Breaking
Memuat breaking news...

Alibaba dan DeepSeek Kompak Gebrak Persaingan AI Global: Qwen3.8-Max Raksasa, V4-Flash Termurah

Redaksi
Redaksi
Rabu, 5 Agustus 2026 - 3.57 PM WIB
Alibaba dan DeepSeek Kompak Gebrak Persaingan AI Global: Qwen3.8-Max Raksasa, V4-Flash Termurah
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Dua raksasa teknologi China kompak mencuri perhatian dunia AI dalam pekan yang sama. Alibaba memperkenalkan model paling canggih yang pernah mereka buat, sementara DeepSeek balik menegaskan reputasi lamanya sebagai jagoan harga murah lewat model baru yang diklaim jauh lebih hemat dibanding pesaing-pesaing besar dari AS.

Qwen3.8-Max, Model Terbesar Alibaba Sejauh Ini

Alibaba resmi meluncurkan Qwen3.8-Max pada Senin (3/8/2026), model dengan 2,4 triliun parameter — konfigurasi numerik yang dipelajari sistem AI dari data untuk mengenali pola dan menghasilkan jawaban. Angka ini menjadikannya model terbesar kedua asal China, hanya kalah dari Kimi K3 milik Moonshot AI yang punya 2,8 triliun parameter dan sempat diklaim sebagai model open-weight terbesar di dunia saat dirilis pertengahan Juli lalu.

Kabar peluncuran ini langsung disambut positif oleh pasar. Saham Alibaba melonjak 7 persen di bursa Hong Kong, dan turut naik di perdagangan pra-pembukaan New York. Reaksi pasar semacam ini lazim terjadi ketika investor menilai sebuah rilis produk punya nilai strategis, bukan sekadar pembaruan rutin.

Meski total parameternya raksasa, Qwen3.8-Max sebenarnya tidak "menyalakan" semuanya sekaligus setiap kali menjawab pertanyaan. Alibaba memakai arsitektur mixture-of-experts, semacam sistem pembagian kerja yang hanya mengaktifkan bagian-bagian model yang relevan untuk tugas tertentu. Hasilnya, hanya sekitar 95 miliar parameter yang benar-benar dipakai dalam satu kali pemrosesan — jauh lebih hemat dibanding kalau seluruh 2,4 triliun parameter itu harus diproses sekaligus.

Dari sisi kemampuan, model ini bisa mencerna teks, gambar, dan video sekaligus, dengan kapasitas hingga satu juta token dalam satu waktu. Sebagai gambaran, kapasitas segitu setara dengan ratusan halaman dokumen hukum atau satu basis kode perangkat lunak yang cukup besar, sehingga model bisa "membaca" keseluruhan konteks tanpa terpotong-potong.

Di platform pembanding Arena.AI, Qwen3.8-Max langsung menjadi model China dengan peringkat tertinggi untuk kategori teks — meski laporan yang beredar bervariasi soal posisi persisnya, ada yang mencatat peringkat kelima secara global untuk Text Arena dan kedua untuk Vision Arena.

Yang konsisten di berbagai laporan: model ini masih berada di bawah Claude Fable 5 dan sejumlah varian Opus milik Anthropic, meski jaraknya kian menipis. Perlu digarisbawahi, angka-angka benchmark yang dipublikasikan Alibaba sendiri berasal dari pengujian internal perusahaan, sehingga independensi hasilnya masih perlu diuji oleh pihak ketiga secara lebih luas.

Model ini sudah bisa diakses lewat Alibaba Cloud Model Studio saat artikel ini ditulis. Bobot modelnya (open weights) — yang memungkinkan pengembang mengunduh dan mengutak-atik parameter inti model secara bebas — dijanjikan menyusul pekan depan.

DeepSeek V4-Flash: Bukan yang Terkuat, tapi Termurah

Di sisi lain, DeepSeek merilis V4-Flash pada Jumat (31/7/2026) lalu. Firma riset independen Artificial Analysis menobatkannya sebagai model AI ternama dengan biaya operasional termurah di dunia saat ini.

Secara harga resmi, DeepSeek mematok tarif US$0,14 per juta token input dan US$0,28 per juta token output. Namun Artificial Analysis punya cara pengukuran yang lebih relevan buat pengguna, yaitu biaya rata-rata untuk menyelesaikan satu rangkaian uji benchmark.

Dengan metode ini, V4-Flash hanya menghabiskan sekitar US$0,03 per pengujian — dibandingkan US$0,86 untuk Kimi K3, US$1,86 untuk GPT-5.6 Sol milik OpenAI, dan US$3,15 untuk Claude Fable 5. Artinya, DeepSeek memang benar diklaim lebih dari 100 kali lebih murah dioperasikan dibanding Fable 5, berdasarkan metode pengukuran ini.

Metode "biaya per pengujian" ini dipakai karena harga per token saja bisa menyesatkan. Model dengan tarif murah tapi butuh lebih banyak langkah untuk sampai ke jawaban yang benar, pada akhirnya bisa jadi tetap mahal secara keseluruhan.

Soal kemampuan murni, V4-Flash tidak istimewa. Model ini meraih skor 50 dari 100 pada Intelligence Index milik Artificial Analysis — indeks gabungan dari sembilan benchmark yang mengukur kemampuan coding, penalaran, hingga tugas ala pekerjaan kantoran sehari-hari. Skor itu setara dengan Gemini 3.6 Flash milik Google, tapi masih di bawah Kimi K3 (57) maupun model-model kelas atas seperti Claude Opus 5, Claude Fable 5, dan GPT-5.6 milik OpenAI yang unggul sembilan poin atau lebih.

Dengan kata lain, V4-Flash bukan dirancang untuk mengalahkan model-model terbaik di kelasnya, melainkan untuk melayani kebutuhan yang cukup dengan biaya seminimal mungkin.

DeepSeek sendiri bukan pemain baru dalam soal banting harga. Model R1 dan V3 yang mereka rilis awal 2025 sempat memicu aksi jual saham teknologi secara global dan menimbulkan pertanyaan besar soal rasionalitas besarnya belanja infrastruktur AI perusahaan-perusahaan AS. Startup ini disebut tengah bersiap untuk penawaran saham perdana (IPO), dan kedua model V4 dirancang agar bisa berjalan di atas chip Ascend buatan Huawei, selain chip Nvidia yang selama ini jadi standar industri.

Baik Qwen3.8-Max maupun V4-Flash sama-sama mengusung pendekatan open-weight — model yang bobot parameter utamanya bisa diunduh dan disesuaikan sendiri oleh pengembang. Pendekatan ini berbeda dari model tertutup yang selama ini jadi andalan OpenAI, Anthropic, dan Google, di mana akses ke inti model tetap dikunci di server perusahaan.

Kepala Analis Omdia, Lian Jye Su, menilai perusahaan-perusahaan AI China sudah menemukan ceruk pasar yang tepat. "Perusahaan AI China telah menemukan pasar yang penting. Banyak alur kerja bisnis tidak membutuhkan model AI terbaik di industri," katanya kepada Reuters, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, kebanyakan pelaku usaha sebenarnya tidak butuh model paling pintar di dunia. Yang mereka cari adalah model yang cukup baik, harganya masuk akal, prosesnya transparan, dan mudah diakses — kebutuhan yang justru lebih pas dipenuhi lewat pendekatan open-weight ketimbang model tertutup yang serba eksklusif.

Peluncuran ganda ini menambah panjang daftar model besar yang dirilis perusahaan China dalam beberapa bulan terakhir, menyusul Kimi K3 dari Moonshot AI pertengahan Juli lalu. Pola yang muncul cukup jelas: alih-alih head-to-head mengejar performa mentah tertinggi, perusahaan-perusahaan China tampak memilih dua jalur sekaligus — membangun model raksasa yang kompetitif dari sisi kemampuan (seperti Qwen3.8-Max), sekaligus menggempur dari sisi harga lewat model yang jauh lebih terjangkau (seperti V4-Flash).

Bagi pelaku bisnis maupun pengembang, persaingan ini pada akhirnya menguntungkan: pilihan model AI semakin beragam, dan tekanan harga dari pemain China turut mendorong ekosistem AI secara keseluruhan menjadi lebih kompetitif.

Namun perlu dicatat, klaim performa dari masing-masing perusahaan — baik soal peringkat benchmark maupun efisiensi biaya — sejauh ini masih banyak bersumber dari pengujian yang dilakukan perusahaan itu sendiri atau firma riset pihak ketiga dengan metodologi masing-masing, sehingga hasil di dunia nyata bisa saja bervariasi tergantung jenis pekerjaan yang dijalankan.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait