Breaking
Memuat breaking news...

Perang AS-Iran Tekan Pasar, IHSG Berpotensi Tertahan di Rentang 6.000-6.220

Qaplo
Qaplo
Jumat, 17 Juli 2026 - 10.19 AM WIB
Perang AS-Iran Tekan Pasar, IHSG Berpotensi Tertahan di Rentang 6.000-6.220
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak melemah terbatas sepanjang perdagangan Jumat, didorong aksi ambil untung atau profit taking — ketika investor menjual saham yang sudah untung untuk mengunci keuntungan sebelum akhir pekan, biasanya karena kekhawatiran sentimen negatif berlanjut di hari perdagangan berikutnya.

Proyeksi pelemahan ini berlaku untuk potensi arah sepanjang hari, bukan patokan pembukaan: pagi ini IHSG justru dibuka menguat tipis 4,63 poin atau 0,08 persen ke posisi 6.112,84, sementara indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan naik 0,31 poin atau 0,05 persen ke posisi 608,89.

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000-6.220," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Tekanan terhadap pasar domestik tidak lepas dari situasi di Timur Tengah yang terus memanas. Amerika Serikat melanjutkan serangan ke Iran dengan tujuan melemahkan kemampuan militer negara itu, sementara Iran membalas dengan menyasar pangkalan AS di Kuwait dan Yordania. Teheran juga dilaporkan meminta sekutunya, kelompok Houthi di Yaman, untuk terus menutup akses di Selat Hormuz — salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia.

Dampaknya langsung terasa pada arus perdagangan energi global. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz turun dari 9,4 juta barel menjadi 5,5 juta barel per hari, mendorong harga minyak melonjak cepat. Pada penutupan perdagangan Kamis (16/7), harga minyak WTI berada di 79,55 dolar AS per barel dan Brent di 84,23 dolar AS per barel.

"Pelaku pasar dan investor mungkin akan menghadapi masa-masa sulit, terutama bagi IHSG dan pasar obligasi untuk bisa bangkit kembali. Selain itu, probabilitas kenaikan tingkat suku bunga The Fed kami melihat berpotensi meningkat dengan cepat, apabila harga energi tidak bisa dikendalikan akibat perang tersebut," ujar Nico.

Kaitan antara perang di Timur Tengah dan kebijakan bank sentral AS ini sebenarnya sederhana. Harga minyak yang melonjak mendorong biaya energi naik di berbagai sektor, dari transportasi hingga manufaktur, yang pada akhirnya mengerek inflasi. Ketika inflasi naik, The Fed cenderung menahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan agar harga-harga tidak makin liar — dan suku bunga AS yang tinggi biasanya membuat investor global menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, termasuk dari IHSG.

Pergerakan bursa dunia semalam turut mencerminkan kegugupan pasar. Bursa Eropa bergerak variatif, dengan Euro Stoxx 50 menguat 0,25 persen dan FTSE 100 Inggris menguat 0,54 persen, sementara DAX Jerman melemah 0,34 persen dan CAC 40 Prancis melemah 0,05 persen. Di Wall Street, ketiga indeks utama kompak melemah pada Kamis (16/7): S&P 500 turun 0,51 persen ke 7.533,77, Nasdaq Composite anjlok 1,62 persen ke 29.025,77, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,20 persen ke 52.552,97.

Bursa Asia pagi ini juga mayoritas tertekan. Indeks Nikkei Jepang ambles 4,22 persen ke 64.016,00, Shanghai melemah 1,50 persen ke 3.823,95, dan Shenzhen turun 3,20 persen ke 14.024,53. Hanya indeks Hang Seng Hong Kong yang bergerak berlawanan arah dengan menguat 1,55 persen ke 24.602,00, sementara Strait Times Singapura melemah tipis 0,38 persen ke 5.518,77. Pelemahan yang cukup dalam di Nikkei dan bursa China menandakan kekhawatiran investor Asia terhadap eskalasi konflik ini tidak kalah besar dibanding di Wall Street.

Gejolak pasar global akibat konflik AS-Iran bukan satu-satunya sorotan hari ini. Rupiah yang berpotensi tertekan akibat sentimen global turut relevan bagi utang luar negeri (ULN) Indonesia yang sebagian besar berdenominasi dolar AS — semakin lemah rupiah, semakin berat beban pembayaran utang dalam nilai riil.

Bank Indonesia melaporkan ULN Indonesia per Mei 2026 mencapai 462,4 miliar dolar AS, atau setara hampir Rp8.000 triliun dengan asumsi kurs sekitar Rp17.300 per dolar AS — tumbuh 2,1 persen secara tahunan. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di kisaran 30,6 persen, dengan 84,6 persen di antaranya berupa utang berjangka panjang, sehingga risiko pembiayaan kembali atau refinancing risk — yaitu risiko kesulitan memperpanjang atau membayar utang yang jatuh tempo — relatif terjaga.

Menurut Nico, struktur ULN yang didominasi utang jangka panjang dengan rasio terhadap PDB yang relatif rendah membuat kondisi utang Indonesia masih tergolong sehat, meski pemerintah tetap mengandalkan pembiayaan eksternal untuk mendukung APBN dan pembangunan. Namun ia mengingatkan, pelemahan rupiah dan suku bunga global yang tinggi berpotensi menambah beban pembayaran utang ke depan. "Selama dana utang digunakan untuk sektor produktif dan disiplin fiskal tetap terjaga, kenaikan ULN diperkirakan belum menjadi risiko signifikan bagi stabilitas ekonomi Indonesia," ujarnya.

Dengan dua tekanan yang datang bersamaan — konflik geopolitik yang mengerek harga energi dan potret utang luar negeri yang baru dirilis BI — investor domestik tampaknya perlu mencermati pergerakan IHSG hari ini secara lebih hati-hati dari biasanya, terutama menjelang akhir pekan yang biasanya rawan aksi ambil untung.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait