Saham AMD Anjlok Meski Kinerja Kuartal II Lampaui Ekspektasi, Investor Minta Bukti Nyata dari Bisnis AI

Advanced Micro Devices (AMD) merilis kinerja kuartal kedua 2026 yang sebenarnya mengalahkan hampir semua ekspektasi analis Wall Street. Tapi sahamnya justru anjlok sekitar 8 sampai 9 persen dalam perdagangan setelah jam bursa AS, Selasa (4/8/2026) waktu New York, begitu perusahaan chip asal California itu merilis laporan keuangannya.
Penyebabnya bukan soal performa kuartal yang baru lewat, melainkan proyeksi untuk kuartal ketiga yang dianggap investor kurang agresif. AMD memperkirakan pendapatan kuartal ketiga sekitar 13 miliar dolar AS, plus minus 300 juta dolar.
Angka ini sebenarnya di atas rata-rata perkiraan analis yang berada di kisaran 12,5 miliar dolar. Masalahnya, sejumlah proyeksi Wall Street—menurut data yang dihimpun Bloomberg—jauh lebih optimistis lagi, bahkan ada yang menembus 14 miliar dolar.
Kalau dilihat dari sisi hasil kuartal kedua, sulit menyebut kinerja AMD buruk. Pendapatan naik 50 persen dari tahun sebelumnya menjadi 11,5 miliar dolar AS, melampaui perkiraan analis. Laba per saham non-GAAP tercatat 1,66 dolar, juga di atas estimasi.
Yang paling mencolok, pendapatan divisi pusat data (data centre)—unit bisnis yang menjual chip untuk melatih dan menjalankan software kecerdasan buatan—lebih dari dua kali lipat menjadi 6,7 miliar dolar, tumbuh 107 persen dari tahun lalu dan kini menyumbang lebih dari separuh total pendapatan perusahaan.
Reaksi pasar yang tetap negatif meski hasil kuartal ini kuat sebenarnya bukan hal aneh buat AMD. Perusahaan ini punya rekam jejak: laporan keuangannya lebih sering disambut penurunan saham ketimbang kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, bahkan di saat-saat AMD berhasil mengalahkan estimasi Wall Street.
Pola ini mencerminkan ekspektasi investor yang sudah terlanjur sangat tinggi terhadap saham AMD, yang tahun ini sempat melonjak lebih dari dua kali lipat, jauh mengungguli penguatan pasar saham AS secara umum.
Lonjakan ekspektasi ini tidak lepas dari langkah AMD sendiri. Bulan lalu, dalam ajang Advancing AI Summit di San Francisco, CEO AMD Lisa Su memperkenalkan sejumlah produk baru yang diklaim perusahaan bakal mengungguli tawaran Nvidia, termasuk sistem rak server generasi baru bernama Helios. Su sekaligus merevisi naik proyeksi pasar chip akselerator AI global, dari sebelumnya sekitar 500 miliar dolar AS menjadi 1,4 triliun dolar AS pada 2030—bagian dari total pasar komputasi yang diperkirakan tembus 2 triliun dolar pada tahun yang sama.
Sikap yang makin agresif inilah yang justru mengerek ekspektasi investor semakin tinggi, sehingga hasil kuartal kedua yang sebenarnya kuat pun terasa "kurang" di mata pasar.
Analis Jacob Bourne dari lembaga riset EMARKETER menilai AMD sudah cukup mapan sebagai pemasok utama kedua di pasar chip akselerator AI setelah Nvidia. Namun menurutnya, pertanyaan besar yang belum terjawab adalah apakah AMD mampu terus mengejar Nvidia di pasar infrastruktur AI yang lebih luas—bukan cuma soal chip, tapi keseluruhan sistem dan ekosistem software pendukungnya. Bourne menyebut AMD tengah bertransformasi dari sekadar penantang chip menjadi pesaing infrastruktur AI secara utuh.
Selain chip akselerator AI (GPU), AMD juga memproduksi prosesor tujuan umum atau CPU—segmen di mana perusahaan ini pelan-pelan mengejar ketertinggalannya dari Intel yang sudah lama jadi pemimpin pasar.
Jenis chip generalis ini justru mengalami kebangkitan di pusat data, karena tetap dibutuhkan untuk mendukung operasional layanan AI meski bukan komponen utama untuk pelatihan model.
Laporan AMD ini muncul menjelang akhir musim rilis kinerja kuartalan perusahaan-perusahaan teknologi. Kinerja kuat dari pelanggan maupun pesaing AMD, termasuk Intel, sempat menambah ekspektasi pasar terhadap laporan AMD sendiri.
Belanja modal untuk pusat data memang sedang tumbuh pesat—menurut estimasi analis Bernstein, belanja modal gabungan para pemilik pusat data terbesar dunia diperkirakan naik hingga di atas 1 triliun dolar AS pada 2027.
Tapi ledakan pembangunan pusat data AI ini juga punya efek samping yang mulai terasa di luar industri chip AI itu sendiri. Permintaan yang meledak sudah memicu kelangkaan chip memori secara global, yang berimbas pada produsen komputer pribadi (PC), ponsel pintar, dan perangkat elektronik lain.
Kelangkaan ini mendorong harga naik dan pasokan PC menyusut—termasuk untuk AMD sendiri, yang justru masih mengandalkan pasar PC sebagai segmen dengan volume penjualan terbesarnya. Bagi konsumen di Indonesia, dampak tidak langsung dari tren ini biasanya terasa lewat kenaikan harga laptop dan komponen komputer, mengingat rantai pasok chip memori memang bersifat global.
Belum ada keterangan resmi dari AMD soal berapa besar dampak kelangkaan memori ini terhadap margin bisnis PC-nya ke depan.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda