Saham Teknologi dan Chip AI Rontok, Investor Mulai Tuntut Bukti UntungSaham Teknologi dan Chip AI Rontok, Investor Mulai Tuntut Bukti Untung

QAPLO - Pesta kenaikan saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di Wall Street tampaknya mulai usai. Setelah sempat mendorong pasar saham Amerika Serikat ke level tertinggi sepanjang masa sebulan lalu, saham-saham yang berkaitan dengan AI justru menjadi kelompok dengan kinerja terburuk di indeks S&P 500 pekan lalu.
Data pekan lalu menunjukkan indeks S&P 500 turun 1,6%, sementara Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi anjlok lebih dalam, 4,1%. Tekanan paling berat justru dialami saham-saham produsen chip: indeks Philadelphia Stock Exchange Semiconductor merosot 10% dalam sepekan, penurunan terburuk sejak April 2025.
Bukan Cuma Chip, SpaceX Ikut Terseret
Sektor chip bukan satu-satunya yang tertekan. Dalam dua pekan beruntun, saham SpaceX — perusahaan roket dan satelit milik Elon Musk — kehilangan sekitar seperempat nilainya: turun 10% pada pekan sebelumnya, lalu berlanjut anjlok 15% pekan lalu. Akumulasi penurunan ini cukup dalam sampai membuat harga sahamnya jatuh di bawah harga penawaran umum perdana (IPO), sekaligus menghapus sekitar US$1 triliun dari nilai pasar perusahaan dibanding titik tertingginya.
"Investor mulai merasa tidak nyaman dengan jumlah uang yang dibelanjakan dan mereka khawatir akan adanya gelembung. Pada akhirnya, kita perlu melihat percepatan kembali dalam pendapatan," kata Jake Seltz, manajer portofolio di Allspring Global Investments, dikutip dari Yahoo Finance, Senin (20/7/2026).
Musim Laporan Keuangan Jadi Ujian Sesungguhnya
Kegelisahan pasar ini muncul tepat menjelang musim laporan keuangan kuartalan perusahaan teknologi besar AS. Tesla dan Alphabet (induk Google) dijadwalkan lebih dulu melapor pada Rabu ini, disusul Microsoft, Meta Platforms, Apple, dan Amazon pekan berikutnya. Nvidia baru akan merilis laporannya bulan depan.
Enam perusahaan itu bukan pemain kecil — gabungan kapitalisasi pasarnya menyumbang sekitar seperempat dari total nilai pasar S&P 500. Artinya, bagaimana kinerja mereka dilaporkan pekan-pekan ini berpotensi menggerakkan arah pasar saham AS secara keseluruhan, bukan cuma harga saham mereka sendiri.
Yang membuat situasi ini terasa tidak biasa: indeks yang melacak kinerja kelompok "Magnificent Seven" — julukan untuk tujuh emiten teknologi raksasa AS yang selama sekitar empat tahun terakhir jadi motor utama penggerak pasar — kini justru tertinggal dari kinerja S&P 500 sepanjang tahun ini. Kondisi semacam ini terbilang langka mengingat posisi dominan kelompok saham tersebut selama bertahun-tahun terakhir.
Sorotan Terbesar Ada di Alphabet
Perhatian pasar pekan ini paling banyak tertuju pada Alphabet, yang selama ini dipandang sebagai salah satu pemenang perlombaan AI berkat popularitas chatbot Gemini, pengembangan chip pusat data sendiri, dan ekspansi bisnis komputasi awan (cloud). Ambisi itu tidak murah: tahun ini belanja modal (capital expenditure/capex) Alphabet diperkirakan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$187 miliar, sehingga perusahaan ini pun makin mengandalkan penerbitan utang dan saham baru untuk membiayai ekspansinya — pola pembiayaan yang kini juga ditempuh sejumlah emiten teknologi lain.
Kegelisahan investor bertambah setelah muncul laporan bahwa Gemini 3.5 Pro, model AI andalan terkuat Alphabet, tertinggal beberapa bulan dari jadwal peluncuran yang direncanakan. Sahamnya anjlok 6,5% hanya dalam dua sesi perdagangan terakhir. Meski begitu, saham Alphabet masih mencatat kenaikan 11% sepanjang tahun ini, kendati sudah turun 14% dari level puncaknya pada Mei.
Bagaimana Nasib Emiten Teknologi Lain?
Tidak semua anggota kelompok ini bernasib sama, dan sebagian justru lebih buruk dari Alphabet. Microsoft baru saja mencatat bulan terburuknya sejak tahun 2000, dengan saham ambles 19% sepanjang 2026. Saham Meta Platforms melemah tipis sepanjang tahun, meski sempat menguat pada Juli berkat optimisme rencana perusahaan menyewakan kapasitas komputasinya ke pihak lain.
Di sisi lain, Amazon dan Nvidia justru masih mencatat kenaikan tahun berjalan masing-masing 7,1% dan 8,8%. Hanya saja, kenaikan keduanya tetap kalah dibanding pertumbuhan indeks Nasdaq 100 secara umum — tanda investor kini lebih selektif memilah saham teknologi mana yang masih pantas dipertahankan.
Pergerakan di Wall Street ini bukan sekadar berita pasar modal Amerika yang jauh dari keseharian. Saham-saham seperti Nvidia, Microsoft, Alphabet, dan Amazon menjadi komponen utama banyak reksa dana global dan indeks saham dunia yang juga dibeli investor Indonesia, baik lewat reksa dana maupun produk investasi berbasis saham global. Ketika saham-saham ini bergejolak, dampaknya bisa ikut terasa pada nilai portofolio investor di luar AS.
Pola yang terlihat dari pergerakan harga pekan lalu cukup jelas: pasar mulai menuntut bukti konkret bahwa belanja besar-besaran untuk AI benar-benar berbuah pendapatan, bukan lagi cukup dengan janji dan proyeksi masa depan.
"Pada titik tertentu, laba dipertanyakan sedemikian rupa sehingga Anda tidak bisa memberikan kelipatan setinggi itu pada saham-saham ini. Akan ada lebih banyak fokus pada margin kotor cloud, harga, dan berapa banyak pendapatan AI yang dihasilkan untuk setiap dolar komputasi," kata Todd Ahlsten, chief investment officer di Parnassus Investments. Yang dimaksud "kelipatan" di sini adalah rasio harga saham terhadap laba perusahaan — semakin tinggi rasio ini dipertahankan pasar, semakin besar pula ekspektasi pertumbuhan laba yang harus dipenuhi perusahaan ke depan.
Laporan keuangan yang akan diumumkan dalam dua pekan ke depan pada akhirnya menjadi ujian nyata bagi klaim itu: apakah investasi AI yang begitu masif benar-benar berbuah pendapatan, atau justru mengonfirmasi kekhawatiran soal gelembung yang selama ini mengintai di balik euforia pasar.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda