Hilang 100 Tahun, Burung Langka Hijau Limau Muncul Lagi di MalukuHilang 100 Tahun, Burung Langka Hijau Limau Muncul Lagi di Maluku

QAPLO - Burung langka yang dikira hilang hampir satu abad kembali terdeteksi di Indonesia. Blue-fronted lorikeet dengan bulu dominan hijau limau terlihat di Pulau Buru, Maluku, dalam ekspedisi pada April 2026.
Burung ini pertama kali dideskripsikan bersama tujuh spesimen pada 1920. Setelah itu tidak ada catatan resmi yang jelas. Baru pada 2014, fotografer Craig Robson dalam tur Birdquest berhasil memotretnya lagi, mengakhiri masa hilang selama 94 tahun.
Temuan terbaru terjadi di kawasan Gunung Kapalatmada, puncak tertinggi di Pulau Buru. Tim melihat dua ekor burung kecil terbang ke pohon di dekat mereka.
"Kami melihat dua burung kecil terbang ke pohon di dekatnya, jadi saya mengambil teropong untuk melihat jenisnya. Saya senang saat menyadari itu blue-fronted lorikeet," kata Direktur Pencarian Burung Hilang John C. Mittermeier, dikutip dari IFL Science, Kamis 23 Juli 2026.
Pertemuan pertama itu begitu singkat. Burung langsung terbang sebelum sempat difoto. Tim baru berhasil mengabadikan gambar beberapa hari kemudian. Foto itu menjadi dokumentasi pertama dalam 12 tahun terakhir sejak 2014.
Selain foto, peneliti juga merekam suaranya. Rekaman ini penting sebagai bukti ilmiah dan bekal untuk mencari populasi lain. Hingga kini belum diketahui berapa ekor yang tersisa di alam liar. Dalam daftar IUCN, statusnya Critically Endangered atau kritis.
Secara fisik, blue-fronted lorikeet memiliki nama ilmiah Charmosynopsis toxopei dan dikenal sebagai nuri kecil dengan biru di bagian depan kepala. Habitatnya sangat spesifik di hutan pegunungan Buru, sehingga sulit ditemukan tanpa masuk jauh ke hutan.
Keberadaan burung ini dibayangi ancaman. Koordinator Maluku di Burung Indonesia, Benny A. Siregar, menyebut tantangan utamanya adalah deforestasi dan aktivitas pertambangan.
Catatan penampakan yang sangat jarang menunjukkan habitat yang bisa digunakan sangat terbatas. Jika hutan di Kapalatmada terus berkurang, peluang bertahan lorikeet makin tipis.
"Saya berharap lebih banyak orang bisa melihat dan mempelajari burung-burung ini. Pada saat bersamaan juga berharap lebih banyak orang peduli dan berpartisipasi dalam melestarikan hutan yang tersisa di Pulau Buru," kata pemandu Birdtour Asia, Sumaraja.
Temuan ini menegaskan Maluku sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Bagi konservasi, momen ini bisa menjadi dorongan untuk memperkuat perlindungan hutan Kapalatmada dari pembukaan lahan dan izin tambang baru.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda