Setiap perceraian punya cerita sendiri yang rumit. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, riset selama beberapa dekade menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: alasan orang bercerai ternyata mengikuti pola yang cukup konsisten, di mana pun dan kapan pun penelitian itu dilakukan.

Perselingkuhan dan Komitmen yang Rapuh

Salah satu penelitian paling sering dirujuk adalah karya Paul Amato dan Denise Previti pada 2003, menggunakan data proyek Marital Instability Over the Life Course. Mereka meminta orang-orang yang telah bercerai menjelaskan sendiri, dengan kata-kata mereka, apa penyebab perceraiannya. Jawaban yang paling sering muncul: perselingkuhan, ketidakcocokan, konsumsi alkohol atau narkoba, dan hubungan yang perlahan menjauh.

Pola serupa terlihat dalam survei skala besar terhadap lebih dari 2.000 orang di Oklahoma pada 2001. Kali ini respondennya memilih dari daftar alasan, bukan menjawab bebas. Tiga besarnya: kurangnya komitmen, terlalu banyak konflik, dan perselingkuhan. Menikah terlalu muda, kurang persiapan pranikah, dan masalah keuangan menyusul di belakang.

Ada benang merah menarik di sini. Amato dan Previti menemukan bahwa orang yang menikah di usia muda lebih sering menyebut "ketidakcocokan" sebagai alasan perceraian mereka — seolah usia muda membuat orang belum benar-benar tahu siapa pasangannya.

Siapa yang Disalahkan? Biasanya Bukan Diri Sendiri

Ini bagian yang cukup manusiawi dari temuan-temuan tersebut: orang cenderung menganggap mantan pasangannya yang lebih bertanggung jawab atas kegagalan pernikahan.

Amato dan Previti mencatat 33 persen responden menyalahkan mantan pasangan, sementara hanya sekitar 5 persen yang menyalahkan diri sendiri. Survei Oklahoma menunjukkan kecenderungan yang sama: 73 persen merasa sudah cukup keras berusaha mempertahankan pernikahan, sementara 74 persen menilai justru mantan pasangan mereka yang seharusnya berusaha lebih keras.

Angka-angka ini menunjukkan sesuatu yang penting: di luar persoalan objektif dalam rumah tangga, ada juga pertarungan persepsi soal siapa yang "gagal" mempertahankan hubungan.

Alasan Perceraian Tak Selalu Sama dengan Pemicu Terakhirnya

Penelitian Shelby Scott, Galena Rhoades, Scott Stanley, Elizabeth Allen, dan Howard Markman pada 2013 membedah hal yang jarang dibahas: perbedaan antara "alasan perceraian" dan "pemicu terakhir" — peristiwa spesifik yang akhirnya membuat seseorang benar-benar mengambil langkah pisah.

Alasan perceraian yang paling sering disebut tetap seputar kurangnya komitmen, perselingkuhan, dan konflik. Tapi pemicu terakhirnya justru lebih tajam: perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, dan penyalahgunaan zat. Dengan kata lain, masalah yang menggerogoti pernikahan selama bertahun-tahun belum tentu sama dengan kejadian yang jadi titik pecah terakhirnya.

Perempuan Lebih Sering Menyebut Kekerasan

Ada perbedaan mencolok berdasarkan gender dalam laporan soal kekerasan. Penelitian Johnson dan rekan-rekannya menemukan bahwa meski alasan yang dikemukakan pria dan perempuan umumnya mirip, perempuan jauh lebih sering menyebut kekerasan dalam rumah tangga sebagai alasan utama berpisah — 44 persen perempuan berbanding hanya 8 persen laki-laki. Perempuan juga cenderung lebih sering menjadi pihak yang menyatakan keinginan untuk berpisah, temuan yang konsisten muncul di penelitian Amato-Previti maupun studi lainnya.

Usia Lanjut, Pola Tetap Serupa

Jangan berasumsi pola ini hanya berlaku untuk pasangan muda. Laporan AARP tahun 2004, berdasarkan survei nasional terhadap orang dewasa berusia 40 tahun ke atas, menemukan alasan utama yang tak jauh berbeda: perlakuan kasar (verbal, fisik, maupun emosional), perbedaan nilai dan gaya hidup, serta perselingkuhan. Sebagian responden bahkan menyebut sekadar "hilangnya rasa cinta" tanpa ada satu persoalan spesifik yang bisa ditunjuk. Bertambahnya usia, rupanya, tidak mengubah banyak pola dasar penyebab kegagalan pernikahan.

Ketika Komunikasi Berhenti Total

Penelitian Alan Hawkins, Brian Willoughby, dan William Doherty pada 2012 punya sudut pandang berbeda: mereka mewawancarai 886 orang tua di Hennepin County, Minnesota, saat masih menjalani proses perceraian — bukan bertahun-tahun setelahnya. Dua alasan paling sering muncul di sini adalah hubungan yang menjauh dan ketidakmampuan berkomunikasi.

Ada temuan menarik lain dari studi ini: orang yang menyebut "menjauh", "beda selera", atau "masalah keuangan" sebagai alasan perceraian justru paling kecil kemungkinannya mempertimbangkan untuk membatalkan proses cerai. Sebaliknya, kekerasan dan perselingkuhan tidak menunjukkan hubungan yang sama dengan besar-kecilnya keinginan seseorang untuk rujuk.

Soal Keinginan Punya Anak: Masih Sebatas Dugaan

Di luar temuan-temuan riset formal di atas, belakangan muncul dugaan bahwa perbedaan keinginan memiliki anak semakin jadi sumber konflik dalam pernikahan modern — seiring perubahan sosial yang membuat momongan tak lagi otomatis jadi konsekuensi pernikahan.

Tapi penting digarisbawahi: ini baru dugaan, bukan temuan riset yang mapan. Belum ada cukup bukti untuk menyejajarkannya dengan faktor-faktor yang sudah berulang kali terbukti dalam penelitian — perselingkuhan, konflik, kurangnya komitmen, atau kekerasan.

Kurangnya komitmen, perselingkuhan, konflik berkepanjangan, ketidakcocokan, hubungan yang menjauh, masalah komunikasi, penyalahgunaan zat, dan kekerasan — tema-tema ini terus berulang lintas penelitian, lintas dekade, lintas kelompok usia. Tapi ada satu pelajaran yang mungkin lebih penting dari daftar alasan itu sendiri: penyebab memburuknya sebuah pernikahan tidak selalu sama dengan peristiwa yang akhirnya mengakhirinya. Sebuah hubungan bisa bermasalah bertahun-tahun sebelum akhirnya pecah karena satu kejadian yang jadi titik baliknya.

Mempertahankan pernikahan bukan tanggung jawab satu pihak saja. Ketika kedua pasangan sama-sama mau berinvestasi, berkomunikasi, dan memperbaiki kesalahan, peluang untuk bertahan jadi lebih besar. Sebaliknya, ketika hanya satu pihak yang terus berjuang sendirian, masalah yang sebenarnya masih bisa diperbaiki berisiko berkembang menjadi alasan untuk berpisah.