Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membagikan strategi mengelola keuangan pribadi versinya, mulai dari kebiasaan menabung, urutan investasi yang tepat, hingga prinsip anti-flexing. Pesan itu ia sampaikan dalam perbincangan di podcast The Chapter milik TirtoID yang tayang di YouTube.
Menurut Purbaya, langkah pertama setelah menerima gaji adalah menyisihkan sebagian untuk ditabung, bukan dihabiskan seluruhnya. "Kalau masih hidup sama orang tua, tabungnya saja 50 persen. Tapi kalau sudah sendiri, targetkan mungkin 30 persen dari gaji ditabungkan setiap bulan," ujarnya.
Soal menjaga daya beli di tengah harga yang terus naik, Purbaya menyebut pemerintah berupaya menekan inflasi di bawah 3 persen. Karena itu, ia menyarankan tabungan disimpan di deposito yang bunganya berada sedikit di atas inflasi agar nilai uang tidak tergerus kenaikan harga.
Urutan Investasi Versi Purbaya
Purbaya menekankan bahwa tabungan dan investasi adalah dua hal berbeda. Setelah tabungan cukup, barulah dana bisa masuk ke instrumen investasi dengan urutan dari yang paling aman: deposito, obligasi ritel pemerintah seperti ORI, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, lalu saham langsung setelah benar-benar memahami ilmunya.
Kripto ia sebut sebagai opsi paling menantang yang bisa dipelajari setelah menguasai instrumen lain. Ia juga memperingatkan publik untuk waspada terhadap tawaran investasi yang kedengarannya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. "Kalau ada investasi yang menawarkan keuntungan terlalu tinggi dan dijamin, pasti bohong. Acuan yang bisa dijamin itu hanya deposito dan suku bunga bank," katanya.
Belanja Sesuai Kebutuhan, Jangan untuk Flexing
Purbaya juga menegaskan prinsip belanja sesuai kebutuhan dan kemampuan. Belanja barang mahal tidak masalah selama memang dibutuhkan — misalnya membeli komputer bagus untuk menunjang pekerjaan menulis. Tanda seseorang sudah belanja di luar kemampuan, menurutnya, adalah ketika mulai berutang untuk belanja dan flexing.
Ia pun mengkritik layanan paylater yang menurutnya membujuk orang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. "Kuncinya: belanja sesuai kebutuhan. Kalau tidak kepepet, tidak usah pakai paylater," ujarnya.
Strategi Mencapai Rp100 Juta Pertama
Menjawab pertanyaan soal anak muda bergaji UMR Jakarta sekitar Rp5,4 juta yang ingin mengumpulkan Rp100 juta pertama, Purbaya menyarankan pengendalian pengeluaran — terutama biaya makan. Ia mencontohkan kebiasaan memasak sendiri dan membawa bekal ke kantor yang bisa menghemat signifikan dibanding makan di luar atau jajan di tempat mahal.
"Dari situ mungkin bisa menghemat 20 sampai 30 persen gaji, sekitar Rp1,5 sampai 2 juta per bulan," katanya. Dana yang terkumpul bisa digulirkan ke deposito dan investasi agar terus bertambah.
Keuangan Negara: Utang Wajar Selama Mampu Bayar
Di level negara, Purbaya menyatakan anggaran harus dibelanjakan sesuai desainnya agar ekonomi tidak melambat gara-gara pemerintah lambat belanja. Soal utang negara, ia menilai wajar selama mampu dibayar, dengan acuan rasio utang terhadap PDB dan defisit anggaran di bawah 3 persen PDB.
Untuk jangka panjang, ia memprioritaskan investasi negara di pendidikan, transformasi ekonomi ke sektor manufaktur, serta infrastruktur dan energi. Ia juga berencana mengirimkan tim Kementerian Keuangan ke daerah untuk melatih pengelolaan keuangan daerah.
Terakhir, Purbaya berpesan agar anak muda tidak takut ketinggalan alias FOMO dalam berinvestasi. Selama ekonomi terus tumbuh, peluang investasi akan selalu ada.
"Pelajari instrumen investasi yang akan Anda beli, pahami faktor yang membuat nilainya naik atau turun. Jangan FOMO — masa depan Anda akan cerah."
Sumber: Tips Kelola Keuangan Pribadi & Negara Ala Purbaya: Menabung, Investasi, Anti-Flexing — TirtoID


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda