Breaking
Memuat breaking news...

Krisis Chip AI Mulai Berdampak, Harga HP Baru Diproyeksikan Naik Signifikan

Qaplo
Qaplo
Senin, 22 Juni 2026 - 9.04 AM WIB
Krisis Chip AI Mulai Berdampak, Harga HP Baru Diproyeksikan Naik Signifikan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

QAPLO - Kenaikan harga telepon seluler pintar atau smartphone di pasar Indonesia tampaknya sulit dihindari dalam beberapa waktu ke depan. Para produsen kini tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga komponen utama, khususnya memori (DRAM) dan ruang penyimpanan (NAND Flash), yang dipicu oleh tingginya permintaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di tingkat global.

Berdasarkan analisis dari CCS Insight, komponen memori berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap total biaya produksi sebuah ponsel. Ketika harga komponen ini merangkak naik, biaya produksi secara otomatis ikut membengkak.

Penyebab Utama: Rebutan Chip dengan Industri AI

Lonjakan harga memori ini terjadi karena pabrik-pabrik semikonduktor raksasa dunia seperti Samsung Device Solutions, SK Hynix, Micron, Nanya, Winbond, hingga PSMC, mulai mengalihkan kapasitas produksi mereka. Perusahaan-perusahaan tersebut kini lebih memprioritaskan pembuatan komponen untuk kebutuhan pusat data (data center) dan teknologi AI yang dinilai jauh lebih menguntungkan secara bisnis.

Akibat pengalihan fokus produksi ini, pasokan komponen untuk perangkat konsumen seperti smartphone dan laptop menjadi semakin langka. Hukum pasar pun berlaku: pasokan yang menipis di tengah permintaan yang stabil membuat harga komponen melambung tinggi.

Data industri menunjukkan harga DRAM pada kuartal pertama tahun 2026 mengalami kenaikan sekitar 93 hingga 98 persen dibanding kuartal sebelumnya (QoQ). Sepanjang tahun 2026, harga DRAM diproyeksikan melonjak hingga 125 persen secara tahunan (YoY), sementara harga NAND Flash diperkirakan melesat hingga 234 persen YoY. Secara akumulatif, kenaikan biaya memori ini mencapai kisaran 130 persen dibandingkan tahun lalu.

Dampak Nyata pada Ponsel Kelas Menengah ke Bawah

Kenaikan harga chipset ini bahkan dilaporkan melonjak hingga dua sampai tiga kali lipat. Dampak paling signifikan diprediksi akan sangat terasa pada segmen ponsel pintar kelas pemula atau entry-level dengan harga di bawah 200 dolar AS (sekitar Rp 3 jutaan).

Ponsel di kelas ini mengalami kenaikan biaya bahan baku atau Bill of Materials (BoM) hingga sekitar 25 persen. Situasi ini memaksa para produsen memutar otak untuk merumuskan strategi baru agar tetap bisa menghadirkan produk yang kompetitif tanpa harus mengorbankan kualitas atau menaikkan harga terlalu ekstrem di mata konsumen.

Pergeseran Perilaku Konsumen di Indonesia

Di tengah situasi ekonomi domestik yang menantang, daya beli masyarakat Indonesia sebenarnya masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat berada di angka 5,61 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap solid.

Mengingat smartphone kini telah bertransformasi menjadi alat penunjang produktivitas utama—mulai dari bekerja, belajar, hingga mencari hiburan—kebutuhan masyarakat terhadap perangkat digital tetap tinggi. Namun, kenaikan harga yang membayangi membuat pola pikir konsumen mulai bergeser.

Membeli ponsel kini tidak lagi sekadar membandingkan spesifikasi di atas kertas dengan harga yang murah. Konsumen mulai melihat pembelian smartphone sebagai investasi jangka panjang. Faktor-faktor seperti durabilitas fisik, jaminan pembaruan sistem operasi, sistem keamanan, kehadiran fitur AI yang relevan, hingga kualitas layanan purnajual kini menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan membeli perangkat baru.

Langkah Produsen Menjaga Kepercayaan Pasar

Menyikapi tantangan rantai pasok ini, sejumlah produsen mulai menerapkan strategi khusus demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan produk. Samsung, misalnya, memanfaatkan kekuatan ekosistem internal mereka melalui divisi Device Solutions yang memproduksi semikonduktor sendiri untuk mengamankan pasokan perangkat keras hingga akhir tahun 2026.

Yadi Prayitno, MX Business Vice President Samsung Electronics Indonesia, menjelaskan bahwa kekuatan rantai pasok internal ini memungkinkan perusahaan untuk tetap menjaga kestabilan harga serta ketersediaan produk yang diharapkan oleh konsumen di tengah krisis chip global.

Selain jaminan pasokan, produsen juga mulai memperpanjang masa pakai perangkat melalui dukungan perangkat lunak yang lebih lama. Langkah ini diambil untuk memberikan nilai tambah bagi konsumen yang harus merogoh kocek lebih dalam. Sebagai contoh, penyediaan pembaruan sistem operasi hingga enam kali serta pembaruan keamanan selama enam tahun kini mulai ditawarkan untuk memastikan perangkat tetap aman dan optimal digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait