Trump Media Rugi Rp 4,2 Triliun di Kuartal II 2026, Setop Ekspansi ke Kripto dan Judi Online

Trump Media & Technology Group (TMTG), perusahaan induk platform media sosial Truth Social, membukukan kerugian bersih sebesar 238,1 juta dolar AS — sekitar Rp 4,2 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.900 per dolar — untuk kuartal kedua 2026. Hasil ini diumumkan pada Senin, 10 Agustus 2026 waktu setempat, dalam laporan keuangan sekaligus panggilan konferensi pertama yang pernah digelar perusahaan sejak melantai di bursa.
Angka kerugian itu lebih dari 10 kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, saat TMTG hanya merugi sekitar 20 juta dolar AS. Kerugian per saham pun melebar, dari 8 sen menjadi 86 sen. Sementara itu, pendapatan perusahaan pada kuartal ini tercatat 1,7 juta dolar AS, naik 89 persen dibanding 883 ribu dolar AS pada kuartal II 2025 — masih jauh lebih kecil dibanding kerugian yang dibukukan.
Kerugian Sebagian Besar Berasal dari Aset Digital
Menurut laporan yang dirilis TMTG, mayoritas kerugian bukan berasal dari operasional inti perusahaan, melainkan dari penurunan nilai aset digital yang belum direalisasikan — mencapai 190,4 juta dolar AS. Aset ini mencakup kepemilikan bitcoin, token kripto Cronos, serta sejumlah efek ekuitas milik perusahaan. Di luar kerugian non-tunai tersebut, kerugian operasional inti membengkak menjadi 164 juta dolar AS, dibanding 44 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
CFO TMTG, Phillip Juhan, dalam panggilan konferensi menyebut bahwa biaya operasional perusahaan sangat dipengaruhi oleh naik-turunnya harga aset digital yang dimiliki. Pernyataan ini sejalan dengan strategi TMTG setahun terakhir yang memperluas bisnis ke sektor-sektor di luar media, termasuk kripto dan perdagangan daring.
Di sisi neraca, TMTG mengklaim masih memiliki total aset sekitar 2 miliar dolar AS, dengan sekitar 1,9 miliar dolar AS di antaranya berupa aset finansial — gabungan kas, investasi jangka pendek, efek ekuitas, dan aset digital. Perusahaan juga mencatat kas serta investasi jangka pendek lebih dari 400 juta dolar AS, ditambah bitcoin dan aset terkait bitcoin senilai sekitar 1,2 miliar dolar AS.
Namun perusahaan masih menanggung utang 1 miliar dolar AS dari obligasi konversi khusus yang jatuh tempo 2028 — dengan catatan, pemberi pinjaman punya opsi menagih pelunasan lebih cepat pada November mendatang.
Banting Setir dari Kripto dan Judi Online
Perubahan besar datang dari sisi strategi bisnis. Kevin McGurn, yang kini menjabat sebagai CEO interim TMTG, mengumumkan bahwa rencana ekspansi setahun terakhir ke berbagai lini bisnis baru — termasuk perjudian daring dan kripto — akan sebagian besar dihentikan. Fokus perusahaan, kata McGurn, akan dikembalikan ke misi awal sebagai platform media sosial.
"We will say no to things or change course as warranted," ujar McGurn, yang secara bebas bisa diartikan sebagai sikap perusahaan yang siap menolak proyek atau mengubah arah bila memang diperlukan.
Satu proyek yang tetap dipertahankan adalah investasi di bidang fusi nuklir. TMTG berharap bisa merampungkan merger dengan perusahaan energi TAE Technologies sebelum akhir tahun ini. McGurn menyebut lini bisnis ini sebagai penggerak nilai jangka panjang paling penting bagi perusahaan.
Sebagai catatan, pada 5 Agustus lalu TAE Technologies juga baru saja meneken kerja sama pasokan helium-3 dengan Black Moon Energy Corporation untuk mendukung pengembangan teknologi fusi — meski hingga kini belum ada satu pun pembangkit listrik bertenaga fusi yang beroperasi secara komersial di dunia.
Layanan Baru yang Memicu Kontroversi
Bagian yang paling banyak disorot dari laporan ini adalah peluncuran Truth API, layanan berbayar yang memberi akses lebih cepat kepada perusahaan trading di Wall Street untuk melihat unggahan dari akun-akun berpengaruh di Truth Social — termasuk akun Presiden Donald Trump sendiri, yang kerap menggerakkan pasar lewat unggahannya soal kebijakan pemerintah AS.
Layanan ini dibanderol antara 60.000 hingga 100.000 dolar AS per bulan. Menurut McGurn, sudah ada 10 klien yang berlangganan, sebagian besar merupakan perusahaan high-frequency trading yang bertransaksi dalam hitungan milidetik.
Ia memperkirakan potensi pasar Truth API jauh lebih luas dari sekadar trader, mencakup perusahaan pusat data, media, hingga pengembang model bahasa besar (large language model). Jika seluruh 10 klien tersebut berlangganan penuh selama setahun, pendapatan tambahan yang dihasilkan diperkirakan mencapai 7 hingga 12 juta dolar AS — setara dua hingga tiga kali lipat total pendapatan TMTG sepanjang tahun lalu.
Layanan ini langsung menuai kritik. Kelompok pengawas pemerintahan sejak awal periode kedua Trump sudah menuding TMTG sebagai kendaraan bagi presiden untuk meraup keuntungan pribadi dari jabatannya. Truth API dianggap memperkuat kekhawatiran tersebut, sampai-sampai kubu Demokrat menyatakan akan menyelidikinya jika berhasil merebut kendali Kongres pada pemilu sela mendatang.
McGurn membantah kekhawatiran itu dengan menyebut penjualan data publik berlisensi lewat API komersial sebagai praktik bisnis yang sudah lazim di industri teknologi, informasi keuangan, maupun media.
Saham Turun, Trafik Truth Social Juga Melemah
Pasar merespons laporan ini dengan negatif. Saham TMTG, yang diperdagangkan di Nasdaq dengan kode DJT, ditutup turun 8 persen pada perdagangan reguler Senin, lalu kembali melemah tipis pada sesi setelah jam bursa (after-hours) usai laporan dirilis.
Di luar soal keuangan, situasi Truth Social sendiri disebut kurang menggembirakan. Sebagaimana dilaporkan New York Times dan dikutip CNBC, trafik Truth Social — yang sejak awal memang jauh tertinggal dibanding platform sejenis seperti X milik Elon Musk — dilaporkan menurun tajam sepanjang musim panas tahun ini. Belum ada keterangan resmi dari TMTG mengenai penyebab pasti penurunan trafik tersebut.
Dengan kombinasi kerugian besar, tekanan utang yang berpotensi jatuh tempo lebih awal, serta rencana pemangkasan lini bisnis baru, langkah TMTG ke depan akan sangat bergantung pada seberapa cepat layanan seperti Truth API bisa mendatangkan pendapatan nyata — sekaligus seberapa jauh perusahaan mampu meredam sorotan publik terhadap potensi konflik kepentingan yang melekat pada bisnis ini.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda