Breaking
Memuat breaking news...

Fenomena Bursa Motor Listrik Bekas: Alasan Dijual, Masalah Baterai, hingga Harga yang Anjlok

Qaplo
Qaplo
Senin, 15 Juni 2026 - 7.09 AM WIB
Fenomena Bursa Motor Listrik Bekas: Alasan Dijual, Masalah Baterai, hingga Harga yang Anjlok
Reading Comfort
adjust the font size

Qaplo.com - Pasar kendaraan ramah lingkungan di Indonesia kini resmi memasuki babak baru. Seiring dengan meningkatnya populasi motor listrik di jalan raya, bursa motor listrik bekas pun mulai menunjukkan geliat yang signifikan. Berbagai unit dengan beragam kondisi—mulai dari yang jarak tempuhnya masih sangat rendah hingga yang sudah dipakai bertahun-tahun—kini semakin mudah ditemui di pasar motor sekunder.

Fenomena ini memicu pertanyaan: apa yang membuat para pemilik memutuskan untuk menjual kembali motor listrik mereka? Adi, pengelola dealer motor listrik bekas Dablong.EV, mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor utama yang mendorong tren ini, mulai dari kebutuhan ekonomi hingga penurunan performa komponen vital kendaraan.

Kebutuhan Dana Cepat dan Faktor Penasaran

Menurut Adi, motif paling dominan yang ditemui di lapangan adalah faktor finansial. Banyak pemilik yang terpaksa melepas motor listrik mereka karena sedang membutuhkan dana cepat. Selain itu, ada pula pasokan unit yang melimpah di pasar sekunder yang berasal dari hasil lelang atau tarikan lembaga pembiayaan (leasing).

Di samping alasan ekonomi, ada sebagian kecil konsumen yang menjual motornya hanya karena faktor penasaran. Kelompok ini biasanya membeli motor listrik sekadar untuk mencoba teknologi baru, namun kemudian menjualnya kembali dalam kondisi odometer yang masih sangat rendah. Meski ada, jumlah konsumen tipe ini relatif sedikit dibandingkan mereka yang menjual karena kebutuhan mendesak.

Dilema Baterai SLA yang Mulai Melemah

Faktor teknis juga memegang peranan krusial dalam maraknya penjualan motor listrik bekas. Penurunan performa baterai menjadi alasan yang paling kerap dikeluhkan oleh konsumen, terutama pada model kendaraan yang masih menggunakan teknologi baterai jenis Sealed Lead Acid (SLA) atau baterai aki kering.

Adi mencontohkan, pada motor listrik yang menggunakan basis baterai SLA—termasuk beberapa tipe dari merek populer seperti Yadea—kapasitas dayanya umumnya akan menyusut hingga 30 persen setelah satu tahun pemakaian normal. Penurunan performa dan jarak tempuh inilah yang sering kali membuat pemilik pertama memilih untuk menjual unitnya, alih-alih melakukan penggantian komponen secara mandiri.

Depresiasi Harga yang Cukup Signifikan

Masalah penurunan kapasitas baterai ini berdampak langsung pada nilai jual kembali (resale value) motor listrik di Indonesia. Akibatnya, depresiasi harga motor listrik bekas terbilang cukup tajam, bahkan bisa menyusut hingga lebih dari separuh harga beli baru.

Sebagai gambaran, motor listrik yang harga barunya berkisar di angka Rp 14 juta setelah dipotong subsidi pemerintah, umumnya hanya dihargai sekitar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta di pasar motor bekas jika kondisi baterainya sudah menurun. Namun, jika kondisi baterai masih relatif prima atau sudah diganti baru oleh pemiliknya, harganya bisa sedikit terdongkrak ke kisaran Rp 6 juta hingga Rp 6,5 juta.

Untuk menyiasati penurunan nilai ini dan menjaga kepercayaan pasar, pihak dealer biasanya melakukan kalibrasi dan perbaikan menyeluruh sebelum memajang kembali unit tersebut. Langkah paling krusial yang dilakukan adalah mengganti paket baterai SLA yang sudah lemah dengan baterai baru. Bagi konsumen, hal ini tentu menguntungkan karena mereka bisa mendapatkan motor listrik dengan performa baterai layaknya unit baru, namun dengan harga sekunder yang jauh lebih ramah di kantong.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait