Kenapa Port Ethernet Menghilang dari Laptop Zaman Sekarang?Kenapa Port Ethernet Menghilang dari Laptop Zaman Sekarang?

QAPLO - Dulu, menyambungkan laptop ke internet kabel semudah mencolokkan kabel LAN ke lubang persegi panjang di sisi bodi laptop—tanpa perlu memilih nama WiFi, memasukkan kata sandi, atau khawatir koneksi putus-nyambung di tengah unduhan. Namun kini, semakin banyak laptop tipis yang justru tidak lagi dibekali port tersebut. Bahkan port USB-A yang dulu di mana-mana pun mulai jarang ditemukan, apalagi port Ethernet yang ukurannya lebih besar.
Penyebab utamanya sederhana: ukuran. Port Ethernet, lengkap dengan rumah konektornya, bisa memakan ruang lebih dari 13 milimeter di sisi bodi laptop. Sementara itu, kebanyakan laptop tipis (ultrabook) masa kini punya ketebalan sekitar 11 hingga 16 milimeter—itu pun diukur di bagian paling tebal, karena banyak model justru didesain menyempit ke arah depan sehingga bagian tepinya jauh lebih tipis lagi.
Kenapa Port Ethernet Tak Bisa "Diet" Seperti USB
Berbeda dari port USB yang terus berevolusi dari USB-A ke bentuk USB-C yang jauh lebih ramping, port Ethernet terjebak pada satu bentuk konektor bernama RJ45 yang ukurannya tidak berubah selama puluhan tahun. Alasannya, jika ukuran port ini diperkecil, jutaan kabel LAN dan router yang sudah beredar di seluruh dunia otomatis tidak akan lagi cocok dipakai.
Ketika produsen laptop berlomba membuat bodi setipis mungkin—bahkan ada yang bisa diselipkan ke dalam map dokumen—port yang tidak bisa mengecil ini biasanya jadi salah satu komponen pertama yang dikorbankan.
MacBook Air, Awal Mula Tren Laptop Super Tipis
Tren laptop ultra tipis ini banyak dikaitkan dengan kemunculan MacBook Air. Untuk memamerkan betapa tipisnya laptop tersebut, Steve Jobs bahkan menariknya keluar dari amplop cokelat biasa di atas panggung pada Januari 2008. Menariknya, ketebalan MacBook Air generasi pertama itu masih 19 milimeter di bagian paling tebal—artinya, secara teknis Apple sebenarnya masih punya cukup ruang untuk menyelipkan port Ethernet bila mau.
Namun sesuai gaya desain minimalis yang jadi ciri khas Apple, port tersebut termasuk salah satu fitur yang dipangkas sejak awal.
Laptop Windows Sempat Coba Akali dengan Engsel Lipat
Berbeda dari Apple, banyak produsen laptop Windows awalnya enggan langsung melepas port Ethernet karena fungsinya yang masih dianggap penting. Sebagai solusi, sejumlah laptop tipis sempat dibuat dengan jack Ethernet berengsel yang bisa membuka seperti jembatan kecil saat kabel dicolokkan.
Namun desain ini akhirnya ditinggalkan karena dianggap kurang rapi secara tampilan, dan bagian engselnya rawan patah setelah dipakai berkali-kali.
Selain soal desain, menghilangkan port Ethernet juga jadi cara produsen memangkas biaya produksi—laptop yang lebih murah biasanya lebih dulu kehilangan port ini. Namun alasan terbesarnya kemungkinan adalah semakin andalnya jaringan WiFi. Kecepatan WiFi zaman sekarang sudah cukup untuk kebutuhan kebanyakan orang sehari-hari, sehingga port kabel mulai dianggap beban yang tidak perlu.
Kapan Kabel LAN Masih Lebih Unggul dari WiFi?
Meski WiFi sudah cukup andal untuk kebanyakan aktivitas, koneksi kabel tetap punya keunggulan untuk kebutuhan tertentu, misalnya bermain gim daring yang menuntut latensi serendah mungkin—yaitu jeda waktu antara perintah yang ditekan pemain dan respons yang muncul di layar, yang bisa memengaruhi lag atau keterlambatan reaksi dalam permainan.
Karena itu, sebagian orang tetap ingin punya opsi koneksi kabel di laptop mereka, meski laptopnya sendiri sudah tidak dilengkapi port bawaan.
Solusi Praktis: Adaptor, Hub, sampai Docking Station
Solusi paling sederhana adalah adaptor USB-to-Ethernet, yakni dongle kecil yang dicolokkan ke port USB-A atau USB-C, dengan ujung satunya berupa jack RJ45 untuk kabel LAN. Harganya cukup terjangkau, mulai sekitar 30 dolar AS (kira-kira setara Rp490 ribuan dengan kurs saat ini, meski harga aktual di toko lokal bisa berbeda), dan cara pakainya tinggal colok tanpa instalasi rumit. Kebanyakan adaptor semacam ini sudah mendukung kecepatan gigabit penuh, sehingga tidak mengorbankan kecepatan dibanding port Ethernet bawaan.
Bagi yang ingin lebih dari sekadar Ethernet, USB-C hub bisa jadi pilihan karena biasanya sekaligus menambah slot USB tambahan dan output HDMI untuk monitor eksternal, semua lewat satu sambungan kabel. Sementara itu, untuk pengguna yang lebih sering bekerja di satu meja tetap, docking station adalah solusi yang lebih menyeluruh: cukup satu kabel USB-C atau Thunderbolt, dan laptop langsung terhubung ke jaringan kabel, monitor tambahan, sekaligus pengisian daya sekaligus.
Port Ethernet menghilang dari laptop tipis terutama karena ukurannya yang tidak bisa mengecil, berbeda dari USB yang berevolusi menjadi USB-C.
MacBook Air 2008 jadi salah satu pemicu tren laptop super tipis, meski secara teknis Apple masih punya ruang untuk menyelipkan port Ethernet saat itu.
Sejumlah laptop Windows sempat memakai desain jack Ethernet berengsel sebagai solusi sementara, sebelum akhirnya ditinggalkan karena rawan rusak.
Selain soal desain, penghematan biaya produksi dan semakin andalnya WiFi juga jadi alasan utama produsen melepas port ini.
Koneksi kabel tetap unggul untuk kebutuhan latensi rendah seperti gim daring, sehingga adaptor USB-to-Ethernet, USB-C hub, atau docking station jadi solusi praktis bagi yang masih membutuhkannya.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda