Breaking
Memuat breaking news...

Harga Emas Melonjak, RI Didesak Perkuat Hilirisasi dan Tata Kelola Mineral Strategis

Redaksi
Redaksi
Kamis, 13 Agustus 2026 - 5.37 PM WIB
Harga Emas Melonjak, RI Didesak Perkuat Hilirisasi dan Tata Kelola Mineral Strategis
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir mengubah pola investasi masyarakat. Emas kini lebih dilirik sebagai instrumen investasi ketimbang dibeli dalam bentuk perhiasan. Tren inilah yang menjadi salah satu sorotan dalam Mindialogue 2026, forum yang mempertemukan pemangku kebijakan dan pelaku industri di Jakarta, Rabu (12/8/2026), mengangkat tema "Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI".

Ekonom Senior INDEF, Aviliani, menyebut pergeseran pola permintaan ini sebagai hal yang wajar. Semakin mahal harga emas, semakin besar pula daya tariknya sebagai aset investasi dibandingkan sekadar perhiasan.

Dari sisi tata kelola, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan emas semestinya jadi prioritas utama dalam strategi pembangunan ekonomi nasional. Alasannya, tambang-tambang rakyat selama ini kesulitan masuk ke rantai pasok formal dan belum terfasilitasi standar pemurnian internasional (LBMA). Akibatnya, potensi penerimaan negara dari sektor ini justru berkurang.

Persoalan tata niaga juga disinggung oleh Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno. Ia menilai sistem ketertelusuran atau traceability asal-usul emas perlu diperkuat, menyusul indikasi masuknya emas ilegal ke sejumlah toko perhiasan. Menurutnya, pengawasan dari hulu ke hilir mesti diperketat agar peredaran emas lebih transparan dan devisa negara tetap terjaga.

Target Investasi dan Reformasi Perizinan

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, memaparkan bahwa pemerintah terus berupaya menyederhanakan birokrasi perizinan. Langkah ini dinilai penting untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen, yang salah satu penopangnya adalah realisasi target investasi yang masuk ke dalam negeri.

Sejalan dengan itu, Chief Technology Officer Badan Pengelola Investasi Danantara, Sigit Puji Santosa, menekankan pentingnya optimalisasi kekayaan alam lewat hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah. Danantara disebut mendorong strategi yang lebih agresif dengan mengintegrasikan proses dari hulu hingga hilir, sehingga rantai produksi hingga distribusi berjalan menyatu. Pemaparan senada juga disampaikan Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera, dalam forum yang sama.

Cadangan Emas RI Disebut Masih Besar

Dari sisi potensi sumber daya, Chairman Indonesian Mining Institute (IMI), Irwandy Arif, menyebut cadangan emas Indonesia masih tersebar luas dan belum sepenuhnya tergarap. Salah satu yang disorot adalah Proyek Hu'u di Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang dikelola Sumbawa Timur Mining. Proyek ini masih dalam tahap eksplorasi, namun diklaim berpotensi memiliki cadangan emas lebih besar dibandingkan tambang PT Freeport Indonesia di Papua Tengah.

Benang merah dari forum ini cukup jelas: harga emas yang terus naik membuka peluang ekonomi, tapi peluang itu baru bisa dimaksimalkan jika tata kelola dari hulu ke hilir dibenahi — mulai dari legalitas tambang rakyat, ketertelusuran asal emas, sampai kemudahan izin investasi.

(Sumber keterangan: CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait