Bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa kembali pecah di Tirana, ibu kota Albania, pada Senin (19/10/2026). Massa memadati pusat kota hingga malam hari.

Aksi yang dipimpin mahasiswa ini sudah berlangsung sepekan dan meluas ke sejumlah kota lain. Para demonstran membakar sejumlah gedung pemerintah dan bank, memecahkan kaca toko, serta mencabut batu trotoar untuk dilemparkan ke arah petugas. Sejumlah polisi dan pengunjuk rasa dilaporkan luka-luka.

Desakan Agar Edi Rama Mundur

Para pengunjuk rasa mendesak Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri dari jabatannya. Kemarahan publik dipicu dugaan korupsi di pemerintahan, minimnya lapangan kerja, serta rendahnya standar pendidikan.

Rama menolak mundur. Ia justru menyalahkan pihak asing dan menyebut kerusuhan ini sebagai bagian dari "perang hibrida", seraya menegaskan bahwa para pengunjuk rusuh harus menanggung konsekuensi hukum.

Gedung Dibakar, Ratusan Luka

Kerusuhan telah merusak sejumlah fasilitas penting, termasuk gedung kementerian pendidikan dan Mahkamah Agung yang dibakar massa. Otoritas melaporkan sekitar 300 orang terluka dalam bentrokan, lebih dari separuhnya adalah aparat kepolisian.

Kepolisian menyatakan telah mendakwa 388 orang atas dugaan tindak pidana selama rangkaian aksi berlangsung, meski rincian pelanggarannya belum diumumkan. Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Komisi Eropa menyerukan semua pihak menahan diri dan menempuh dialog damai.

Sumber: CNBC Indonesia