QAPLO – Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam, Kalimantan Timur, Raden Roro Rani Meita Pratiwi, menjelaskan bahwa kecemasan dalam menghadapi dinamika di tempat kerja harus dikelola dengan baik agar kesehatan
QAPLO – Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam, Kalimantan Timur, Raden Roro Rani Meita Pratiwi, menjelaskan bahwa kecemasan dalam menghadapi dinamika di tempat kerja harus dikelola dengan baik agar kesehatan mental dan produktivitas tetap terjaga.
Menurut Rani, kecemasan di lingkungan kerja umumnya dipicu oleh ketidakpastian yang dialami karyawan, mulai dari kekhawatiran kehilangan pekerjaan, perubahan kebijakan perusahaan, hingga tekanan ekonomi yang semakin meningkat.
“Kecemasan sering dipicu oleh ketidakpastian, seperti kekhawatiran bahwa posisi pekerjaan tidak aman, perubahan aturan, atau tekanan ekonomi,” ujar Rani di Samarinda pada Sabtu.
Ia menjelaskan bahwa selain faktor pekerjaan, kecemasan juga dapat disebabkan oleh rutinitas yang monoton, kurangnya apresiasi di tempat kerja, serta persoalan pribadi yang terbawa ke lingkungan pekerjaan.
Rani mengingatkan para pekerja agar waspada ketika kecemasan mulai memengaruhi kondisi mental. Tanda-tandanya dapat berupa sering merasa lelah, kehilangan fokus, merasa jenuh, hingga meningkatnya sensitivitas emosional saat berinteraksi dengan rekan kerja.
“Ketika seseorang menjadi mudah tersinggung atau terlalu sensitif terhadap lingkungan sekitar, hal itu bisa menjadi tanda kelelahan mental,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kecemasan berbeda dengan stres biasa. Stres biasanya memiliki penyebab yang jelas dan akan mereda setelah masalah tersebut terselesaikan, sementara kecemasan lebih berkaitan dengan pikiran negatif tentang kejadian di masa depan yang belum pasti terjadi.
Untuk mengurangi kecemasan, Rani menyarankan agar pekerja tidak memaksakan diri menyelesaikan semua masalah sekaligus. Fokus pada tugas yang sedang dihadapi dinilai lebih efektif untuk menjaga kestabilan emosi.
Selain itu, ketika rasa panik muncul, pekerja disarankan untuk memperlambat gerakan dan mengatur napas secara bertahap guna menurunkan detak jantung serta ketegangan tubuh.
“Kesadaran untuk tetap fokus pada kondisi saat ini sangat penting. Kekhawatiran berlebihan terhadap hal-hal yang belum pasti hanya akan merampas kebahagiaan,” katanya.
Rani juga menyarankan agar masyarakat rutin melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki. Menurutnya, olahraga ringan membantu tubuh memproduksi hormon kebahagiaan dan menjadi cara sehat untuk menyegarkan pikiran.
Di lingkungan kerja, ia menilai karyawan perlu terbuka menerima kritik dan segera memperbaiki kesalahan, bukan hanya meminta maaf tanpa adanya perbaikan nyata.
Rani menambahkan bahwa ketahanan mental dan pengembangan diri secara berkelanjutan merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian hidup dan lingkungan kerja modern.