Breaking
Memuat breaking news...

Listrik RI Harus Nambah 1.500 MW Demi Kejar AI, Ini Tantangannya

Qaplo
Qaplo
Kamis, 23 Juli 2026 - 6.21 PM WIB
Listrik RI Harus Nambah 1.500 MW Demi Kejar AI, Ini Tantangannya
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

QAPLO - Target ekonomi tumbuh 8 persen yang dipatok pemerintah punya konsekuensi langsung: kebutuhan listrik Indonesia akan melonjak drastis. Apalagi industri pusat data dan kecerdasan buatan yang sedang booming dikenal sangat rakus daya.

Isu itu mengemuka dalam acara Energy Management Launch yang digelar Indosat Ooredoo Hutchison di Jakarta, Kamis 23 Juli 2026.

Director & Chief Business Officer IOH, M. Danny Buldansyah, mengatakan ambisi pertumbuhan itu tidak akan tercapai tanpa pasokan energi yang kuat. Tantangannya makin berat karena AI butuh daya jauh lebih besar dari industri konvensional.

"Apalagi sekarang kita melihat era pusat data dan komputasi AI yang sangat menguras energi," kata Danny.

Menurut perhitungannya setelah berdiskusi dengan pemain AI global dan penyedia data center, Indonesia butuh tambahan setidaknya 1.500 megawatt listrik hanya untuk menopang perkembangan AI dalam dua tahun ke depan. Angka itu diperkirakan setara dengan kebutuhan satu pembangkit besar atau konsumsi satu provinsi.

Padahal, di atas kertas Indonesia punya modal untuk jadi hub AI. Lahan luas tersedia, talenta digital melimpah, dan biaya operasional disebut lebih murah dibanding Singapura atau Malaysia.

Senior VP Head of IoT & Big Data IOH, Melvin Jeffrey Chan, menyebut 68 persen listrik di Indonesia masih bergantung pada batu bara. Ketergantungan ini membuat sistem kelistrikan rentan dan tidak efisien.

Gangguan listrik juga masih memicu masalah berantai, mulai dari risiko kebakaran akibat korsleting hingga kerugian finansial saat operasional berhenti mendadak.

"Jika tidak ada pemantauan real-time dan manajemen energi masih reaktif, banyak biaya terbuang hanya karena kegagalan fasilitas dan downtime," ujar Melvin.

Untuk menjawab itu, Indosat menawarkan solusi Energy Management berbasis AI dan IoT dengan pendekatan full-stack. Artinya, semua terintegrasi dalam satu platform.

Sistemnya bekerja tiga lapis. Pertama sensor dan meteran pintar di lapangan. Kedua, IoT gateway yang terhubung jaringan Indosat untuk mengirim data. Ketiga, platform analitik AI yang mengubah data itu menjadi peringatan dini dan dashboard prediktif.

"Menghubungkan semua meter, sensor, aset ini, mengubah data waktu nyata menjadi wawasan berbasis AI," jelas Melvin.

Menurut Indosat, solusi ini sudah diterapkan di beberapa kasus. Contohnya pemantauan daya penerangan jalan pintar dan pemantauan utilitas gedung yang diklaim mampu menekan biaya energi hingga 30 persen. Ada juga pemantauan genset, transformator, dan baterai dari jarak jauh.

Jika tambahan 1.500 MW untuk AI tidak disiapkan, Indonesia berisiko kehilangan investasi pusat data ke negara tetangga.

Bagi industri, manajemen energi yang buruk berarti tagihan bengkak dan risiko operasional berhenti. Melvin mengklaim sistemnya bisa memberikan penghematan energi 10 sampai 15 persen dengan balik modal dalam 6 hingga 15 bulan.

Ia juga menyebut sistem tersebut diklaim mampu memprediksi hingga 40 persen potensi gangguan sebelum terjadi, sehingga kerusakan bisa dicegah sebelum listrik benar-benar padam.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait