Untuk Pertama Kali, Batu Bara Tak Lagi Kuasai Setengah Listrik China

Beijing — China, konsumen batu bara terbesar dunia, mencatatkan tonggak baru dalam transisi energinya. Sepanjang enam bulan pertama 2026, pangsa batu bara dalam bauran pembangkit listrik negara itu turun di bawah 50 persen untuk pertama kalinya dalam sejarah pencatatan semesteran.
Angka pastinya 49,7 persen. Data ini disampaikan Xing Yiteng, wakil direktur jenderal biro perencanaan dan pengembangan Badan Energi Nasional China (NEA), dalam konferensi pers pada Kamis (30/7). Sementara itu, energi terbarukan naik ke 41,2 persen dari total pembangkit — juga rekor baru, karena inilah pertama kalinya porsi energi bersih ini menembus angka 40 persen. Dari jumlah tersebut, tenaga angin dan surya menyumbang 24,6 persen, sisanya berasal dari gas alam dan nuklir.
Secara volume, produksi listrik dari batu bara pada Januari–Juni 2026 mencapai 2,5 triliun kilowatt-hour (kWh). Kapasitas terpasang gabungan tenaga angin dan surya di China per akhir Juni tercatat 1,95 miliar kilowatt, melonjak 16,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Xing menyebut pencapaian ini sebagai hasil dari penggantian pembangkit berbasis fosil oleh energi non-fosil secara bertahap dan berkelanjutan — bukan lompatan tiba-tiba, melainkan akumulasi dari kebijakan yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Yang menarik, penurunan pangsa batu bara ini tidak serta-merta berarti konsumsinya menyusut secara total. Sejumlah analis memperkirakan pemakaian batu bara China pada 2026 justru bisa lebih tinggi dibanding 2025, karena permintaan listrik nasional tumbuh sangat cepat.
Ada beberapa pendorongnya: makin banyak warga China beralih ke mobil listrik, pembangunan pusat data untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) terus digenjot, dan ekspor manufaktur tetap tumbuh. Semua ini menyedot listrik dalam jumlah besar — sehingga meski porsi batu bara mengecil dalam persentase, kapasitas pembangkitnya tetap dibutuhkan untuk menutup selisih permintaan yang melonjak itu. Pemerintah China sendiri menargetkan konsumsi batu bara mencapai puncaknya paling lambat pada 2030.
Rencana resmi China mematok porsi tenaga angin dan surya mencapai 30 persen dari total bauran listrik pada 2030. Namun menurut Gao Yuhe, manajer proyek di Greenpeace East Asia, target itu berpeluang tercapai lebih cepat, yakni sekitar 2028 — didorong oleh makin masifnya pemasangan panel surya atap yang dipadukan dengan baterai penyimpan.
Gao menjelaskan, kombinasi sistem penyimpanan energi, mekanisme respons permintaan, serta pasar listrik yang lebih fleksibel akan memungkinkan penetrasi tenaga surya terdistribusi jauh lebih tinggi. Dengan begitu, kebutuhan listrik yang terus bertambah bisa dipenuhi lebih banyak oleh energi terbarukan, bukan bahan bakar fosil.
Di balik capaian yang terlihat positif ini, ada persoalan yang belum banyak disorot: jaringan listrik China mulai kewalahan menyerap seluruh energi terbarukan yang dihasilkan. Tingkat utilisasi tenaga surya turun menjadi 91,4 persen pada semester pertama tahun ini, dari 94,3 persen setahun sebelumnya. Tenaga angin mengalami penurunan serupa, dari 93,5 persen menjadi 90,9 persen.
Artinya, sebagian pembangkit angin dan surya terpaksa mengurangi output karena jaringan tidak sanggup menyalurkan seluruh listrik yang mereka hasilkan — fenomena yang lazim disebut kurtailmen (curtailment). Ini jadi pengingat bahwa menambah kapasitas pembangkit terbarukan saja tidak cukup; infrastruktur jaringan dan sistem penyimpanan energi harus ikut berkembang agar listrik bersih itu benar-benar termanfaatkan, bukan terbuang.
Pangsa batu bara China memang masih jauh lebih tinggi dibanding sejumlah ekonomi besar lain. Salah satu sebabnya adalah cadangan batu bara China yang melimpah, sementara pasokan gas alamnya relatif terbatas. Sebagai perbandingan, batu bara hanya menyumbang 17 persen dari pembangkit listrik skala utilitas di Amerika Serikat pada 2025, sedangkan gas alam mengambil porsi 41 persen.
Meski begitu, ketergantungan China terhadap batu bara masih lebih rendah dibanding India. Batu bara dan lignit menyumbang sekitar 69 persen dari total pembangkit listrik India tahun lalu — jauh di atas angka China saat ini.
China menyumbang porsi terbesar emisi karbon global, sehingga arah kebijakan energinya berdampak langsung pada upaya dunia menahan laju perubahan iklim. Turunnya pangsa batu bara di bawah setengah bauran listrik memang bersifat simbolis, tapi cukup bermakna: ini menandai titik di mana, untuk pertama kalinya, sumber energi selain batu bara justru mendominasi jaringan listrik negara dengan permintaan energi terbesar di dunia itu.
Yang perlu terus dipantau ke depan adalah apakah tren penurunan pangsa ini bisa berlanjut sembari volume konsumsi batu bara secara absolut benar-benar mulai menyusut — bukan sekadar tumbuh lebih lambat dibanding energi terbarukan. Di titik itulah target puncak konsumsi batu bara pada 2030 akan benar-benar diuji.
Data dalam artikel ini bersumber dari keterangan resmi Badan Energi Nasional China (NEA) dalam konferensi pers 30 Juli 2026, serta analisis Greenpeace East Asia dan laporan Reuters, Xinhua, dan Bloomberg pada tanggal yang sama.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda