Breaking
Memuat breaking news...

Wapres AS dan Panglima Militer Sama-sama Sampaikan Kekhawatiran soal Eskalasi Perang Iran ke Trump

Qaplo
Qaplo
Minggu, 26 Juli 2026 - 9.54 AM WIB
Wapres AS dan Panglima Militer Sama-sama Sampaikan Kekhawatiran soal Eskalasi Perang Iran ke Trump
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

QAPLO - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dan Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine sama-sama menyampaikan kekhawatiran soal risiko eskalasi perang dengan Iran, saat Presiden Donald Trump mempertimbangkan opsi serangan lebih lanjut dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat. Informasi ini disampaikan sumber yang mengetahui langsung pertemuan tersebut serta seorang pejabat AS kepada CNN.

Pada Jumat malam, Amerika Serikat tampak menghentikan sementara kampanye pengebomannya terhadap Iran, setelah hampir dua pekan melancarkan serangan beruntun setiap malam. Seorang sumber dari Departemen Pertahanan AS menyebut kepada CNN pada Sabtu bahwa operasi militer saat ini "ditahan sementara" (on hold).

Kekhawatiran soal Stok Amunisi

Menurut sumber-sumber tersebut, Caine secara spesifik mengangkat kekhawatiran soal stok amunisi AS serta sejumlah potensi dampak negatif lain dalam pertemuan itu. Salah satu sumber menyebut Caine menyampaikan kepada Trump dan jajaran militer bahwa opsi serangan yang tersedia bisa saja dijalankan dan berpotensi berhasil, namun ia tetap mengingatkan soal konsekuensi yang mungkin timbul.

Kekhawatiran soal stok amunisi ini disebut hanya salah satu dari sejumlah pertimbangan yang disampaikan kepada Trump dalam pertemuan tersebut. Hingga kini belum dapat dipastikan apakah kekhawatiran soal amunisi atau peringatan soal eskalasi itu yang menjadi alasan utama di balik jeda serangan beruntun ini, atau apakah jeda tersebut akan berlanjut.

Ketegangan ini merupakan bagian dari perang Iran 2026 yang menurut sejumlah pemberitaan internasional bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran. Setelah sempat ada gencatan senjata pada Juni, situasi kembali memanas usai Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz awal Juli, yang kemudian direspons Trump dengan menyatakan gencatan senjata "sudah berakhir" dan melanjutkan serangan beruntun ke sejumlah sasaran militer Iran.

Sikap Resmi Gedung Putih dan Pentagon

Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung menyatakan bahwa Trump secara konsisten lebih memilih penyelesaian lewat jalur diplomasi, namun tetap mempertahankan seluruh opsi yang ada apabila Iran melanjutkan aktivitas yang disebutnya sebagai aksi teror di Selat Hormuz atau terhadap negara sekutu AS. Cheung menambahkan bahwa dengan sanksi yang disebutnya telah melumpuhkan ekonomi Iran, ditambah 13 hari beruntun serangan ke sasaran militer sebagai respons atas apa yang disebutnya "agresi berulang" dari Iran, akan lebih bijak bagi Iran untuk mengarah pada kesepakatan lewat negosiasi.

CNN turut menghubungi kantor Vance untuk meminta tanggapan, namun hingga laporan ini disusun belum ada balasan.

Juru Bicara Utama Pentagon Sean Parnell, dalam pernyataan terpisah kepada CNN, menegaskan bahwa militer AS memiliki seluruh kapabilitas yang diperlukan untuk menjalankan misi kapan pun dan di mana pun sesuai keputusan presiden, serta menyebut sejumlah operasi telah berhasil dijalankan di berbagai wilayah tanggung jawab militer AS tanpa mengorbankan kesiapan kekuatan pertahanan negara itu.

Posisi Trump dan Arah Negosiasi

Trump sendiri, saat berbicara kepada wartawan usai pertemuan dengan anggota kabinet dan penasihat senior pada Jumat, menegaskan bahwa pejabat AS tengah aktif berunding dengan Iran, meski ia juga menyebut kemungkinan militer AS melanjutkan kampanye pengeboman atau bahkan "memperberat dosisnya". Trump mengklaim Iran tampak semakin "serius" dalam perundingan yang tengah berlangsung.

Menurut sumber yang mengetahui situasi ini, hingga Jumat sore pemerintahan Trump masih berdiskusi soal bentuk eskalasi yang mungkin diambil bila opsi itu dipilih. Sejumlah negara Teluk disebut telah meminta AS menahan diri dalam pembicaraan terbaru dengan pejabat pemerintahan, meski mereka juga mengakui AS memiliki kapabilitas unik yang bisa digunakan untuk meningkatkan eskalasi konflik jika memilih melakukannya.

Bahkan setelah sempat menyebut mempertimbangkan serangan besar-besaran ke Iran pekan ini, Trump disebut secara pribadi tetap mengarahkan tim perundingnya untuk terus melanjutkan pembicaraan, yang menurut sumber tersebut mencerminkan posisi presiden yang masih mempertimbangkan opsi eskalasi militer terbatas tanpa mengerahkan pasukan darat AS. Sejumlah sumber menyebut hanya sedikit kalangan dekat Trump maupun di lingkungan Pentagon yang meyakini opsi eskalasi akan memberi hasil sesuai harapan presiden.

Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini relevan terutama karena kaitannya dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sebagian besar pasokan minyak dunia. Eskalasi lebih lanjut di kawasan itu berpotensi memengaruhi harga minyak dan biaya logistik global, yang pada akhirnya bisa berdampak pada harga bahan bakar maupun barang impor di dalam negeri. Situasi ini masih berkembang, dan sejauh ini belum ada kepastian apakah jeda serangan AS terhadap Iran akan berlanjut atau justru diikuti eskalasi baru dalam waktu dekat.

  • JD Vance dan Jenderal Dan Caine dilaporkan menyampaikan kekhawatiran soal eskalasi perang Iran kepada Trump dalam pertemuan Gedung Putih pada Jumat.

  • AS tampak menghentikan sementara serangan ke Iran pada Jumat malam setelah hampir dua pekan serangan beruntun; status operasi disebut "ditahan sementara".

  • Caine secara spesifik menyoroti risiko terhadap stok amunisi AS jika eskalasi berlanjut, meski menyebut opsi serangan yang ada tetap bisa dijalankan dengan sukses.

  • Gedung Putih menegaskan preferensi Trump pada solusi diplomatik namun tetap membuka semua opsi; Pentagon menegaskan kesiapan militer AS tanpa memberi rincian soal jeda serangan.

  • Belum ada kepastian apakah jeda ini akan berlanjut atau diikuti eskalasi baru, di tengah proses negosiasi yang menurut Trump masih berjalan.

Perang antara AS-Israel dan Iran ini dilaporkan bermula pada 28 Februari 2026. Setelah sempat ada gencatan senjata pada Juni, situasi kembali memanas usai serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz awal Juli, yang direspons AS dengan melanjutkan serangan beruntun ke sejumlah sasaran militer Iran hingga pekan ini.

Eskalasi di sekitar Selat Hormuz berisiko mengganggu jalur pelayaran minyak dunia, yang bisa berimbas pada harga minyak dan biaya logistik global — termasuk potensi dampak tidak langsung terhadap harga bahan bakar dan barang impor di Indonesia. Situasi masih berkembang dan arah selanjutnya, baik menuju negosiasi maupun eskalasi baru, belum dapat dipastikan berdasarkan bahan yang tersedia saat ini.

sumber: cnn

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait