Harga Anjlok 50%, Investor Singapura Jadi Pemburu Terbesar Properti Komersial Hong Kong

Investor berbasis Singapura menyalip investor China daratan di pasar properti komersial Hong Kong. Pada kuartal II 2026, mereka menjadi pembeli non-lokal terbesar.
Data Colliers yang dikutip South China Morning Post menempatkan kontribusi investor Singapura mencapai HK$3,37 miliar, atau sekitar 62% dari total transaksi pembeli non-lokal dan China daratan yang sebesar HK$5,46 miliar. Untuk perbandingan, investor dari China daratan pada periode yang sama membukukan HK$1,23 miliar.
Angkanya kontras dengan kuartal I. Saat itu investor China daratan masih mendominasi dengan HK$4,73 miliar, sementara investor Singapura absen sama sekali.
Pergeseran ini bukan tanpa alasan.
Dua kesepakatan mengerek angka Singapura di kuartal lalu.
Yang terbesar adalah DBS Bank (Hong Kong). Pada 15 April 2026, DBS mengumumkan proposal akuisisi enam lantai tambahan di The Center, gedung ikonik di Central yang pernah menyandang status gedung kantor termahal di dunia dan kini tercatat sebagai gedung tertinggi kelima di Hong Kong. Nilainya HK$2,619 miliar untuk luas kotor 151.934 kaki persegi. Transaksi ini disebut sebagai yang terbesar di pasar properti komersial Hong Kong sejauh 2026.
Sebelum pembelian ini, DBS sudah memiliki dan menempati delapan lantai lain di gedung 73 lantai tersebut.
Kedua, Wee Hur Holdings. Perusahaan konstruksi dan properti yang tercatat di SGX itu mengakuisisi One Bedford Place, menara komersial Grade-A di Tai Kok Tsui, Kowloon. Bangunan itu dikembangkan Lofter Group dan sebelumnya diambil alih penerima yang ditunjuk Bank of East Asia. Harganya sedikit di bawah HK$750 juta.
Wee Hur tidak akan mempertahankan sebagai kantor. Rencananya diubah menjadi hunian mahasiswa dengan sekitar 500 tempat tidur. Langkah yang masuk akal, mengingat arus mahasiswa daratan ke Hong Kong kembali deras.
Kepala Capital Markets and Investment Services Colliers Hong Kong, Thomas Chak, menyebut minat dari investor Singapura masih akan stabil dalam beberapa bulan ke depan. Alasannya sederhana: harga.
“Commercial activity continues to be primarily driven by end-user demand, as recent price corrections have renewed interest among buyers seeking to secure long-term office and retail premises,” kata Chak kepada Hong Kong Business.
Koreksinya memang dalam. Hingga Agustus, harga kantor Grade-A sudah merosot 51% dari puncaknya. Bagi pemilik modal dengan horizon panjang, ini momen berburu aset inti dengan diskon.
Colliers mencatat, secara keseluruhan volume transaksi real estat komersial Hong Kong per 25 Agustus sudah mencapai HK$27 miliar, atau sekitar 60% dari total tahun lalu. Di kuartal II saja, investasi properti komersial mencapai sekitar $14 miliar, turun 5,5% secara kuartalan tapi naik 60% dibandingkan tahun sebelumnya. Sektor kantor menyumbang porsi terbesar.
Tren ini juga terlihat di kawasan. Southeast Asian investors are increasingly active in Hong Kong's commercial property market, drawn by attractive pricing and strong demand from the education sector, demikian catatan Colliers.
Yang membuat kalkulasi investor lebih berani adalah sisi sewa.
Pasar sewa kantor Hong Kong menunjukkan tanda pulih. Menurut JLL, sewa di Central naik 7,3% pada paruh pertama, mendorong kenaikan sewa kantor Grade-A secara keseluruhan sebesar 3,2% — kenaikan setengah tahunan berarti pertama sejak koreksi dimulai pertengahan 2019. Kenaikan 7,3% di Central itu juga menjadi yang tertinggi sejak puncak pertumbuhan semesteran pada 2011.
Tingkat kekosongan ikut mengetat. Kekosongan Grade-A di Central sempat turun di bawah 10% pada Februari, melanjutkan tren yang pada akhir tahun lalu masih di atas 10,9% menurut data JLL yang dikutip media lokal.
Kondisi ini menjelaskan dua tipe pembeli yang sekarang aktif. Owner-occupier seperti DBS membeli untuk penggunaan sendiri dan ekspansi jangka panjang. Di sisi lain, investor seperti Wee Hur masuk ke aset yang bisa menghasilkan pendapatan stabil dari sektor non-tradisional.
Chak memperkirakan investor akan terus menyukai stable income-generating assets, terutama di sektor edukasi dan living. Untuk paruh kedua 2026, Colliers mempertahankan proyeksi transaksi investasi penuh tahun di kisaran $42 miliar, dengan tema utama tetap aset pendidikan dan hunian.
Bagi pasar yang sempat tertekan bertahun-tahun, masuknya modal Singapura memberi sinyal penting. Bukan sekadar soal siapa yang paling banyak belanja di kuartal ini. Tapi tentang bagaimana diskon harga yang dalam, ditambah sewa yang mulai naik lagi di jantung Central, membuat Hong Kong kembali masuk radar sebagai tempat parkir modal jangka panjang.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda