori, yang pada sesi perdagangan sama justru hanya turun 3,4 persen — kurang dari separuh penurunan Samsung. Pekan sebelumnya, SK Hynix telah mengumumkan program buyback senilai 40 triliun won, dengan komitmen bahwa setiap saham yang dibeli kembali akan langsung dibatalkan. Komitmen pembatalan saham yang jelas dan cepat ternyata lebih dipercaya pasar dibanding janji dana tunai yang ditunda.

Bukan Soal Suku Bunga

Untuk saham-saham produsen memori yang tercatat di bursa Amerika Serikat, ada satu tersangka yang bisa hampir dipastikan bukan penyebabnya: suku bunga. Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang memang sempat menekan saham global beberapa pekan terakhir — imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun bahkan sempat menembus 5,3 persen pekan lalu, level tertinggi dalam hampir 20 tahun.

Namun pada hari Senin itu, kondisinya justru berbeda. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun 3 basis poin ke sekitar 4,7 persen, dan obligasi bertenor 30 tahun juga melunak. Imbal hasil justru turun, tapi saham-saham produsen memori tetap ambruk — tanda bahwa penyebabnya bukan di sana.

Keraguan Investor terhadap Keberlanjutan Boom AI

Penjelasan yang lebih masuk akal terlihat dari kondisi keseluruhan sektor chip. Investor yang mencurigai siklus boom memori sudah mendekati puncaknya menginginkan komitmen dana tunai sekarang juga, lewat buyback yang benar-benar mengurangi jumlah saham beredar — karena mereka meragukan seberapa besar laba yang bisa dihasilkan di tahun-tahun akhir siklus boom ini. Pengembalian dana rekor yang justru menunda kepastian sampai Januari tidak menjawab keraguan tersebut.

Hasil kinerja Sandisk menjadi contoh nyata dari keraguan ini. Pendapatan perusahaan itu memang melonjak 372 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 8,97 miliar dolar AS pada kuartal fiskal keempat yang berakhir 3 Juli — namun sekitar dua pertiga dari pertumbuhan 51 persen secara kuartalan itu berasal dari kenaikan harga, bukan volume penjualan.

Panduan kinerja mereka untuk kuartal berikutnya memproyeksikan pendapatan 10,3 miliar hingga 10,8 miliar dolar AS — pertumbuhan sekitar 18 persen di titik tengah, jauh melambat dibanding 51 persen sebelumnya. Segmen pendapatan konsumen — bagian bisnis yang paling mudah ditinggalkan pembeli saat harga naik — bahkan turun 32 persen secara kuartalan menjadi 556 juta dolar AS, atau turun 5 persen dibanding tahun lalu.

Ini bukan keruntuhan, melainkan perlambatan. Harga memang masih naik, dan pendapatan masih diproyeksikan tumbuh. Tapi bisnis yang dua pertiga pertumbuhannya berasal dari kenaikan harga akan melambat cepat begitu harga mulai stabil.

Valuasi saham Sandisk mencerminkan keraguan pasar ini: saat artikel ini ditulis, sahamnya berada di sekitar 1.500 dolar AS, sekitar 37 persen di bawah puncaknya pada Juni sebesar 2.354,39 dolar AS, dengan rasio harga terhadap perkiraan laba (forward P/E) hanya sekitar 7 kali — rasio serendah itu menandakan pasar sudah mengasumsikan proyeksi laba di baliknya akan dikoreksi turun.

Dua Sisi dari Cerita yang Sama

Pada akhirnya, pengembalian dana rekor dan aksi jual saham ini sebenarnya menceritakan hal yang sama dari dua sisi berbeda. Perusahaan-perusahaan di industri memori mengembalikan dana tunai dalam jumlah rekor karena boom permintaan memang sedang menghasilkan keuntungan besar — bahkan Sandisk sendiri menambah otorisasi buyback-nya sebesar 14 miliar dolar AS bulan ini.

Namun investor terus menuntut kepastian dana itu lebih cepat, dalam bentuk buyback dan komitmen tertulis, karena mereka meragukan berapa lama boom ini akan bertahan. Penurunan saham pada Senin lebih mencerminkan keraguan itu, bukan soal besaran dividen semata — dan pengumuman pengembalian dana sebesar apa pun tidak akan bisa menjawab keraguan tersebut dengan sendirinya.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait