Breaking
Memuat breaking news...

Mengenal Bougainville, Calon Negara Baru di Dekat Indonesia yang Punya Tradisi Mirip Minangkabau

Redaksi
Redaksi
Minggu, 16 Agustus 2026 - 6.49 AM WIB
Mengenal Bougainville, Calon Negara Baru di Dekat Indonesia yang Punya Tradisi Mirip Minangkabau
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Peta politik Pasifik bakal berubah dalam beberapa tahun ke depan. Bougainville, wilayah otonom di Papua Nugini yang letaknya tak jauh dari Indonesia, tengah bersiap menjadi negara merdeka pada 2030. Menariknya, wilayah ini punya sistem kekerabatan yang mengingatkan pada tradisi matrilineal Minangkabau di Sumatra Barat.

Jalan Menuju Kemerdekaan

Presiden Bougainville, Ishmael Toroama, menyatakan bahwa langkah menuju kemerdekaan ini berpijak pada Perjanjian Perdamaian Bougainville (Bougainville Peace Agreement), Bagian XIV Konstitusi Papua Nugini, serta rangkaian kesepakatan pascareferendum 2019.

Pada 25 Juli 2026, Bougainville Independence Leaders Consultation Forum merekomendasikan tanggal 1 September 2030 sebagai hari deklarasi kemerdekaan. Mulai tahun depan, Bougainville sudah akan memasuki fase pemerintahan yang lebih mandiri sebagai tahap transisi menuju status negara penuh.

Fakta-Fakta Menarik Bougainville

Wilayah kepulauan dengan populasi ratusan ribu jiwa. Bougainville terdiri dari dua pulau utama, Bougainville Island dan Buka Island, ditambah sejumlah pulau kecil dan atol di sekitarnya. Wilayah yang terletak di sisi timur Papua Nugini ini dihuni sekitar 367 ribu jiwa, mayoritas berasal dari kelompok etnis Melanesia.

Namanya berasal dari penjelajah Prancis. Nama Bougainville diambil dari Louis-Antoine de Bougainville, seorang prajurit sekaligus navigator Prancis yang memimpin pelayaran keliling dunia pada 1766–1769. Ekspedisi itu membawanya melintasi Pasifik hingga mendekati kawasan New Guinea, dan namanya kemudian melekat pada pulau tersebut.

Perempuan pemegang kendali warisan. Seperti masyarakat Minangkabau yang dikenal sebagai komunitas matrilineal terbesar di dunia, masyarakat Bougainville juga menganut sistem serupa. Hak atas tanah dan garis keturunan diwariskan lewat pihak perempuan.

Harta seperti sawah dan rumah jatuh ke anak perempuan, anak-anak menyandang nama keluarga ibu, dan laki-laki yang menikah justru berkedudukan sebagai "tamu" di rumah istrinya. Perempuan pun memegang peran sentral dalam keputusan soal tanah, keluarga, hingga urusan klan.

Topi Upe sebagai penanda dewasa. Salah satu identitas budaya khas Bougainville adalah topi anyaman berbentuk silinder bernama Upe, yang bahkan tergambar di bendera dan lambang wilayah ini. Topi ini dikenakan pemuda selama menjalani ritual inisiasi menuju kedewasaan — sebuah proses yang berlangsung berbulan-bulan di hutan.

Selama masa itu, ada pantangan khusus: perempuan dilarang melihat wajah pemuda yang sedang mengenakan Upe.

Punya sejumlah spot wisata. Bagi yang tertarik menjelajah, Bougainville menawarkan destinasi seperti Selat Buka, lokasi jatuhnya pesawat Laksamana Yamamoto, Gunung Balbi, Gunung Bagana, hingga perhelatan Festival Mona.

Catatan redaksi: Sebagian data populasi dan destinasi wisata dalam artikel ini mengutip informasi dari DetikTravel dan Beautynesia sebagaimana disebutkan dalam bahan sumber.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait