Breaking
Memuat breaking news...

Vale Bidik Tambang Nikel Baru di Tanamalia, Beroperasi Paling Cepat 2029

Redaksi
Redaksi
Jumat, 14 Agustus 2026 - 6.50 AM WIB
Vale Bidik Tambang Nikel Baru di Tanamalia, Beroperasi Paling Cepat 2029
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tengah menyiapkan lokasi tambang nikel anyar bernama Tanamalia, berlokasi di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Proyek ini ditargetkan mulai berproduksi paling cepat pada 2029 — meski sampai sekarang masih di tahap eksplorasi, jadi target itu sifatnya masih perkiraan awal, bukan kepastian.

Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer Vale Indonesia, Budiawansyah, menjelaskan hal ini saat ditemui di Jakarta, Kamis (13/8/2026). Sepanjang 2027, perusahaan masih akan fokus merampungkan studi eksplorasi tahap kedua sekaligus pendetailan desain proyek. Baru setelah itu barulah tahap konstruksi dan produksi bisa dimulai.

Tanamalia bukan proyek sembarangan yang bisa langsung digarap. Budi menegaskan, setiap tambang baru Vale wajib melewati studi ekologi dan studi kebencanaan lebih dulu, persis seperti yang sudah diterapkan di area operasi Sorowako maupun Bahodopi — bahkan menurutnya Sorowako justru punya tingkat risiko yang lebih tinggi sehingga kajiannya pun lebih ketat.

Saat ini proyek berada di tahap Front End Loading (FEL) 2, semacam kerangka kerja internal Vale untuk merencanakan proyek dari berbagai sisi — teknis, ekonomi, lingkungan, sampai bisnis. Tahap ini nantinya menghasilkan data soal kandungan nikel di lokasi, yang jadi dasar apakah tambang ini layak dieksekusi atau tidak. Ada tiga fase FEL secara keseluruhan: FEL 1 menyoal kelayakan bisnis, FEL 2 pemilihan alternatif teknis, dan FEL 3 barulah rencana eksekusi.

Beberapa hal yang belum tercakup dalam keterangan Budi hari itu, tapi relevan untuk gambaran lebih utuh: proyek ini berdiri di atas Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) serta PPKH Nomor 885 Tahun 2025, mencakup kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas seluas sekitar 13.556 hektare di Kecamatan Towuti.

Rencana awal sebelumnya bahkan menyebut jadwal eksplorasi rinci 2025-2026, konstruksi 2027-2028, dan produksi paling cepat 2030 — jadi target 2029 yang disampaikan Budi sedikit lebih cepat dari rencana lama, meski tetap bergantung hasil eksplorasi. Menariknya, dalam kesempatan terpisah pekan sebelumnya, Budi juga sempat mengungkap bahwa Tanamalia digarap bersama mitra pabrikan otomotif asal Eropa, dengan bijih limonit dari tambang ini rencananya akan diolah lewat smelter hidrometalurgi HPAL.

Dengan kata lain: Tanamalia bukan sekadar tambang baru biasa, tapi juga bagian dari rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik yang makin diminati pasar global.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait