Breaking
Memuat breaking news...

Dorong Ruang Publik Ramah Autisme, Komunitas Desak Penyediaan Fasilitas Ruang Tenang

Qaplo
Qaplo
Minggu, 14 Juni 2026 - 5.00 PM WIB
Dorong Ruang Publik Ramah Autisme, Komunitas Desak Penyediaan Fasilitas Ruang Tenang
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA — Akses terhadap fasilitas pengembangan diri dan ruang publik yang ramah bagi penyandang autisme di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan besar. Meskipun wadah pameran seni dan pelatihan kreatif bagi individu autistik mulai berkembang, distribusinya sejauh ini dianggap belum merata dan masih berpusat di kota-kota besar. Akibatnya, talenta anak-anak spektrum autisme yang berada di daerah terpencil atau kota kecil belum terjangkau secara optimal.

Persoalan ini mengemuka dalam diskusi "Reimagining Movement for Everyone" yang diinisiasi oleh studio kreatif Kreaby bersama Hyundai Motorstudio di Senayan Park, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026). Director & Co-founder Kreaby, Arani Aslama, mengungkapkan bahwa selain perluasan distribusi karya ke luar Jakarta, hal krusial yang mendesak untuk dibenahi adalah infrastruktur fisik di area publik yang belum mengakomodasi kebutuhan sensorik penyandang autisme.

Arani menekankan pentingnya pengelola fasilitas umum atau penyelenggara acara untuk menyediakan quiet room (ruang tenang) atau area jeda khusus. Fasilitas tersebut berfungsi sebagai ruang pemulihan bagi individu autistik ketika mereka mengalami overstimulasi sensorik—kondisi di mana otak menerima terlalu banyak informasi dari pancaindra akibat kebisingan, lampu yang terlalu terang, atau keramaian publik. Kehadiran ruang tenang ini diyakini dapat memberikan rasa aman bagi mereka untuk tetap aktif beraktivitas di luar rumah.

Pada kesempatan yang sama, Director Nathan's Foundation, Adelle Odelia Tanuri, menyoroti aspek kesiapan keluarga mengenai pentingnya intervensi dini (early intervention). Orang tua diimbau untuk peka terhadap keunikan tumbuh kembang anak sejak balita dan segera melakukan konsultasi dengan dokter spesialis anak serta terapis jika mendapati gejala keterlambatan komunikasi atau perilaku tertentu.

Adelle mengingatkan para orang tua bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam mendampingi anak autistik. Saat ini ekosistem dukungan (support system) dan komunitas edukasi sudah semakin terbuka untuk membantu keluarga melewati masa-masa awal diagnosis. Langkah intervensi yang cepat dan tepat sejak usia dini terbukti secara klinis mampu mengoptimalkan potensi serta kemandirian anak hingga mereka dewasa kelak.

Menciptakan lingkungan inklusif bukan lagi sekadar kampanye moralitas, melainkan kebutuhan mendesak yang melibatkan regulasi tata kota dan kesadaran sosial. Selama ini, banyak penyandang autisme terisolasi di dalam rumah bukan karena mereka tidak memiliki potensi, melainkan karena ruang publik kita sering kali "terlalu bising" dan tidak ramah terhadap kebutuhan sensorik mereka.

Bagi masyarakat umum, edukasi untuk tidak memberikan stigma negatif atau tatapan menghakimi ketika melihat anak autistik mengalami tantrum di tempat umum adalah langkah awal yang sangat berharga. Sementara bagi pelaku industri dan pemerintah, penyediaan sudut tenang di mal, stasiun, bandara, dan taman kota adalah investasi inklusivitas yang nyata untuk menjamin hak setara bagi setiap warga negara.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait