Bagi pecinta kopi, ada kekhawatiran yang terus menghantui: benarkah kopi mengganggu kesehatan? Apalagi kalau kopinya dicampur gula. Namun menurut dr. Hans dalam kanal SB30 Health, yang perlu diwaspadai bukan cuma kopi pakai gula. Ada jenis-jenis kopi lain yang tidak disadari banyak orang, padahal berbahaya buat kesehatan.

Pertama, kenali dulu jenis kopi yang umum dikonsumsi di Indonesia: kopi tubruk atau kopi hitam yang paling klasik, kopi susu seperti cappuccino dan cafe latte, kopi instan (dari 3-in-1 sampai yang tanpa ampas), kopi decaf yang kafeinnya dikurangi, hingga kopi kekinian dengan aneka flavoring, perisa, sirup, dan boba.

Tiga manfaat besar kopi menurut studi

Sebelum membahas bahayanya, dr. Hans memaparkan tiga manfaat kopi yang ia kelompokkan dari sejumlah studi. Pertama, kesehatan jantung. Ia mengutip ulasan berjudul "Impact of Coffee Consumption on Cardiovascular Health" yang terbit di Ochsner Journal pada 2023, yang menyimpulkan konsumsi kopi dalam jumlah sedang berkaitan dengan penurunan risiko kematian, hipertensi, gagal jantung, dan fibrilasi atrium. Klaim ini terverifikasi: ulasan tersebut memang ada dan memang mencatat hubungan berbentuk J — konsumsi sedang bermanfaat, konsumsi berat justru berisiko.

Kedua, kesehatan liver. Studi tahun 2016 yang ia rujuk menunjukkan kopi bisa menurunkan enzim hati seperti SGOT/SGPT (AST/ALT) yang menjadi indikator masalah pada hati. Ini juga terkonfirmasi: sejumlah penelitian 2016 memang melaporkan hubungan terbalik antara konsumsi kopi dan kadar enzim hati, terutama pada individu berisiko penyakit hati.

Ketiga, kanker kolorektal. Di sini perlu sedikit diluruskan: studi 2020 yang paling dikenal di bidang ini (terbit di JAMA Oncology) meneliti hubungan konsumsi kopi dengan kelangsungan hidup pasien kanker kolorektal stadium lanjut atau metastatik — bukan pencegahan kanker pada orang sehat. Adapun bukti bahwa kopi mencegah kanker usus besar pada populasi umum masih belum konsisten antarstudi.

Lalu kenapa kopi bisa jadi tidak sehat?

Menurut dr. Hans, masalahnya bukan pada kopinya, melainkan pada empat hal.

Pertama, bahan tambahan. Gula tambahan segala jenis — gula pasir, gula aren, gula coklat, gula batu — efeknya ke tubuh hampir sama, bedanya tipis. Selain itu ada creamer, termasuk yang berlabel "nabati" agar terdengar sehat, yang menurutnya kerap berasal dari lemak buatan atau terhidrogenasi. Perlu dicatat, tidak semua creamer masa kini masih memakai minyak terhidrogenasi parsial karena banyak produsen telah mereformulasi produknya. Sirup dan perisa — karamel, green tea, sirup tinggi fruktosa — juga termasuk bahan yang perlu diwaspadai, terutama pada kopi-kopi kekinian.

Kedua, proses pengolahan. Kopi yang tidak disaring (unfiltered) seperti kopi tubruk yang diminum beserta ampasnya, bila dikonsumsi sering setiap hari, berpotensi mengganggu kesehatan. Ini didukung ilmu pengetahuan: biji kopi mengandung senyawa cafestol dan kahweol yang terbukti menaikkan kolesterol LDL, dan filter kertas mampu menahan sebagian besar senyawa tersebut — persis seperti yang juga dicatat dalam ulasan Ochsner 2023. Solusinya menurut dr. Hans: saring kopi, misalnya secara manual dengan V60.

Ketiga, kopi instan. Proses pengolahannya terlalu panjang dan ditambahi bahan pengawet serta bahan-bahan lain, sehingga kurang baik untuk dikonsumsi rutin.

Keempat, jumlah. Apapun yang baik kalau dikonsumsi berlebihan jadi tidak baik. Patokannya menurut dr. Hans: lebih dari tiga cangkir per hari sudah kebanyakan, dengan satu cangkir sekitar 180 ml.

Yang terkandung dalam kopi yang benar

Kopi dari biji yang benar mengandung kafein yang bisa meningkatkan mood dan performa olahraga. Perlu dipahami: kafein bukan menambah energi, melainkan merangsang sistem saraf sehingga tubuh terasa lebih aktif. Ada juga asam klorogenat (chlorogenic acid) yang bersifat antiinflamasi dan disebut bisa menurunkan tekanan darah.

Soal tekanan darah, dr. Hans meluruskan anggapan umum: kenaikan tekanan darah setelah minum kopi hanya bersifat sementara, terutama pada orang yang jarang minum kopi. Pada peminum kopi rutin, tekanan darah justru bisa turun karena fungsi endotelium pembuluh darah membaik. Ditambah kandungan mangan, magnesium, dan kalium, kopi dari sumber yang tepat disebutnya punya banyak manfaat untuk tubuh.

Kapan waktu minum kopi yang baik?

Ini bagian yang menarik: dr. Hans tidak bicara soal jam, melainkan timing — karena setiap orang punya ritme sirkadian yang berbeda, tergantung kebiasaan tidur, makan, dan olahraga. Ada tiga momen yang ia sarankan.

Pertama, 1–2 jam setelah bangun tidur. Alasannya: saat bangun tidur kadar kortisol masih tinggi, dan kopi punya efek menaikkan kortisol. Minum kopi saat kortisol sedang tinggi-tingginya disebut bisa membuat kelenjar adrenal "overwhelm" atau letih. Perlu dicatat, saran ini populer di kalangan praktisi kesehatan tetapi bukti ilmiahnya masih terbatas, dan "adrenal fatigue" sendiri bukan diagnosis medis yang diakui.

Kedua, setelah makan — terutama bagi yang punya masalah acid reflux atau asam lambung yang gampang naik, agar tetap bisa mendapat manfaat kopi tanpa memicu lambung.

Ketiga, saat jam puasa dalam intermittent fasting. Menurutnya kopi (tanpa gula dan tanpa kalori berarti) tidak membatalkan puasa, bahkan bisa meningkatkan kewaspadaan karena merangsang sistem saraf.

Penutup

Kesimpulannya: kopi itu sendiri bukan musuh. Yang membuatnya berbahaya adalah gula dan bahan tambahan di dalamnya, cara pengolahan yang tidak disaring, produk instan yang ultra-proses, serta jumlah yang berlebihan. Pilih kopi yang benar, takar dengan tepat, dan minum di waktu yang tepat — maka secangkir kopi bisa menjadi kawan kesehatan, bukan lawan.

Catatan redaksi: Artikel ini adalah rangkuman video dr. Hans di kanal SB30 Health; pandangan di dalamnya adalah pendapat narasumber. Studi-studi yang dikutip (Ochsner Journal 2023 soal jantung, studi 2016 soal enzim hati, JAMA Oncology 2020 soal kanker kolorektal, serta literatur cafestol/kahweol dan kolesterol) telah dicek dan dinyatakan dengan kualifikasi seperlunya. Klaim soal timing kopi dan kortisol/adrenal, serta komposisi creamer, ditandai sebagai pandangan narasumber yang bukti ilmiahnya terbatas atau perlu konteks tambahan.