CEO Xbox: Targetkan Harus Kembali Tumbuh Sebelum Pertengahan 2027

CEO Xbox Asha Sharma memberi tenggat waktu yang jelas kepada jajarannya: sebelum tahun fiskal 2027 berakhir Juni mendatang, Xbox harus sudah kembali tumbuh, baik dari sisi jumlah pemain maupun pendapatan. Target itu disampaikan Sharma dalam sebuah memo internal yang diperoleh The Verge.
"Kami akan mengembalikan XBOX ke pertumbuhan pemain dan pendapatan," tulis Sharma, seperti dikutip dari memo tersebut. Ia juga menyebut Xbox akan "memperbaiki profit agar sejalan dengan rata-rata industri," dan menegaskan bahwa "setiap fungsi dan studio akan menanggung bagian dari hasil tersebut." Dengan kata lain, tak ada divisi yang bisa berdiam diri menunggu unit lain memperbaiki keadaan.
Pernyataan ini bukan muncul dari ruang hampa. Sejak diangkat menjadi Executive Vice President sekaligus CEO Microsoft Gaming pada Februari 2026 menggantikan Phil Spencer, Sharma langsung tancap gas melakukan perombakan yang ia sendiri sebut sebagai restrukturisasi paling signifikan dalam sejarah Xbox. Bulan lalu, Microsoft mengumumkan pemangkasan sekitar 3.200 karyawan Xbox sepanjang tahun fiskal 2027, dengan 1.600 di antaranya berlaku efektif lebih dulu. Empat studio juga dilepas dari naungan Xbox ke manajemen baru.
Alasan di balik reset besar-besaran
Sharma sebelumnya menjelaskan sederet persoalan yang menjadi dasar keputusan itu. Ia menyoroti apa yang disebutnya accountability margin yang rendah -- istilah internal Microsoft untuk target margin keuntungan yang selama ini dibebankan ke Xbox. Selain itu, biaya komponen untuk memproduksi perangkat keras terus naik, sementara jajaran studio Xbox dinilai "terlalu melebar" alias over-extended. Infrastruktur platform Xbox pun, menurut Sharma, "belum dibangun untuk pertarungan yang ada di depan."
Poin soal margin ini sejalan dengan laporan yang lebih dulu beredar. GeekWire melaporkan Xbox selama ini beroperasi dengan margin 3 hingga 10 kali lebih rendah dibanding rata-rata kompetitor di industri game, setelah bertahun-tahun belanja besar yang tidak diimbangi pertumbuhan sepadan. Bloomberg bahkan pernah menyebutkan bahwa manajemen Microsoft sempat mematok target margin keuntungan hingga 30 persen untuk Xbox -- jauh di atas rata-rata industri yang biasanya berkisar 17-22 persen. Tekanan semacam inilah yang disebut-sebut mendorong gelombang pemutusan hubungan kerja dan pembatalan proyek di lingkungan Xbox selama beberapa tahun terakhir.
Data kuartal terbaru turut menjelaskan mengapa Sharma bergerak cepat. Menurut laporan keuangan Microsoft untuk kuartal keempat tahun fiskal 2026 (April-Juni 2026), pendapatan konten dan layanan Xbox turun 10 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sementara pendapatan dari perangkat keras anjlok 13 persen. Ironisnya, Sharma sendiri menyebut Xbox sebenarnya kedatangan lebih dari 200 juta pemain baru sepanjang tahun fiskal 2026 -- hanya saja lonjakan pemain itu tidak diikuti pertumbuhan bisnis yang sepadan.
Strategi eksklusivitas dan ambisi satu miliar pengguna
Di luar urusan efisiensi biaya, Xbox juga mulai mengubah pendekatan soal eksklusivitas game. Gears of War: E-Day, yang dikembangkan The Coalition bersama People Can Fly, serta Clockwork Revolution kini dijadikan judul eksklusif konsol Xbox, dan menurut memo tersebut, langkah serupa berpotensi diperluas ke judul-judul lain ke depannya. Ini menandai pergeseran arah, mengingat belakangan Microsoft justru dikenal lebih longgar merilis game-game andalannya, termasuk Gears of War, ke platform lain seperti PlayStation.
Sharma juga melontarkan target jangka panjang yang jauh lebih ambisius: menjadikan Xbox "salah satu dari sedikit perusahaan yang menghibur lebih dari satu miliar orang setiap harinya." Target ini terdengar hampir mustahil bila dibandingkan dengan kondisi Xbox saat ini yang justru sedang berjuang menahan penurunan pendapatan, namun tetap disampaikan Sharma sebagai arah jangka panjang yang ingin dituju.
Bagi pekerja di lingkungan Xbox, target-target besar ini datang di tengah situasi yang jauh dari nyaman. Sejumlah pekerja yang tergabung dalam serikat sempat menggelar aksi protes di beberapa studio milik Xbox, menyusul gelombang PHK yang menyasar unit-unit di bawah Activision, Bethesda/ZeniMax, Blizzard, King, Mojang, hingga Xbox Game Studios sendiri.
Belum ada kepastian mengenai bentuk konkret dari janji "kembali tumbuh" ini -- apakah akan tercermin lewat harga produk baru, perubahan skema Game Pass, atau sekadar membaiknya angka di laporan keuangan kuartalan. Yang jelas, tenggat waktu sudah dipasang: akhir Juni 2027, dan menurut Sharma, seluruh bagian dari Xbox kini dituntut ikut menanggung hasilnya.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda