WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik pedas terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Trump menuding pemimpin Ukraina itu tidak memiliki niat untuk mengakhiri perang melawan Rusia yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Melalui unggahan di platform Truth Social yang dikutip AFP pada Senin (19/10/2026), Trump mengklaim dirinya sedang memimpin proses negosiasi perdamaian antara Rusia dan Ukraina yang mencatatkan kemajuan besar. Namun, ia menilai sikap Zelensky justru menjadi pengganjal diplomasi tersebut.

"Zelensky tidak peduli, dan sejujurnya, dengan semua uang yang terkenal banyak diberikan Eropa kepadanya... dia tidak ingin mengakhiri perang ini, dan mungkin tidak akan pernah ingin," tulis Trump.

Keputusan Longgarkan Sanksi Rusia

Kritik tajam ini disampaikan Trump di tengah sorotan publik atas keputusannya menandatangani keputusan presiden pada pekan lalu untuk menangguhkan penerapan sanksi baru yang cukup ketat terhadap Rusia. Sanksi tersebut diusulkan melalui undang-undang atas nama mendiang Senator AS Lindsey Graham, seorang pendukung kuat pertahanan Ukraina.

Trump juga membela keputusannya memberikan pengecualian sanksi sementara (sanctions waiver) terhadap impor minyak diesel dari Rusia. Langkah kontroversial ini diambil AS demi mengalirkan pasokan diesel Rusia dalam jumlah besar ke pasar global guna menekan lonjakan harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu AS awal bulan depan.

"Keputusan saya mengenai Rusia sangat sederhana. Saya berada dalam proses menegosiasikan perdamaian dalam perang antara Rusia dan Ukraina, dan tidak ingin melakukan sesuatu yang secara bodoh mendorong Rusia menjauh dari meja perundingan," ujar Trump.

Kesepakatan impor diesel dari Rusia ini mengejutkan Ukraina dan para sekutunya, sekaligus memicu perselisihan terbuka yang membuat hubungan antara Trump dan Zelensky kembali merosot tajam.

Tudingan Serangan Kilang Minyak

Selain isu sanksi, Trump menuduh Ukraina sengaja menargetkan kilang-kilang minyak di wilayah Rusia untuk memperburuk pasar diesel global, yang secara tidak langsung berdampak pada peta politik domestik AS.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Partai Republik terancam mengalami kekalahan pada pemilu paruh waktu 3 November 2026, dengan alasan utama kemarahan pemilih atas tingginya harga bahan bakar.

"Zelensky menggunakan kilang diesel di Rusia sebagai sasaran, dengan mengetahui bahwa serangan-serangan ini sangat merusak pasar diesel dunia, termasuk pasar di Amerika Serikat," cetus Trump.

Trump juga mengklaim kelonggaran sanksi diberikan agar Rusia tidak membantu Iran secara militer di tengah konflik Timur Tengah. Menurutnya, Rusia sejauh ini berbuat sangat sedikit untuk membantu Iran, dan ia ingin mempertahankannya seperti itu.

Perselisihan terbaru antara AS dan Ukraina ini menandai pergeseran substansial dalam kebijakan luar negeri Washington. Di bawah kepemimpinan Trump, AS lebih memprioritaskan stabilitas harga energi domestik dan pengendalian inflasi menjelang agenda politik pemilu.

Langkah AS melonggarkan sanksi atas ekspor diesel Rusia berbenturan langsung dengan strategi militer Ukraina yang mengincar infrastruktur energi Rusia untuk menekan pendapatan perang Moskow. Hubungan yang kian merenggang ini berpotensi meretakkan kesatuan blok Barat, di saat negara-negara Eropa khawatir AS akan memaksakan kesepakatan damai yang merugikan kedaulatan wilayah Ukraina.

Sumber: Investor.id