BPS Ingatkan Dampak El Nino Berkepanjangan terhadap Harga Pangan hingga 2027

Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan potensi dampak nyata dari fenomena cuaca El Nino yang diperkirakan berlangsung lama, terhadap harga sejumlah komoditas pangan di Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino yang terjadi sepanjang 2026 berpotensi bertahan hingga awal 2027. Dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (1/9/2026), Ateng menegaskan kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama dampaknya terhadap perubahan harga sejumlah komoditas pangan.

Bagaimana El Nino Bisa Memicu Inflasi Pangan

Ateng menjelaskan, dinamika cuaca dan iklim seperti El Nino dapat memberi efek terhadap inflasi lewat pergerakan harga pada kelompok komponen pangan yang bergejolak — istilah yang merujuk pada komoditas dengan harga cenderung fluktuatif, seperti cabai, bawang, atau daging ayam, berbeda dengan komoditas yang harganya relatif stabil.

Secara lebih spesifik, El Nino berpotensi memengaruhi ketersediaan air untuk tanaman serta mengubah pola tanam komoditas hortikultura. BPS memantau dampak ini lewat pergerakan harga komoditas pangan dan hortikultura yang dinilai sensitif terhadap ketersediaan air dan perubahan pola tanam.

Meski demikian, Ateng menegaskan bahwa fenomena iklim seperti El Nino bukan satu-satunya faktor yang bisa memicu kenaikan inflasi pangan. Menurutnya, dinamika produksi, keseimbangan pasokan dan permintaan (supply-demand), kelancaran jalur distribusi, ketersediaan pasokan di pasar, hingga pola konsumsi masyarakat turut menjadi faktor-faktor yang saling memengaruhi tingkat inflasi pangan.

Data Inflasi Agustus 2026

Sebagai gambaran kondisi terkini, BPS mencatat inflasi dari komponen bergejolak pada Agustus 2026 mencapai 0,88 persen, dengan andil terhadap inflasi keseluruhan sebesar 0,15 persen — angka tertinggi dibanding komponen inti maupun komponen harga yang diatur pemerintah pada periode yang sama.

Ateng menyebut komoditas yang paling dominan menyumbang andil inflasi pada komponen bergejolak ini adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan beras — tiga komoditas yang memang kerap menjadi penyumbang utama gejolak harga pangan di Indonesia.

Data ini menjadi pengingat bahwa potensi berlanjutnya El Nino hingga awal 2027 perlu diantisipasi bersama, baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha di sektor pangan, mengingat dampaknya yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat lewat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.