Breaking
Memuat breaking news...

UEFA Nyatakan Hilang Kepercayaan pada Infantino, Ancam Tempuh Jalur Hukum

Redaksi
Redaksi
Selasa, 4 Agustus 2026 - 10.08 AM WIB
UEFA Nyatakan Hilang Kepercayaan pada Infantino, Ancam Tempuh Jalur Hukum
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Badan sepak bola Eropa, UEFA, secara terbuka menyatakan sudah kehilangan kepercayaan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Pernyataan itu disampaikan Sabtu pagi lalu, hanya beberapa jam setelah FIFA resmi menarik rencana kontroversialnya untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Bukannya meredakan situasi, pembatalan itu justru membuka babak baru krisis kepemimpinan yang kini mengancam masa depan politik Infantino di FIFA.

Dalam pernyataan bernada tajam yang dirilis dari markasnya di Nyon, Swiss, UEFA menyambut baik keputusan FIFA membatalkan rencana tersebut. Namun badan yang dipimpin Aleksander Čeferin ini tidak menyembunyikan kekecewaannya terhadap cara Infantino menjalankan proses tersebut. UEFA menyebut skema itu dirancang secara diam-diam, dikebut tanpa konsultasi, dan disusun oleh "individu tanpa wajah" yang manfaatnya bagi sepak bola diragukan. Mereka juga menegaskan pihak-pihak yang bertanggung jawab harus diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban.

Kontroversi ini bermula ketika FIFA dan Infantino mengumumkan rencana pembentukan anak perusahaan terpisah yang akan menguasai hak operasional dan komersial Piala Dunia. Skema tersebut, yang di internal FIFA dikenal sebagai proyek FFE, ditaksir bernilai sekitar 20 miliar dolar AS. Infantino dilaporkan menargetkan dana segar 4,2 miliar dolar AS dari sejumlah investor, termasuk perusahaan investasi asal New York yang didirikan Joshua Kushner.

Sebagai kompensasi, FIFA menjanjikan pembayaran satu kali senilai 20 juta dolar AS kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggotanya, dengan tenggat persetujuan pertengahan September. Namun begitu rencana ini bocor ke publik, kritik justru datang bertubi-tubi. UEFA menilai langkah tersebut mengancam "jiwa dan tata kelola" sepak bola dunia, sementara FIFA berdalih dana yang terkumpul akan diputar kembali untuk kepentingan olahraga itu sendiri.

Tekanan publik memuncak pada Kamis, ketika 55 negara anggota UEFA sepakat memboikot seluruh kompetisi FIFA selama rencana itu masih berjalan. Konfederasi Asia turut menyatakan penolakan, menyusul sikap serupa dari Eropa dan Amerika Utara.

Yang membuat posisi Infantino semakin sulit, kritik justru muncul dari lingkaran terdekatnya. Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino yang mewakili FIFA dalam gugus tugas Piala Dunia bentukan Gedung Putih, mengundurkan diri pada Jumat. Mantan Presiden Federasi Sepak Bola Amerika Serikat itu menegaskan dirinya sama sekali tidak dilibatkan dalam pembahasan rencana tersebut dan menyebutnya sebagai kesepakatan yang buruk bagi sepak bola.

Beberapa jam kemudian, giliran Direktur Operasional FIFA, Kevin Lamour, angkat bicara. Dalam pernyataan kepada kantor berita Associated Press, Lamour—yang pernah menjadi koleganya Infantino baik di FIFA maupun UEFA—menyebut para staf FIFA merasa dikhianati karena tidak dilibatkan dalam perencanaan yang berjalan tertutup selama berbulan-bulan. Ia menyebut proyek tersebut sebagai "proyek satu orang" dan menegaskan rencana itu tidak boleh dilanjutkan. Lamour tidak mengundurkan diri, tetapi menyatakan siap menanggung risiko kehilangan jabatannya demi membela para koleganya.

Menghadapi tekanan yang terus membesar dari berbagai penjuru, Infantino akhirnya menarik proposalnya pada Sabtu dini hari. Ia menyatakan tujuannya sekarang adalah mempertemukan kembali seluruh pihak yang berkepentingan dalam semangat kepentingan bersama demi sepak bola.

Meski FIFA sudah membatalkan rencananya, UEFA tidak lantas melunak. Dalam pernyataannya, badan itu mengingatkan bahwa Infantino pernah berjanji akan bersikap transparan ketika meminta dukungan asosiasi anggota FIFA untuk terpilih sebagai presiden pada 2016. Menurut UEFA, kesepakatan yang disusun secara tertutup dan berusaha dipaksakan kali ini justru bertolak belakang dengan janji tersebut.

UEFA juga menegaskan kepemimpinan FIFA saat ini tidak hanya kehilangan kepercayaan mereka, tetapi juga kepercayaan banyak pihak lain dalam keluarga besar sepak bola dunia. Badan itu bahkan menyebut tidak ada opsi yang boleh dikesampingkan—sebuah pernyataan yang oleh banyak pengamat dibaca sebagai sinyal bahwa UEFA ingin mengakhiri masa jabatan Infantino yang sudah berlangsung satu dekade, meski secara eksplisit UEFA belum menuntut pengunduran dirinya.

Ke depan, UEFA menyatakan akan bekerja sama dengan asosiasi-asosiasi anggotanya serta berkoordinasi erat dengan konfederasi lain untuk mengevaluasi bagaimana insiden ini bisa terjadi, sekaligus menyusun langkah agar kejadian serupa tidak terulang tanpa proses konsultasi yang layak.

Ketegangan ini belum juga mereda. Pada Senin, UEFA melangkah lebih jauh dengan mengancam akan menempuh jalur hukum terhadap FIFA terkait rencana yang gagal tersebut. UEFA bahkan meminta agar bukti-bukti terkait proses penyusunan rencana itu tidak dimusnahkan—indikasi bahwa perseteruan ini berpotensi berlanjut ke ranah hukum, bukan sekadar perang pernyataan di media.

Krisis ini muncul di saat yang tidak menguntungkan bagi Infantino. Ia sebelumnya terpilih tanpa perlawanan pada 2019 dan 2023, dan menurut statuta FIFA, ia masih berhak mencalonkan diri untuk satu periode empat tahun terakhir. Batas waktu pencalonan jatuh pada 18 November, dengan pemilihan dijadwalkan sekitar empat bulan setelahnya di Rabat, Maroko—salah satu basis dukungan kuat Infantino sekaligus tuan rumah bersama Piala Dunia 2030.

Sebelum krisis ini meletus, FIFA disebut telah mengantongi surat dukungan dari sekitar 200 dari 211 asosiasi anggotanya untuk pencalonan kembali Infantino. Namun surat-surat dukungan itu kini mulai ditarik satu demi satu di kawasan Eropa, dengan Federasi Sepak Bola Wales tercatat sebagai yang pertama membatalkan dukungannya.

Belum ada informasi resmi mengenai langkah selanjutnya yang akan diambil FIFA maupun Infantino menanggapi ancaman hukum dari UEFA. Yang jelas, apa yang semula dimulai sebagai rencana pendanaan Piala Dunia kini telah berkembang menjadi krisis kepercayaan yang mempertaruhkan posisi orang nomor satu di sepak bola dunia itu sendiri.

Berita ini akan diperbarui seiring perkembangan situasi.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait