Sudah 9 Bulan di Laut Tanpa Pulang, Trump Malah Bilang Penugasan Kapal Perang AS Ini Belum Lama

Sembilan bulan tanpa henti di laut, dan Presiden AS Donald Trump justru bilang itu belum cukup lama. Pernyataan itu ia lontarkan menanggapi laporan yang makin ramai soal kondisi kesehatan mental dan pasokan logistik yang memburuk di atas kapal induk USS Abraham Lincoln — kapal yang kini mencatat rekor lebih dari 240 hari berlayar tanpa singgah ke pelabuhan mana pun.
Ketika ditanya wartawan apakah keluarga awak kapal mengeluhkan durasi penugasan yang kelewat panjang itu, Trump membantahnya mentah-mentah. Bukan cuma membantah, ia malah menyebut durasi itu "belum cukup lama." Satu-satunya kabar baik yang ia sampaikan: kapal itu akan segera ditarik dan digantikan oleh kapal serupa.
Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, menguatkan lewat media sosial bahwa USS Lincoln memang akan segera pulang — digantikan oleh USS George Washington yang sudah bergerak menuju kawasan tersebut.
Janji Lama yang Mulai Retak
Ada ironi di balik pernyataan ini. Saat memulai masa jabatan keduanya, Trump berulang kali berjanji akan menjauhi keterlibatan militer yang panjang dan menguras anggaran. Tapi sejak Amerika Serikat melancarkan operasi militer bersama Israel terhadap Iran — yang semula diperkirakan cuma berlangsung beberapa pekan — konflik itu kini sudah memasuki bulan kelima.
Dalam pidatonya di Garden City, New York, Trump sendiri mengakui memakai kekuatan militer AS "sedikit lebih banyak" dari yang ia inginkan, meski tetap bersikeras operasi itu berjalan baik. Ia bahkan sempat melempar candaan bahwa tak lama lagi ia akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat — sebuah pernyataan yang, seperti akan terlihat nanti, tidak diterima santai oleh Iran.
Soal dampak perang terhadap harga minyak dunia, Trump juga menegaskan tidak akan meminta maaf. "Saya melakukan hal yang benar," katanya.
Kekhawatiran di Atas Kapal, Tekanan di Kongres
Di balik pernyataan santai presiden, kondisi riil di atas USS Lincoln jadi sorotan serius. Penugasan yang berkepanjangan ini memicu kekhawatiran soal dampaknya pada personel yang harus berpisah lama dari keluarga, sekaligus soal beban yang ditanggung kapal dan peralatannya sendiri.
Sejumlah senator dari Partai Demokrat — termasuk Richard Blumenthal dari Connecticut dan Ruben Gallego dari Arizona — mendesak Pentagon bertanggung jawab atas kondisi di kapal itu. Menteri Pertahanan Pete Hegseth membalas dengan menyebut laporan-laporan tersebut "disalahartikan sepenuhnya." Anggota DPR Jason Crow, veteran tiga kali penugasan di Irak dan Afghanistan, melayangkan kritik tajam lewat X: menurutnya, sikap Trump menunjukkan ia tidak peduli pada anggota militer dan keluarga mereka.
Tekanan politik itu berlanjut. Pimpinan Demokrat di Komite Pengawasan DPR meminta pengarahan tertutup dari Pentagon soal pasokan makanan, sanitasi, akses layanan kesehatan, hingga perkiraan berapa lama lagi kapal ini akan bertahan sebelum benar-benar digantikan.
Soal isu paling sensitif — risiko bunuh diri di kalangan awak kapal — Angkatan Laut AS menyatakan belum ada peningkatan kasus. Tapi mereka menolak membuka datanya dengan alasan keamanan operasional dan privasi pasien, sehingga klaim itu sulit diverifikasi secara independen. Yang sudah dikonfirmasi: seorang pelaut sempat jatuh ke laut awal Agustus lalu, berhasil diselamatkan dan dirawat, lalu dipindahkan untuk penanganan lanjutan. Pihak Angkatan Laut tidak menjelaskan apakah insiden itu terkait percobaan bunuh diri.
Iran Balas Candaan Trump soal Hormuz
Guyonan Trump soal "mendeklarasikan" Selat Hormuz sebagai wilayah AS rupanya tidak dianggap lucu di Teheran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan lewat X bahwa Selat Hormuz "telah menjadi milik Iran, adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran" — dan hanya bisa dibuka-tutup atas komando Iran sendiri. Ia menyindir langsung pernyataan Trump, menyebut selat itu tak bisa direbut lewat cuitan maupun kapal induk.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menambahkan bahwa saat ini belum ada negosiasi apa pun antara Iran dan AS, meski Qatar dan Pakistan disebut sedang menjembatani komunikasi kedua pihak. Situasi keamanan di jalur pelayaran strategis itu pun kembali memanas: UKMTO — lembaga yang didukung Angkatan Laut Inggris — melaporkan sebuah kapal kargo curah terkena proyektil tak dikenal.
Catatan editorial: Klaim Angkatan Laut AS bahwa belum ada peningkatan kasus bunuh diri di USS Lincoln belum bisa diverifikasi secara independen karena data pendukungnya tidak dipublikasikan. Begitu pula status insiden pelaut yang jatuh ke laut awal Agustus — belum ada kepastian resmi apakah itu kecelakaan atau percobaan bunuh diri.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda