Breaking
Memuat breaking news...

Bisakah Pesawat Mendarat Sendiri Pakai Autopilot? Ini Faktanya

Redaksi
Redaksi
Senin, 10 Agustus 2026 - 6.17 AM WIB
Bisakah Pesawat Mendarat Sendiri Pakai Autopilot? Ini Faktanya
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Banyak orang mengira autopilot itu cuma "cruise control" versi pesawat. Nyalakan, terus pesawat jalan lurus sendiri di udara. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit—dan lebih canggih—dari itu.

Di pesawat komersial modern, autopilot bisa menangani hampir seluruh fase penerbangan: naik ke ketinggian jelajah, terbang stabil, sampai mulai turun menjelang mendarat. Tapi begitu masuk fase pendaratan, ceritanya berbeda. Tidak semua sistem autopilot punya kemampuan untuk benar-benar mendaratkan pesawat tanpa campur tangan pilot. Kemampuan khusus ini punya nama sendiri: autoland.

Jawaban singkatnya, ya, ada pesawat yang bisa mendarat sendiri lewat autopilot. Tapi fiturnya tidak selalu bisa dipakai kapan saja. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi lebih dulu.

Autoland Itu Apa, Sih?

Autoland adalah fitur yang memungkinkan pesawat mendarat sepenuhnya secara otomatis, mulai dari proses turun (descent), gerakan mengangkat hidung pesawat sesaat sebelum roda menyentuh landasan (flare), sampai touchdown itu sendiri. Beberapa pesawat berbadan besar dari maskapai umumnya sudah dibekali fitur ini. Salah satu yang kerap disebut punya sistem autoland yang sangat baik, menurut sejumlah pilot, adalah Boeing 777.

Fitur ini biasanya bukan dipakai untuk gaya-gayaan atau sekadar kenyamanan. Autoland umumnya baru diaktifkan saat kondisi visibilitas sangat buruk, misalnya kabut tebal yang membuat pilot nyaris tidak bisa melihat landasan sama sekali.

Syarat Sebelum Pesawat Boleh "Mendarat Sendiri"

Tidak sembarang pesawat, di sembarang bandara, bisa langsung pakai autoland. Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi bersamaan:

  • Pesawatnya sendiri memang harus dilengkapi sistem autoland.

  • Bandara tujuan wajib punya Instrument Landing System (ILS) yang mendukung pendekatan Kategori III—standar tertinggi untuk panduan pendaratan berbasis instrumen.

  • Minimal dua sistem autopilot harus aktif bersamaan, sebagai cadangan kalau salah satu tiba-tiba bermasalah di tengah proses.

Kalau salah satu syarat ini tidak terpenuhi, misalnya cuma ada satu autopilot yang bisa diaktifkan, pilot harus siap mengambil alih kendali kapan saja jika sistem otomatisnya gagal.

Bagaimana Prosesnya di Kokpit

Sebelum mendarat otomatis dimulai, pilot lebih dulu memasukkan data pendekatan ke Flight Management System (FMS). Dari sana, ILS mulai bekerja mengirim sinyal radio ke pesawat lewat dua komponen utama: localizer, yang memberi tahu posisi ujung landasan, dan glide slope, yang memberi tahu apakah pesawat terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kedua sinyal ini bersama-sama membentuk jalur turun yang presisi menuju landasan. Perangkat ILS sendiri ada di darat, dipasang di sekitar dan sepanjang landasan pacu.

Begitu pesawat mendekati bandara dan menangkap sinyal glide slope, proses turun terkendali pun dimulai. Selama fase ini, sistem autoland terus-menerus menyesuaikan tenaga mesin lewat autothrottle, menjaga posisi pitch dan roll agar pesawat tetap sejajar dengan landasan, sekaligus mengatur yaw lewat rudder trim untuk melawan angin samping.

Detail teknisnya bisa berbeda-beda tergantung tipe pesawat. Pilot tetap duduk mengawasi seluruh proses ini, tapi tidak menyentuh kendali kecuali ada yang tidak beres.

Kalau semua parameter tetap dalam batas aman, pesawat terus turun otomatis sampai mencapai ketinggian tertentu di atas landasan. Di titik inilah autoland memulai gerakan flare—mengangkat hidung pesawat sedikit demi sedikit untuk memperlambat laju turun dan membuat pendaratan lebih halus.

Bagian ini sebenarnya salah satu yang paling sulit dilakukan manual, apalagi saat visibilitas buruk. Sistem autoland bisa melakukannya dengan presisi tinggi berkat data dari radar altimeter, yang mengukur ketinggian pesawat secara sangat akurat.

Setelah roda menyentuh landasan, autobrake dan thrust reverser biasanya diaktifkan, sebagian dengan sedikit input dari pilot tergantung tipe pesawatnya. Tergantung pesawatnya juga, autopilot bisa membantu menjaga pesawat tetap lurus di garis tengah landasan selama fase rollout, yaitu ketika pesawat melambat sebelum berhenti sepenuhnya.

Nah, urusan taksi menuju gate setelah itu, sepenuhnya kembali jadi tugas pilot—belum ada sistem otomatis untuk bagian ini.

Kenapa Penumpang Perlu Tahu Soal Ini

Buat sebagian orang, tahu bahwa pendaratan bisa dilakukan otomatis mungkin malah bikin was-was. Padahal justru sebaliknya. Autoland dirancang sebagai lapisan keamanan tambahan, terutama untuk situasi yang sebenarnya berbahaya kalau ditangani manual, seperti kabut tebal yang menutup landasan dari pandangan pilot.

Sistemnya pun tidak berjalan sendirian tanpa pengawasan—pilot tetap memegang kendali penuh dan siap mengambil alih kapan pun dibutuhkan.

Jadi, kalau suatu saat mendengar pengumuman soal kondisi cuaca buruk saat mendarat, ada kemungkinan besar pesawat yang kamu tumpangi sedang mengandalkan salah satu teknologi penerbangan paling canggih ini untuk membawamu turun dengan selamat.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait