Breaking
Memuat breaking news...

Harga Ayam Termahal Sejak 2003, Produsen Bento di Jepang Terpaksa Ubah Resep

Qaplo
Qaplo
Minggu, 21 Juni 2026 - 10.55 AM WIB
Harga Ayam Termahal Sejak 2003, Produsen Bento di Jepang Terpaksa Ubah Resep
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

QAPLO - Gejolak ekonomi global dan kenaikan harga bahan baku mulai berdampak langsung pada piring makan masyarakat Jepang. Demi menyiasati lonjakan harga daging ayam dan telur yang terus meroket, sejumlah pelaku usaha sektor makanan dan minuman (F&B) di Negeri Sakura terpaksa mengambil langkah ekstrem dengan mengubah komposisi menu bento (makanan kotak) mereka.

Siasat Produsen Bento Menghindari Kenaikan Harga

Salah satu langkah nyata diambil oleh Kiyoken Co., produsen makanan terkenal di Jepang. Sejak awal Juni lalu, perusahaan memutuskan untuk mengubah sebagian lauk dalam menu populer mereka, Yokohama Fried Rice Bento, yang dijual seharga 890 yen (sekitar Rp98.000).

Kiyoken mengganti menu ayam saus cabai yang sangat digemari konsumen dengan udang saus cabai. Langkah ini menjadi keputusan bersejarah bagi perusahaan, sebab ini merupakan perubahan menu pertama yang mereka lakukan dalam kurun waktu sekitar 20 tahun terakhir.

Juru bicara Kiyoken mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil karena beban biaya pengadaan yang kian berat. Selain harga bahan makanan yang melonjak, biaya bahan kemasan juga mengalami kenaikan signifikan, diperparah oleh fluktuasi nilai tukar mata uang yang tidak menentu. Sebelumnya, Kiyoken sempat menaikkan harga seluruh produk bentonya pada Februari lalu. Namun, demi menghindari penolakan konsumen akibat kenaikan harga berturut-turut, mereka akhirnya memilih opsi untuk mengganti bahan baku.

Harga Ayam Sentuh Rekor Tertinggi Sejak 2003

Langkah tak biasa yang diambil para pelaku usaha kuliner ini sangat beralasan. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, harga rata-rata eceran paha ayam pada Juni mencapai 155 yen (sekitar Rp17.125) per 100 gram. Angka ini tercatat sebagai level tertinggi sejak tahun 2003.

Menteri Pertanian Jepang, Norikazu Suzuki, menjelaskan bahwa tingginya harga ini dipicu oleh meningkatnya permintaan ayam impor. Kondisi tersebut mendorong sebagian pelaku usaha restoran beralih menggunakan daging ayam produksi dalam negeri, yang pada akhirnya ikut mendongkrak harga di pasar domestik.

Faktor geopolitik juga turut memperkeruh keadaan. Masato Koike, peneliti senior di lembaga kajian Sompo Institute Plus Inc, memaparkan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah telah mengganggu rantai pasok global. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan biaya pakan ternak dan energi, yang kemudian memberi tekanan tambahan pada harga jual ayam di tingkat peternak.

Koike memproyeksikan tren konsumsi daging ayam akan tetap tinggi atau bahkan meningkat tipis di masa mendatang. Hal ini dikarenakan harga daging alternatif seperti sapi dan babi juga masih bertahan di level yang tinggi.

Kondisi Harga Telur dan Harapan Stabilisasi

Selain daging ayam, komoditas telur di Jepang juga belum menunjukkan tanda-tanda penurunan harga yang signifikan. Data kementerian terkait menunjukkan harga rata-rata satu pak berisi 10 butir telur campuran bertahan di angka 309 yen (sekitar Rp34.138), menyamai rekor tertinggi yang pernah tercipta pada Mei lalu.

Meski demikian, ada sedikit angin segar bagi konsumen dan pelaku usaha. Asosiasi Perunggasan Jepang memperkirakan harga telur akan mulai bergerak stabil pada musim panas tahun ini. Optimisme ini didasari oleh mulai pulihnya populasi ayam petelur ke tingkat normal, setelah sebelumnya sempat berkurang drastis akibat kebijakan pemusnahan massal selama wabah flu burung melanda negara tersebut.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait