Membeli mobil dalam kondisi second memang menggiurkan — harga lebih murah dengan model yang mungkin sudah tidak diproduksi baru. Namun ada tiga ciri fatal yang, sekali terlihat, mobilnya sebaiknya langsung ditinggalkan. Sekalipun dijual dengan harga sangat murah, kerusakannya hampir pasti berkelanjutan: diperbaiki yang ini, muncul yang itu — tidak akan selesai-selesai. Berikut tiga kriterianya.

1. Mesin berlumpur (sludge oli)

Langkah pertama saat mengecek mobil bekas: buka tutup pengisian oli di bagian mesin. Kalau terlihat lumpur atau sludge tebal, langsung putar balik — tidak perlu pikir dua kali, mobil ini wajib ditinggalkan.

Sludge oli tidak harus berasal dari oli palsu; oli asli pun bisa menjadi seperti ini. Penyebabnya adalah pemilik sebelumnya yang kurang perawatan — malas ganti oli. Aturannya jelas: maksimal 5.000 km atau 6 bulan pemakaian, mana yang tercapai lebih dulu. Banyak yang berdalih "kilometernya belum lengkap", lalu baru ganti setahun-dua tahun sekali. Itu justru yang salah.

Bisakah diperbaiki dengan flushing? Tidak, kalau sludge-nya sudah menebal dan berkerak. Produk flushing mesin di pasaran hanya untuk sludge tipis yang belum berkerak. Kalau cairan flushing dimasukkan ke mesin yang sudah berkerak tebal, kotoran yang terkelupas justru menjadi gumpalan-gumpalan yang menutup lubang-lubang HLA (hydraulic lash adjuster) — saluran yang menyuplai oli ke seluruh mesin. Jalur buntu berarti oli tidak sampai, dan suara mesin malah menjadi lebih kasar dari sebelumnya. Obat satu-satunya untuk sludge tebal adalah bongkar mesin dan membersihkannya satu per satu — biaya yang tentu tidak murah.

2. Kilometer putaran

Ini sudah tidak ada debat lagi. Sejumlah showroom masih memutar kilometer agar terlihat lebih rendah demi menarik calon pembeli. Kasus paling parah yang pernah ditemui: kilometer aslinya sudah hampir 200.000, diputar menjadi 15.000. Padahal kondisi mobilnya masih rapi karena pemiliknya merawatnya dengan baik — tetapi angka odometernya sudah dimanipulasi.

Bahaya pemutaran kilometer terletak pada standar ketahanan part mesin yang semuanya dihitung berdasarkan kilometer. Contoh paling riskan: timing belt yang harus diganti di kisaran 100.000 km. Bayangkan pembeli mengira kilometernya baru 50.000–70.000 dan merasa masih aman, padahal aslinya sudah di atas 100.000. Dipakai sebulan-dua bulan, timing belt putus. Dicek ke bengkel resmi — Mitsubishi, Toyota, Nissan, atau Suzuki — ternyata record-nya sudah 100.000 lebih. Sangat mengecewakan bagi pembeli.

Cara mengeceknya bisa dengan scan, tetapi yang paling worth it adalah mengecek lewat aplikasi bengkel resmi untuk melihat riwayat servis sebenarnya.

3. Bekas laka berat, terutama yang kena sasis

Bekas kecelakaan biasanya dihindari kalau sudah menyentuh sasis — misalnya sasis berlipat akibat tabrakan depan. Sasis yang sudah bengkok lalu diketok-ketok, dipotong, dan dilas ulang tentu tingkat kekuatannya sudah berbeda dari aslinya. Ini menyangkut keamanan dan kenyamanan mobil, sehingga tidak direkomendasikan.

Namun tidak semua bekas laka harus ditolak. Kecelakaan ringan masih bisa ditoleransi: misalnya insiden parkir yang menabrak tembok atau pagar, atau pintu yang penyok termasuk tulangannya. Yang harus dihindari adalah tabrakan besar — apalagi sampai mobil terguling, pilar A atau pilar C sudah diganti, dan terlebih lagi kalau kecelakaan itu sampai menimbulkan korban jiwa di dalam mobil.

Penutup

Tiga ciri di atas — mesin berlumpur, kilometer putaran, dan bekas laka berat — adalah rambu merah yang tidak bisa ditawar. Sekali menemukannya, tinggalkan mobilnya meski harganya menggiurkan. Mobil bekas yang baik masih banyak; jangan sampai tergiur murah lalu terjebak biaya perbaikan yang tidak ada habisnya.