Ironi Candu AI di Amerika: Pengguna Melonjak Tajam tapi Mayoritas Cemas Bawa PetakaIroni Candu AI di Amerika: Pengguna Melonjak Tajam tapi Mayoritas Cemas Bawa Petaka

JAKARTA — Adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kehidupan sehari-hari kian tidak terbendung. Riset terbaru dari lembaga survei global Pew Research Center yang dirilis pertengahan Juni 2026 menunjukkan lonjakan masif penggunaan chatbot AI di Amerika Serikat (AS), yang kini telah menjangkau hampir separuh dari populasi orang dewasa di negara tersebut.
Data survei mengungkapkan bahwa 49 persen warga dewasa AS kini aktif menggunakan chatbot AI, meroket dari angka 33 persen pada tahun 2024. Kendati ketergantungan terhadap teknologi ini makin tinggi, riset tersebut menangkap anomali emosional yang cukup tajam. Mayoritas pengguna justru merasa cemas dan menilai kehadiran AI berpotensi membawa dampak buruk bagi tatanan sosial maupun kehidupan pribadi mereka.
Dari Produktivitas Kerja hingga Ruang Dukungan Emosional
Integrasi AI kini meluas mulai dari perangkat rumah tangga pintar—seperti smart speaker, bel pintu pintar, hingga pengatur suhu—hingga penggunaan chatbot interaktif untuk kebutuhan harian. Untuk kategori chatbot, mayoritas warga AS menggunakannya sebagai mesin pencari informasi (42 persen) dan instrumen pembantu tugas profesional atau pekerjaan (38 persen).
Menariknya, pemanfaatan teknologi ini tidak lagi sekadar urusan produktivitas kaku. Sebanyak 25 persen responden memanfaatkannya sebagai sarana hiburan, 24 persen untuk memproduksi atau menyunting konten visual, dan 20 persen guna mencari panduan kesehatan serta kebugaran.
Fenomena yang paling menyita perhatian adalah pergeseran AI ke wilayah privat manusia. Sebanyak 1 dari 10 responden di AS secara terbuka mengaku menggunakan chatbot AI sebagai sarana dukungan emosional (emotional support) dan teman mengobrol untuk mencurahkan isi hati (curhat). Intensitasnya pun tergolong tinggi, dengan 24 persen pengguna mengaksesnya setiap hari, dan 4 persen di antaranya mengaku menggunakan AI hampir setiap saat.
Dalam peta persaingan teknologi, ChatGPT buatan OpenAI masih mendominasi pasar global dengan tingkat penggunaan mencapai 44 persen di tahun 2026, naik dari 34 persen pada dua tahun lalu. Posisi berikutnya ditempati oleh Gemini (24 persen), Copilot (17 persen), Meta AI (14 persen), Grok (8 persen), Claude (6 persen), dan Character.ai (3 persen). Dari sisi demografi, penetrasi terbesar berada di kelompok usia produktif di bawah 50 tahun (57 persen) dibandingkan kelompok di atas 50 tahun yang hanya menyentuh 28 persen.
Kecemasan Sosial dan Krisis Kepercayaan pada Regulasi
Di balik angka adopsi yang fantastis, laporan Pew Research bertajuk persepsi publik ini memperlihatkan adanya krisis kepercayaan yang mendalam terhadap masa depan teknologi. Sebanyak 40 persen responden memprediksi AI akan membawa dampak buruk bagi masyarakat secara luas, dan hanya 16 persen yang optimistis terhadap dampak positifnya.
Untuk skala personal, 31 persen responden mengkhawatirkan AI akan merugikan kehidupan pribadi mereka. Sentimen negatif ini dipicu oleh laju pertumbuhan teknologi yang dirasa terlampau agresif. Sebanyak 63 persen warga Amerika menilai perkembangan AI saat ini berjalan terlalu cepat, berbanding terbalik dengan hanya 2 persen yang menganggapnya lambat.
Ketakutan publik diperparah oleh keraguan mereka terhadap kapasitas regulator dan komitmen moral para pengembang teknologi. Sebanyak 67 persen orang dewasa AS pesimistis pemerintah mampu melahirkan regulasi hukum yang efektif untuk mengontrol AI. Selain itu, sekitar 60 persen responden juga meragukan bahwa raksasa teknologi (Big Tech) bakal mengembangkan kecerdasan buatan ini secara bertanggung jawab dan memenuhi kaidah etis.
Dampak dan Refleksi untuk Indonesia
Meskipun riset ini mengambil lokus di Amerika Serikat, tren yang tergambar memberikan refleksi penting bagi ekosistem digital di Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet aktif terbesar di dunia, masyarakat Indonesia juga mulai mengadopsi AI secara masif untuk kebutuhan akademik, pekerjaan, hingga pembuatan konten kreatif.
Tingginya kecemasan warga AS terhadap isu etika dan regulasi seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan pemangku kepentingan di tanah air. Tanpa adanya payung hukum dan peta jalan (roadmap) regulasi AI yang komprehensif, penetrasi teknologi yang tak terkendali dikhawatirkan dapat memicu disrupsi lapangan kerja yang tidak siap diantisipasi, penyebaran hoaks berbasis deepfake yang makin rapi, hingga masalah isolasi sosial akibat maraknya penggunaan AI sebagai pengganti interaksi antarmanusia.

Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda