Harga Emas Kembali Menguat, Dolar AS Melemah Usai Data Inflasi Sesuai Prediksi

Harga emas dunia kembali menghijau pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (14/8/2026), ditutup di level US$4.375,89 per troy ons — menguat 0,59% setelah sempat anjlok 1,29% sehari sebelumnya. Dalam sepekan, emas mencatat penguatan 0,79%, melanjutkan tren positif yang sudah berlangsung dua pekan berturut-turut. Data merujuk Refinitiv.
Pendorong utama kenaikan ini datang dari luar pasar emas itu sendiri: pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS turun ke level 99,67, posisi terendah dalam enam hari terakhir. Ketika dolar melemah, emas yang dihargai dalam mata uang tersebut otomatis jadi lebih murah bagi pembeli di luar AS — dan itu biasanya mendorong permintaan naik.
"Indeks dolar AS yang lebih rendah menjadi faktor eksternal yang mendukung harga emas hari ini," kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, seperti dikutip Refinitiv.
Data Tenaga Kerja dan Inflasi Jadi Kunci
Ada dua data ekonomi AS yang ikut menggerakkan pasar pekan ini. Pertama, penurunan tak terduga jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) AS pada Juli. Kedua, data inflasi yang dirilis pekan ini ternyata sesuai dengan perkiraan pasar — tidak lebih tinggi, tidak lebih rendah.
Kombinasi keduanya mengubah kalkulasi pasar soal langkah bank sentral AS, The Federal Reserve. Sebelumnya banyak yang memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga bulan depan. Sekarang, mayoritas analis justru memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Data dari CME FedWatch Tool memperlihatkan pergeseran ini secara jelas: peluang kenaikan suku bunga pada September kini hanya diperkirakan 33%, turun tajam dari 55% pada pekan sebelumnya.
Mengapa ini penting bagi harga emas? Karena emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga rendah, daya tarik emas sebagai instrumen investasi justru naik dibanding aset berbunga seperti obligasi. "Karena kami memperkirakan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga, harga emas masih memiliki potensi untuk kembali naik," demikian pandangan Commerzbank.
Bayang-bayang dari Selat Hormuz
Di luar faktor moneter, ada perkembangan geopolitik yang patut dicermati. Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti setelah dua kapal kembali diserang. Amerika Serikat pun menyatakan dapat mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu.
Situasi ini berpotensi mendorong harga minyak naik dalam sepekan ke depan — dan itu bukan kabar baik bagi emas. Wyckoff menjelaskan, kenaikan harga minyak yang berkelanjutan bisa memicu inflasi baru, yang pada gilirannya bisa mendorong bank sentral kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Artinya, dua faktor besar sedang tarik-menarik: dolar yang melemah menopang emas, sementara ancaman inflasi dari harga minyak berpotensi menekannya kembali.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda