Breaking
Memuat breaking news...

Dua Bulan Tanpa Kabar Jelas, ke Mana Sebenarnya Presiden Tertua di Dunia Ini Pergi?

Redaksi
Redaksi
Minggu, 16 Agustus 2026 - 6.14 AM WIB
Dua Bulan Tanpa Kabar Jelas, ke Mana Sebenarnya Presiden Tertua di Dunia Ini Pergi?
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Sudah dua bulan lebih Presiden Kamerun Paul Biya tidak menginjakkan kaki di negaranya sendiri. Di usia 93 tahun — menjadikannya kepala negara tertua di dunia yang masih menjabat — ketidakhadirannya yang berlarut-larut ini memicu pertanyaan yang sudah lama dihindari banyak orang di Kamerun: siapa sebenarnya yang menjalankan negara ini sekarang?

Kantor kepresidenan menyebutnya sebagai "kunjungan pribadi singkat ke Eropa" yang dimulai 7 Juni 2026. Tapi "singkat" itu kini sudah berjalan lebih dari dua bulan, dan menjadi rentang waktu terlama Biya absen dari Kamerun dalam beberapa tahun terakhir. Juru bicara pemerintah, René Emmanuel Sadi, akhirnya membuka sedikit informasi lewat radio Prancis RFI: presiden ada di Jenewa, Swiss, dan tidak sedang dirawat di rumah sakit.

Soal aktivitas apa yang ia lakukan di sana, atau kapan persisnya akan pulang, Sadi memilih tidak menjelaskan. Yang ia tegaskan hanya bahwa Biya "masih hidup" dan "akan segera kembali."

Pernyataan seperti itu sebetulnya bukan hal baru. Biya memang dikenal jarang tampil di depan publik, dan rumor soal kesehatannya sudah berulang kali beredar sepanjang masa jabatannya.

Pemerintah pun berulang kali membantahnya — bahkan pada 2024 sampai melarang media membahas kondisi kesehatan presiden dengan dalih keamanan nasional. Bedanya kali ini, durasi absennya jauh lebih panjang dari biasanya, dan itu membuat pertanyaan lama terasa lebih mendesak.

Presiden yang Sudah Berkuasa Sebelum Sebagian Besar Warganya Lahir

Untuk memahami kenapa isu ini begitu sensitif, perlu melihat rekam jejak Biya. Ia naik ke tampuk kekuasaan pada 1982 setelah presiden sebelumnya mengundurkan diri, lalu memenangkan pemilu presiden pertamanya pada 1984 di bawah sistem satu partai.

Ketika sistem multipartai diberlakukan, ia tetap menang berturut-turut sebanyak enam kali pemilu berikutnya. Tahun lalu, ia kembali memenangkan masa jabatan kedelapannya — sebuah hasil yang disengketakan lawan-lawan politiknya dan diwarnai bentrokan antara demonstran dan aparat. Jika masa jabatan ini ia selesaikan, Biya berpotensi tetap berkuasa hingga mendekati usia 100 tahun.

Bagi banyak generasi muda Kamerun, ini bukan sekadar statistik. Abit Riassai Acha, mahasiswa doktoral di Universitas Yaoundé II, mengaku Biya adalah satu-satunya presiden yang pernah ia kenal sepanjang hidupnya.

Menurutnya, warga memang sudah terbiasa dengan pola absen panjang semacam ini karena sudah terjadi berulang kali selama bertahun-tahun — tapi ia mengingatkan, terbiasa bukan berarti berhenti bertanya bagaimana negara ini sebenarnya dikelola.

Keputusan Tetap Jalan, tapi Siapa yang Pegang Kendali?

Menariknya, meski berada ribuan kilometer dari Kamerun, Biya tidak sepenuhnya lepas tangan. Awal bulan ini, pemerintah mengumumkan perombakan besar-besaran di jajaran militer — dan itu disebut sudah mendapat persetujuannya. Bagi pemerintah, ini jadi bukti bahwa presiden masih memegang kendali. Tapi bagi sebagian pihak lain, justru sebaliknya: ini memperkuat kecurigaan bahwa ada kekosongan kekuasaan yang coba ditutupi.

Samuel Hiram Iyodi, kandidat oposisi muda yang ikut bertarung dalam pemilu tahun lalu, sampai meminta parlemen mengajukan permohonan resmi ke Dewan Konstitusi untuk menilai apakah absennya Biya ini sudah bisa dikategorikan sebagai kekosongan jabatan presiden. Secara politik, langkah itu nyaris mustahil membuahkan hasil selama partai berkuasa, Cameroon People's Democratic Movement, masih mendominasi parlemen.

Wilson Tamfuh, profesor hukum publik dan internasional dari Universitas Dschang, punya pandangan yang lebih teknis. Menurutnya, secara kelembagaan negara sebenarnya tetap bisa berjalan selama presiden mendelegasikan kewenangan kepada perdana menteri, sekretaris jenderal kepresidenan, dan para menteri.

Persoalannya bukan di situ, katanya, melainkan apakah pemerintah benar-benar mampu menuntaskan masalah-masalah mendasar yang sudah lama menumpuk — mulai dari konflik di wilayah berbahasa Inggris, standar hidup yang stagnan, infrastruktur jalan yang buruk, sampai tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan pendidikan tinggi.

Realitas di Lapangan, Jauh dari Jenewa

Sementara presidennya berada di sebuah kota mewah di Swiss, situasi di dalam negeri jauh dari kata baik-baik saja. Analis politik Collins Molua Ikome, warga Kamerun yang kini menetap di Jerman, sempat pulang berkunjung pada April lalu dan langsung menyaksikan sendiri kondisi jalan-jalan yang rusak parah — bahkan ia sempat melihat kecelakaan yang merenggut nyawa seseorang. Ia juga menyoroti pemadaman listrik yang kerap terjadi, korupsi, dan minimnya lapangan kerja bagi anak muda.

Di luar itu, Kamerun masih bergulat dengan konflik separatis di wilayah berbahasa Inggris, serangan kelompok Boko Haram di utara negeri, serta layanan kesehatan yang menurut Ikome masih jadi barang mewah bagi kebanyakan warga biasa. Harapan hidup di negara itu, katanya, masih di bawah 70 tahun — jauh dari usia Biya sekarang, yang menurutnya bisa dicapai justru karena akses ke layanan kesehatan luar negeri yang tak terjangkau rakyat kebanyakan.

Catatan editorial: Sampai berita ini ditulis, belum ada kepastian resmi kapan Presiden Biya akan kembali ke Kamerun, dan pemerintah belum memberikan penjelasan rinci soal kondisi kesehatannya. Pernyataan bahwa ia "baik-baik saja" dan "akan segera kembali" masih sebatas klaim pejabat pemerintah, belum disertai bukti independen.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait