Trump: Perang dengan Iran Tak Akan Ubah Sikap Saya Jelang Pemilu ASTrump: Perang dengan Iran Tak Akan Ubah Sikap Saya Jelang Pemilu AS

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa ketegangan yang kembali memanas dengan Iran tidak akan mengubah sikapnya menjelang pemilihan umum sela Kongres AS pada November mendatang. Pernyataan itu ia sampaikan kepada para wartawan pada Selasa, di tengah rentetan serangan baru antara AS dan Iran sejak awal Juli.
"Hal itu tidak akan berpengaruh kepada saya. Saya hanya akan melakukan hal yang benar," kata Trump.
Pernyataan ini muncul setelah upaya damai yang sempat tercapai antara kedua negara kembali runtuh. Washington dan Teheran sebelumnya menandatangani memorandum yang mengakhiri konflik pada 18 Juni, menyusul pertikaian yang bermula sejak 28 Februari. Namun gencatan itu tidak bertahan lama.
Sejak 8 Juli, pasukan AS kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS (US Central Command atau CENTCOM) menyebut serangan tersebut sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit di antara Iran dan Jazirah Arab yang menjadi salah satu rute pengangkutan minyak tersibuk di dunia.
Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah. Konflik terus memanas hingga 12 Juli, ketika Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz sembari mendesak AS menghentikan campur tangannya di kawasan tersebut.
Sehari setelahnya, Trump menyatakan AS akan bertindak sebagai "penjaga" Selat Hormuz. Ia juga memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, langkah yang membuka babak baru dari konflik yang sempat diharapkan mereda lewat kesepakatan Juni lalu.
Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pemilihan umum sela Kongres pada November 2026, saat seluruh kursi DPR dan sebagian kursi Senat diperebutkan kembali. Pemilu jenis ini digelar di tengah masa jabatan presiden dan kerap menjadi penentu apakah partai yang berkuasa tetap memegang kendali di legislatif.
Sejumlah analis menilai Partai Republik berisiko kehilangan kendali atas DPR, yang berpotensi beralih ke tangan Partai Demokrat. Risiko ini dikaitkan dengan menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah, seiring berlangsungnya operasi militer terhadap Iran dan kenaikan harga-harga kebutuhan di dalam negeri.
Sikap Trump yang menolak mengaitkan kebijakan Iran dengan kalkulasi elektoral bisa dibaca sebagai indikasi bahwa konflik ini berpotensi masih berlanjut setidaknya sampai hasil pemilu November diketahui, meski tekanan domestik jelang pemilu sela terus membesar.
Selat Hormuz sendiri bukan isu yang bisa dianggap remeh, sebab jalur ini menjadi lintasan utama pengiriman minyak dunia. Gangguan berkepanjangan di sana berpotensi ikut mendorong kenaikan harga energi secara global, dan berpotensi pula memengaruhi harga bahan bakar di berbagai negara yang bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.
Bagi publik Amerika, kombinasi antara konflik militer yang belum tuntas dan kenaikan harga di dalam negeri menjadi dua faktor yang paling mungkin menentukan arah pemilu sela nanti. Sikap tegas Trump untuk tidak mengubah kebijakan luar negerinya, terlepas dari tekanan elektoral, akan terus diuji seiring situasi di Selat Hormuz yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (sputnik)
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda