Breaking
Memuat breaking news...

Doyan Rasa Pahit? Penelitian Ungkap Kaitannya dengan Psikopat

Redaksi
Redaksi
Senin, 17 Agustus 2026 - 7.13 AM WIB
Doyan Rasa Pahit? Penelitian Ungkap Kaitannya dengan Psikopat
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Selera makanan seseorang, ternyata, bukan cuma soal lidah. Sejumlah penelitian menemukan kaitan antara kecenderungan menyukai rasa pahit dengan ciri kepribadian yang condong ke arah antisosial — bahkan psikopat.

Salah satu riset yang jadi rujukan datang dari peneliti University of Innsbruck, Austria. Mereka melibatkan 935 responden, menanyakan preferensi mereka terhadap makanan dan minuman manis, asam, asin, dan pahit, sekaligus meminta responden mengisi empat survei kepribadian berbeda yang mengukur ciri-ciri antisosial: psikopati, narsisme, agresi, dan sadisme.

Hasilnya, semakin seseorang menikmati rasa pahit, semakin tinggi pula kecenderungan sadisnya. Secara khusus, sadisme dalam keseharian — bukan sadisme ekstrem, melainkan kesenangan kecil melihat orang lain kesulitan — berkorelasi positif secara signifikan dengan kesukaan terhadap rasa pahit secara umum.

Temuan ini bukan yang pertama. Penelitian lain oleh Sagioglou dan Greitemeyer juga menunjukkan pola serupa: preferensi rasa pahit berkorelasi dengan sifat kejam. Makanan dan minuman yang masuk kategori pahit dalam penelitian itu termasuk kopi, lobak, bir, air tonik, dan seledri.

Dibanding rasa lain, pahit disebut paling mampu "membongkar" sisi psikopat dalam diri seseorang. Kedua peneliti ini juga mencatat fenomena supertasting — kepekaan berlebih terhadap rasa pahit — yang berkaitan dengan tingkat emosi yang lebih tinggi pada manusia, pola yang juga ditemukan pada tikus percobaan. Sebaliknya, orang yang cenderung ramah biasanya lebih menyukai makanan manis seperti permen dan cokelat, dan kurang suka rasa pahit.

Tapi sebelum buru-buru menghakimi penggemar kopi pahit atau bir sebagai psikopat, ada baiknya dipahami dulu apa sebenarnya istilah "psikopat" itu. Label ini sering dilekatkan pada orang yang kejam, bahkan sampai tega membunuh.

Padahal, psikopat sendiri bukanlah diagnosis resmi dalam dunia kesehatan mental. Menurut Eric Patterson, konselor berlisensi yang berpraktik di Cabot, Pennsylvania, banyak kesalahpahaman beredar soal istilah ini, termasuk penggunaan kata "psiko" sebagai olok-olok yang berkonotasi negatif.

Dalam dunia psikiatri, ciri-ciri yang biasa disebut psikopati sebenarnya masuk dalam kategori gangguan kepribadian antisosial atau Antisocial Personality Disorder (ASPD).

Lantas, seperti apa tanda-tanda ASPD yang dikenali secara klinis? Mengutip Psych Central, ada beberapa pola perilaku yang kerap muncul.

Yang pertama, mengabaikan hak orang lain dan norma sosial yang berlaku. Menurut Patterson, ini salah satu tanda paling menonjol dari ASPD — perilaku yang melanggar hak orang lain sekaligus aturan hukum yang berlaku di masyarakat. Manual diagnostik DSM-5 pun mencatat pola pengabaian terhadap hak orang lain sebagai ciri khas gangguan ini.

Menariknya, sebuah penelitian tahun 2018 menemukan bahwa orang dengan psikopati sebenarnya punya kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, hanya saja mereka tidak terampil menggunakannya — sehingga tetap tampak tidak peduli pada orang di sekitarnya.

Kedua, kecenderungan berbohong dan memanipulasi. Orang dengan ASPD kerap berbohong, bahkan soal identitas dasar seperti nama, demi mendapatkan sesuatu dari orang lain — baik itu keuntungan finansial maupun hal lain. Pesona dan pujian sering dipakai sebagai alat manipulasi, yang kadang berlanjut ke pelecehan emosional atau pemerasan.

Ketiga, sikap agresif. Tidak semua orang dengan ASPD agresif secara fisik, tapi mudah tersinggung dan cenderung agresif — baik lewat tindakan maupun pelecehan verbal — jadi ciri yang umum ditemukan.

Keempat, impulsivitas. Bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi adalah pola khas lainnya, termasuk melakukan hal berisiko tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri maupun orang lain. Sifat impulsif ini pula yang membuat orang dengan ASPD lebih rentan mengalami gangguan penggunaan narkoba, lebih berisiko tertular infeksi menular seksual akibat perilaku seksual impulsif, dan secara statistik punya risiko kematian dini lebih tinggi akibat kecelakaan, cedera, atau bunuh diri.

Kelima, tidak adanya rasa penyesalan. Sekalipun sudah berbohong atau melanggar hak orang lain, seseorang dengan ASPD umumnya tidak merasa bersalah atas perbuatannya — bahkan cenderung mencari pembenaran atas kerugian yang ia timbulkan.

Perlu dicatat, korelasi antara selera makanan dan sifat kepribadian dalam penelitian-penelitian ini sifatnya statistik, bukan alat diagnosis. Menyukai kopi pahit atau bir tentu tidak otomatis membuat seseorang punya gangguan kepribadian antisosial — begitu pula sebaliknya, kesukaan pada makanan manis bukan jaminan seseorang bebas dari sifat tersebut.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait