Korban Tewas Banjir Bandang Nepal Tembus 389 Orang, Ribuan Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal

Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan longsor yang melanda Nepal terus bertambah, kini mencapai 389 orang. Angka ini berdasarkan data yang diumumkan pihak kepolisian Nepal dan dilaporkan media setempat pada Kamis (27/8).

Sebaran Korban di Berbagai Distrik

Mengutip laporan media lokal Ratopati, pihak kepolisian juga mengonfirmasi setidaknya 466 orang mengalami luka-luka akibat bencana ini. Distrik Chitwan mencatatkan jumlah korban tewas tertinggi dengan 137 jenazah yang berhasil dievakuasi dari wilayah tersebut, disusul Nawalparasi Timur dengan 87 korban tewas. Korban jiwa lainnya juga dilaporkan ditemukan di sejumlah distrik lain, yakni Dhading, Gorkha, Nuwakot, Tanahun, Nawalparasi Barat, dan Rasuwa.

Untuk menangani dampak bencana ini, sebanyak 8.348 personel kepolisian dikerahkan ke wilayah-wilayah terdampak guna menjalankan operasi penyelamatan dan bantuan bencana. Di tengah upaya tersebut, 18 personel kepolisian dilaporkan masih belum diketahui keberadaannya, sementara operasi pencarian korban hilang terus berlanjut hingga kini.

Kronologi Bencana di Perbatasan Nepal-China

Banjir bandang dan longsor lumpur dahsyat ini melanda kawasan perbatasan Nepal-China pada Rabu (26/8) pagi waktu setempat. Aliran banjir yang berasal dari sisi Nepal menghantam gerbang perbatasan Gyirong Port di wilayah Gyirong, Tibet, China.

Berdasarkan analisis citra satelit, bencana ini diduga dipicu oleh lepasnya bongkahan es berukuran besar dari gletser Himalaya, sekitar 20 kilometer di timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi. Runtuhan tersebut membawa berton-ton es dan bebatuan jatuh ke Sungai Bhotekoshi di bagian hilirnya, yang kemudian memicu banjir bandang besar secara tiba-tiba.

Ribuan Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) pada Kamis memperkirakan sedikitnya 10.000 keluarga kehilangan tempat tinggal akibat bencana ini, dan menggambarkan situasi di lapangan sebagai "katastropik". Juru bicara IFRC, Tommaso Della Longa, kepada CNN menyebut situasi di lapangan sangat parah dengan kerusakan yang sangat besar.

Menurut Della Longa, upaya menjangkau keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal masih sangat sulit dilakukan, karena banyak jalan dan jembatan yang hancur, jaringan komunikasi terputus, sehingga sejumlah komunitas hanya bisa dijangkau lewat udara menggunakan helikopter.

Kepala Delegasi IFRC di Nepal, David Fisher, kepada BBC menyampaikan bahwa sejumlah desa dan pasar dilaporkan hilang total akibat terjangan banjir bandang mematikan ini.

Sumber: Anadolu