Breaking
Memuat breaking news...

Intel Arc G3 Extreme Lawan Serius AMD di Handheld Gaming

Redaksi
Redaksi
Senin, 10 Agustus 2026 - 6.48 AM WIB
Intel Arc G3 Extreme Lawan Serius AMD di Handheld Gaming
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Selama ini, kalau bicara soal PC genggam (handheld) buat main game, nama yang paling sering disebut ya seputar chip AMD—mulai dari yang dipakai Steam Deck sampai ROG Ally. Intel selama ini praktis absen dari percakapan itu. Tapi lewat chip barunya, Arc G3 Extreme, situasinya tampaknya mulai berubah.

Jurnalis Digital Trends, Varun Mirchandani, pertama kali melihat chip ini secara langsung di ajang Computex 2026, tertanam di perangkat awal seperti MSI Claw 8 EX AI+ dan Acer Predator Atlas 8. Tapi seperti yang dia catat sendiri, melihat demo di lantai pameran dan benar-benar memakainya untuk beban kerja nyata adalah dua hal yang sangat berbeda. Barulah setelah MSI mengirimkan unit produksi MSI Claw untuk diuji, ia punya kesempatan membuktikannya sendiri—meski hanya dalam waktu yang cukup singkat.

Hal yang membedakan Arc G3 Extreme dari chip-chip Intel sebelumnya adalah pendekatannya. Ini bukan chip laptop yang dipaksa masuk ke bodi lebih kecil, melainkan dirancang dari awal khusus untuk perangkat gaming genggam, lengkap dengan pengaturan daya yang disesuaikan untuk kebutuhan portabel.

Di dalamnya ada GPU Arc B390 berbasis arsitektur Xe3, dengan 12 Xe-core, dukungan ray tracing berbasis hardware, dan kemampuan komputasi hingga 113 TOPS untuk beban kerja INT8—angka yang biasa dipakai untuk mengukur performa pemrosesan AI. Chip ini juga membawa 14 core CPU, NPU (unit khusus untuk pemrosesan AI), serta dukungan memori hingga LPDDR5X-8533.

Kenapa detail ini penting? Karena di dunia handheld gaming, semuanya soal perebutan watt. Daya yang tersedia terbatas, dan setiap watt yang dipakai CPU otomatis jadi watt yang tidak bisa dipakai GPU. Intel memilih pendekatan yang lebih berat ke sisi grafis lewat Arc G3 Extreme—dan menurut penilaian Mirchandani setelah mengujinya, pendekatan ini akhirnya berhasil.

Hasil Benchmark: Performa yang Mengejutkan di 35W

Ada satu catatan penting sebelum masuk ke angka-angka: karena waktu pengujian yang terbatas, seluruh benchmark sintetis dan gaming dilakukan pada pengaturan performa 35W saja. Artinya, hasil ini belum bisa dianggap sebagai gambaran menyeluruh soal bagaimana Arc G3 Extreme berperilaku di berbagai level TDP (batas daya) lainnya. Angka-angka berikut lebih tepat dibaca sebagai gambaran performa chip ini ketika diberi jatah daya yang cukup longgar.

Benchmark

Skor

Cinebench 2026 MT

3646

Cinebench 2026 ST

497

Cinebench R24 MT

921

Cinebench R24 ST

122

Cinebench R23 MT

14720

Cinebench R23 ST

2003

GeekBench 6 ST

2777

GeekBench 6 MT

14173

GeekBench OpenCL

52812

GeekBench Vulkan

58710

3DMark Time Spy

7098

3DMark Fire Strike

12307

3DMark Night Raid

44355

Menurut Mirchandani, hasil di angka 35W ini terbilang mengesankan. Di seluruh pengujian sintetis, ia menyebut performa yang ditunjukkan Arc G3 Extreme belum pernah ia lihat dari handheld bertenaga Intel sebelumnya. CPU-nya sendiri sudah cukup mumpuni untuk performa setara laptop, tapi bintang utamanya justru GPU Arc B390.

Di sisi pengujian gim, hasilnya juga tidak kalah menarik. Berikut sebagian hasil frame rate rata-rata (FPS) dari beberapa judul yang diuji, lengkap dengan pengaturan grafis yang dipakai:

Gim

Pengaturan

FPS Rata-rata

Forza Horizon 6

Preset Medium, XeSS-SR: Quality

69

Forza Horizon 5

Preset High (RT: Medium), MSAA 2x

99

Cyberpunk 2077

Preset Medium, tanpa RT, XeSS 2.0 Balanced + Frame Gen

153

DOOM The Dark Ages

Kualitas Low, XeSS Balanced, tanpa Frame Gen

78

Black Myth Wukong

XeSS 60, Preset Medium, tanpa RT, Frame Gen Auto

105

Assassin's Creed Shadows

Preset Steam Deck, target 240fps, XeSS Balanced, Frame Gen On

92

Baldur's Gate 3

Preset Ultra, tanpa upscaler/Frame Gen

51

F1 24

Preset Ultra High, tanpa upscaler/Frame Gen

38

Berdasarkan hasil-hasil itu, Mirchandani menilai Arc G3 Extreme membuat gaming 1080p benar-benar layak dilakukan di perangkat genggam—dan yang menurutnya lebih penting, performa native-nya sudah cukup kuat tanpa harus terus-menerus mengandalkan teknologi upscaling. Teknologi XeSS 3 disebutnya hanya memberi ruang tambahan di judul-judul yang mendukung.

Ia juga menyebut performa Arc G3 Extreme secara konsisten unggul dibanding Ryzen Z2 Extreme milik AMD dalam pengujian gaming yang ia lakukan. Perlu digarisbawahi, ini adalah kesimpulan dari pengujian satu jurnalis dalam satu sesi terbatas, bukan hasil pengujian laboratorium independen berskala besar.

Bukan Cuma soal Kecepatan, Efisiensi Juga Diuji

Performa tinggi di 35W itu penting, tapi menurut Mirchandani, pertanyaan yang lebih sulit dijawab adalah bagaimana performa chip ini saat jatah dayanya diturunkan. Karena keterbatasan waktu, ia tidak sempat menyusun rangkaian benchmark lengkap di level 17W, 20W, atau 25W.

Sebagai gantinya, ia mencoba pendekatan yang lebih mendekati pengalaman gamer sehari-hari: mengaktifkan mode Endurance dan memainkan Sleeping Dogs selama beberapa jam.

Hasilnya, ia mendapat lebih dari empat jam waktu bermain terus-menerus, tanpa membuat pengalaman bermainnya terasa dikompromikan. Menurutnya, ini menunjukkan chip yang sama yang mampu memberi performa tinggi di 35W ternyata juga bisa diturunkan ke mode yang lebih hemat baterai tanpa kehilangan kualitas pengalaman bermain secara signifikan.

Satu hal lain yang ia soroti secara khusus adalah perilaku perangkat saat standby. Menurutnya, konsumsi daya MSI Claw saat idle nyaris tidak terasa selama pengujian—ditinggal dalam mode tidur semalaman, baterainya nyaris tidak berkurang saat dibuka kembali keesokan harinya.

Ada beberapa hal yang perlu ditimbang sebelum menyimpulkan Intel sudah sepenuhnya unggul di segmen ini. Ryzen Z2 Extreme milik AMD sudah lebih dulu meluncur sekitar setahun sebelumnya, yang berarti Intel punya cukup waktu mempelajari pasar handheld dan menyempurnakan driver-nya.

Perangkat generasi pertama yang memakai Arc G3 Extreme juga disebut cukup mahal, sehingga belum akan langsung menggantikan posisi Steam Deck atau ROG Ally sebagai pilihan mainstream dalam waktu dekat.

Meski begitu, menurut penilaian Mirchandani, harga perangkat tidak mengubah fakta soal apa yang berhasil dicapai Intel dari sisi silikonnya sendiri. Ia menyimpulkan Intel akhirnya benar-benar hadir di segmen handheld gaming, dengan performa yang cukup untuk bersaing di level atas melawan AMD, sekaligus efisiensi yang membuat performa itu tetap berguna saat perangkat dipakai jauh dari charger.

Perlu dicatat, ini semua adalah hasil dan kesimpulan dari satu sesi pengujian hands-on dengan waktu terbatas. Pengujian yang lebih menyeluruh di berbagai level daya dan dari sumber independen lain akan memberikan gambaran yang lebih lengkap soal seberapa konsisten performa Arc G3 Extreme dalam pemakaian jangka panjang.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait