Breaking
Memuat breaking news...

Adopsi Xbox Play Anywhere Terus Meningkat, tapi Masih Banyak Game Besar yang Absen

Redaksi
Redaksi
Minggu, 2 Agustus 2026 - 5.44 PM WIB
Adopsi Xbox Play Anywhere Terus Meningkat, tapi Masih Banyak Game Besar yang Absen
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Salah satu fitur Xbox yang menurut banyak pengamat kurang mendapat sorotan sepadan, Xbox Play Anywhere, ternyata terus menunjukkan tren adopsi yang membaik sepanjang 2026. Namun celah antara game yang mendukung fitur ini dengan yang tidak masih cukup lebar, terutama di kalangan judul-judul besar dari publisher pihak ketiga.

Xbox Play Anywhere sendiri adalah program yang memungkinkan pemain membeli sebuah game satu kali, lalu memainkannya baik di konsol Xbox Series X|S maupun di PC Windows tanpa biaya tambahan. Di tengah meningkatnya perhatian pada isu hak digital dan pelestarian game, fitur lintas platform semacam ini sebenarnya punya nilai yang cukup signifikan bagi pemain—terutama bagi pemilik perangkat genggam seperti Xbox Ally, yang bisa menikmati koleksi game Xbox mereka langsung dari perangkat berbasis Windows.

Menurut pelacakan manual yang dilakukan sumber Xbox asal Korea Selatan, KoreaXboxNews, sepanjang 2026 rasio game baru yang meluncur dengan dukungan Xbox Play Anywhere terus merangkak naik dan kini mendekati angka 50 persen. Tren ini terbilang cukup mengesankan mengingat dukungan terhadap program ini selama ini dikenal tidak konsisten, meski Microsoft sempat meraih sejumlah kemenangan besar dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu momen paling menonjol datang dari 007: First Light garapan IO Interactive. Biasanya, Microsoft memang mensyaratkan mitra Xbox Game Pass untuk menyertakan dukungan Xbox Play Anywhere sebagai bagian dari kesepakatan pendanaan. Namun 007: First Light dianggap istimewa karena termasuk game AAA langka yang memilih mendukung Xbox Play Anywhere tanpa insentif semacam itu—dukungan yang datang secara sukarela dari pihak developer sendiri.

Sejumlah judul besar lain yang belakangan turut mendukung program ini di antaranya Hell is Us, Palworld versi 1.0, Subnautica 2, Arc Raiders, Cronos: The New Dawn, STALKER 2, Persona 4 Revival, Final Fantasy Resonance, Valor Mortis, Control Resonant, Onimusha: Way of the Sword, Blood of the Dawnwalker, dan Beast of Reincarnation.

Meski tren umumnya positif, tidak semua kabar soal Xbox Play Anywhere menggembirakan. Ubisoft masih menjadi salah satu sumber frustrasi terbesar di kalangan pengguna. Layanan Ubisoft+ Classics memang menjadi salah satu benefit dari Xbox Game Pass, tapi versi PC-nya datang tanpa dukungan achievement, dukungan cloud save yang tidak konsisten, dan tetap mewajibkan aplikasi Ubisoft Connect di PC—yang sejauh ini tidak memberi manfaat nyata tambahan bagi pemain.

Ada pula kasus yang lebih mengganggu: sejumlah game yang sebelumnya mendukung Xbox Play Anywhere justru kehilangan fitur ini pada sekuelnya. Resident Evil 7 dan Mortal Shell disebut sebagai contoh nyata dari pola ini. Untungnya, tidak semua kasus berakhir demikian—Aliens: Fireteam Elite 2 misalnya, sempat tidak menyertakan dukungan Xbox Play Anywhere saat peluncuran, namun akhirnya mendapat sertifikasi program ini belakangan.

Kekecewaan serupa juga tampak dari sisi katalog lama. Belum banyak insentif bagi developer untuk menghadirkan dukungan Xbox Play Anywhere pada game-game lawas mereka. Memang ada beberapa contoh sukses, seperti Resident Evil Village yang mendapat dukungan penuh berkat kesepakatan dengan Game Pass. Namun ironisnya, sebagian besar katalog lawas milik Microsoft sendiri pun belum pernah diportasi ke Xbox Play Anywhere—kondisi yang membuat sulit meyakinkan developer pihak ketiga bahwa upaya serupa layak dilakukan untuk game mereka.

Persoalan ini bukan cuma soal kenyamanan pemain semata. Penjualan game lewat Xbox PC sebenarnya memberikan pendapatan yang lebih besar bagi developer dibanding lewat Steam. Dalam jangka panjang, membangun toko PC alternatif yang kredibel di luar Steam berpotensi menguntungkan para kreator di industri game secara lebih luas.

Persoalannya, developer indie pada khususnya kerap kesulitan membenarkan biaya tambahan yang dibutuhkan untuk menghadirkan game mereka ke Xbox versi PC. Tanpa dorongan lebih jauh dari Microsoft sendiri—baik lewat insentif finansial maupun dukungan teknis—masih belum jelas apakah pendekatan "menunggu developer mendukung secara organik" ini akan cukup efektif dalam jangka panjang, mengingat Xbox sendiri saat ini juga tengah menghadapi berbagai tantangan lain di luar isu Play Anywhere ini.

Bagi pemain yang mengandalkan ekosistem Xbox lintas perangkat, terutama pemilik Xbox Ally atau PC berbasis Windows, perkembangan rasio adopsi ini tetap jadi indikator penting untuk dipantau ke depannya—setidaknya untuk menakar seberapa jauh Microsoft mampu meyakinkan lebih banyak publisher besar untuk ikut serta.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait