Breaking
Memuat breaking news...

Musim Panas yang Terpanas dalam 2.000 Tahun Terakhir, Terungkap dari Cincin Batang Pohon

Redaksi
Redaksi
Senin, 3 Agustus 2026 - 9.51 AM WIB
Musim Panas yang Terpanas dalam 2.000 Tahun Terakhir, Terungkap dari Cincin Batang Pohon
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Tanda pemanasan global tidak hanya terlihat dari data satelit. Jejaknya tersimpan di batang pohon.

Para peneliti menemukan indikasi mengkhawatirkan lewat analisis lingkaran pertumbuhan pohon yang merekam perubahan suhu Bumi selama ribuan tahun. Hasilnya, 2023 tercatat sebagai periode terpanas setidaknya dalam 2.000 tahun terakhir.

Studi ini dipimpin Ulf Buntgen dari University of Cambridge bersama tim. Mereka meneliti perubahan suhu Bumi dalam kurun 2.000 tahun terakhir dengan cara menganalisis cincin pertumbuhan pada batang pohon, yakni pola lingkar yang terlihat pada potongan batang, untuk merekonstruksi catatan suhu masa lalu.

"Jika melihat sejarah dengan sangat panjang, Anda bisa lihat betapa luar biasanya pemanasan global di periode sekarang. 2023 adalah tahun yang sangat panas, tren ini akan terus berlanjut jika gas rumah kaca tidak dikurangi secara besar-besaran," kata Buntgen, dikutip Minggu (2/8/2026).

IFL Science menjelaskan besar lingkar pohon menggambarkan kondisi lingkungan yang dialami pohon pada periode tertentu. Pada area dengan sumber air berlimpah, perbedaan lingkar akan memperlihatkan perbedaan suhu satu tahun dengan tahun lainnya dengan lebih jelas. Saat suhu hangat dan cukup air, pohon tumbuh lebih cepat dan cincinnya lebih lebar. Sebaliknya saat dingin atau kering, cincin menyempit.

Dengan membandingkan ribuan sampel dari Belahan Bumi Utara sejak era Kekaisaran Romawi, tim bisa membangun kalender suhu yang jauh lebih panjang dari catatan instrumen modern yang baru ada sejak 1850-an.

Analisis ini menunjukkan beberapa periode ekstrem dalam 2.000 tahun terakhir.

Cuaca paling dingin terjadi pada tahun 536, yang sering disebut sebagai salah satu tahun terburuk untuk hidup. Suhu musim panas kala itu tercatat 3,93 derajat Celcius lebih rendah dari musim panas 2023. Pemicunya diduga letusan gunung berapi besar yang menutup sinar matahari.

Kenaikan temperatur di awal revolusi industri juga jauh lebih rendah dari sekarang. Musim panas 2023 tercatat lebih panas 2,07 derajat Celcius dibandingkan rata-rata 1850-1900.

Di sinilah letak problemnya untuk Perjanjian Paris 2015.

Perjanjian itu menetapkan batas kenaikan 1,5 derajat dan menghitung 2023 lebih panas 1,52 derajat Celcius dari 1850-1900. Namun dengan metode cincin pohon yang mencakup 2 milenium, Buntgen dan timnya menemukan angkanya jauh lebih tinggi, mencapai 2,2 derajat Celcius. Artinya, batas yang disepakati sebenarnya sudah terlampaui lebih awal dari yang kita kira.

"Betul iklim selalu berubah, tetapi pemanasan pada 2023, yang disebabkan oleh gas rumah kaca dan diperparah oleh El Nino, menyebabkan gelombang panas dan periode kekeringan yang lebih panjang. Ini menunjukkan sangat penting untuk segera mengurangi emisi gas rumah kaca," kata Jan Esper dari Johannes Gutenberg University Mainz, rekan penulis studi tersebut.

Temuan ini bukan soal memprediksi kiamat. Tapi jadi pengingat bahwa apa yang terjadi sekarang tidak normal dalam skala sejarah yang panjang. Tanpa pemotongan emisi besar-besaran, 2023 bukan puncak, melainkan awal dari tren yang lebih panas.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait