JAKARTA — Kecerdasan buatan kini bukan sekadar alat bantu belajar. Semakin banyak anak dan remaja di Indonesia yang menjadikan chatbot sebagai teman curhat, tempat meluapkan isi hati, hingga meminta nasihat soal hubungan dan masalah keluarga. Fenomena ini menghadirkan peringatan serius bagi orang tua dan pendidik.

Pakar digital Enda Nasution menilai risiko terbesarnya adalah ketergantungan emosional pada mesin. Chatbot dirancang untuk selalu ramah, siap mendengarkan kapan pun, dan cenderung mengiyakan pendapat pengguna. Lambat laun, kebiasaan ini bisa mengikis ikatan emosional anak dengan orang tua di rumah.

Selain persoalan emosi, anak juga rentan terpapar informasi keliru, konten manipulasi video (deepfake), dan jawaban yang disampaikan dengan sangat meyakinkan padahal keliru. AI tetaplah mesin yang bisa salah, meski bahasanya terdengar seolah-olah benar.

“Kalau dulu kita mengingatkan anak supaya jangan mudah percaya dengan apa yang mereka baca di internet, sekarang mereka bisa bertanya langsung ke AI dan mendapat jawaban yang terdengar sangat meyakinkan. Padahal AI juga bisa salah, bahkan bisa memberikan informasi yang sama sekali tidak benar,” kata Enda kepada Republika, Sabtu (17/10/2026).

Risiko Data Pribadi

Enda juga mengingatkan soal privasi. Respons AI yang hangat dan terkesan memahami dapat membuat anak merasa nyaman untuk bercerita banyak hal, termasuk persoalan yang sangat pribadi. Padahal, setiap informasi yang dibagikan masuk ke layanan teknologi yang memiliki aturan penyimpanan dan penggunaan data tersendiri.

Anak perlu memahami bahwa mesin tidak memiliki kewajiban menjaga rahasia seperti orang yang dipercaya. Oleh karena itu, kesadaran menjaga data pribadi harus ditanamkan sejak awal.

Literasi Digital Tetap Kuncinya

Menurut Enda, prinsip literasi digital yang selama ini diajarkan masih relevan, hanya diperluas cakupannya. Anak perlu dilatih berpikir kritis: tidak langsung memercayai informasi dari AI, memeriksa sumbernya, dan membandingkannya dengan informasi lain. Melalui kampanye seperti Bijak Ber-AI dan Bijak Bersosmed, anak bisa belajar menjaga privasi, menangkal hoaks, sekaligus mencegah ketergantungan emosional pada AI.

Perlindungan anak di ruang digital juga tak bisa dibebankan hanya kepada keluarga. Sekolah perlu mengajarkan literasi digital dan AI, pemerintah memastikan regulasi berjalan, dan perusahaan teknologi wajib menjamin keamanan layanan sejak dirancang.

“Jangan semua dibebankan kepada pengguna. Mereka yang membuat dan menyediakan teknologinya juga harus memikirkan keamanan anak sejak awal,” ujar Enda.

Perbincangan ini mengemuka seiring dua tahun perjalanan pemerintahan Prabowo-Gibran, yang menandai bahwa tantangan transformasi digital nasional tidak hanya soal jaringan dan perangkat, tetapi juga soal melindungi psikologi sekitar 70 juta anak bangsa dari risiko ketergantungan teknologi.

Sumber: Republika.co.id