Breaking
Memuat breaking news...

Stok Rudal AS Menipis Gara-Gara Perang Iran, Pabrikan Senjata Kini Berlomba Bikin Versi yang Lebih Murah

Redaksi
Redaksi
Minggu, 16 Agustus 2026 - 6.57 AM WIB
Stok Rudal AS Menipis Gara-Gara Perang Iran, Pabrikan Senjata Kini Berlomba Bikin Versi yang Lebih Murah
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Bayangkan menembak jatuh drone seharga Rp540 juta memakai rudal seharga Rp72 miliar. Itulah kira-kira gambaran masalah yang sedang dihadapi militer Amerika Serikat sekarang — dan perang dengan Iran membuat masalah itu makin terasa mendesak.

Sejak konflik pecah akhir Februari 2026, AS terus-menerus memakai rudal pencegat Patriot dan THAAD untuk menahan serangan rudal Iran. Kecepatan pemakaiannya jauh melampaui kecepatan produksi.

Menurut estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS), dalam waktu sekitar lima bulan saja, stok gabungan kedua sistem ini merosot sekitar 1.700 unit — dari 2.782 unit sebelum perang menjadi tinggal 993–1.105 unit per 27 Juli 2026. Stok Patriot saja anjlok hampir dua pertiga, sementara THAAD turun sekitar separuh.

Angka itu bukan cuma soal jumlah, tapi juga soal uang. Satu unit PAC-3 MSE — varian Patriot paling canggih — dibanderol sekitar US$5 juta atau lebih dari Rp90 miliar, sementara satu unit THAAD nyaris US$12 juta. Kalau semua rudal yang sudah terpakai harus diganti, total biayanya diperkirakan tembus US$10 miliar.

Masalahnya, mengganti bukan perkara cepat: CSIS memperkirakan AS butuh setidaknya tiga tahun untuk mengembalikan stok ke level sebelum perang, sementara pesanan baru — 3.203 unit Patriot dan 857 unit THAAD — baru mulai dikirim pada 2029.

Kenapa Rudal Semahal Ini Dipakai Melawan Drone Murahan?

Di sinilah letak ironi sekaligus akar masalahnya. Selama puluhan tahun, industri pertahanan AS terus menambal rudal dengan teknologi makin canggih — sensor pencari target, sistem propulsi baru, dan sebagainya. Kemampuannya memang naik, tapi harganya ikut melonjak sampai lebih dari US$4 juta per unit.

Sementara itu, lawan yang harus dihadapi rudal-rudal mahal ini justru drone sekali pakai macam Shahed buatan Iran, yang cuma seharga sekitar US$30.000 per unit. Setiap kali satu drone murah ditembak jatuh pakai rudal jutaan dolar, itu sama saja dengan kekalahan ekonomi — meski secara militer berhasil.

Raksasa Pertahanan Mulai Turun Kelas, Perusahaan Kecil Dapat Panggung

Menyadari kesenjangan biaya ini, para kontraktor pertahanan raksasa AS — Boeing, Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Raytheon (bagian dari RTX) — memaparkan rencana mereka dalam Space and Missile Defense Symposium di Huntsville, Alabama. Semangatnya sama: bikin rudal yang lebih murah, meski harus mengorbankan sedikit kecanggihan.

Boeing, misalnya, sedang menggarap teknologi pencari target berbiaya rendah. Komponen ini biasanya menyedot hampir 30 persen dari total biaya rudal — Boeing menargetkan menekannya jadi sekitar 10 persen memakai komponen standar komersial, dengan uji coba pencegatan ditargetkan tahun depan.

Lockheed Martin, produsen sistem Patriot, mengembangkan varian bernama PAC-3 ACE dengan harga diperkirakan sekitar US$2 juta — kurang dari separuh harga PAC-3 MSE. Kemampuannya memang turun jadi sekitar dua pertiga versi tercanggih, tapi soal kecepatan rilis, rudal ini masih jauh dari kata segera: penerbangan perdana baru dijadwalkan awal 2028, dan produksi massal baru siap sekitar 18 bulan setelahnya. Artinya, meski lebih murah dari Patriot biasa, harganya tetap jauh di atas drone seperti Shahed.

Northrop Grumman punya pendekatan berbeda lewat Raid Hunter, sistem pertahanan berbasis meriam berpemandu kaliber 50 mm untuk menghadapi serangan campuran drone dan rudal jelajah dengan biaya lebih rendah. Raytheon di sisi lain mengembangkan teknologi propulsi murah untuk rudal SM-3, sekaligus memperluas pemakaian Coyote — rudal pencegat murah yang memang dirancang khusus melawan drone dan sudah dipakai di Timur Tengah.

Di luar empat raksasa itu, Pentagon juga mulai menggandeng perusahaan-perusahaan baru yang lebih kecil seperti Castelion, Anduril Industries, CoAspire, dan Zone 5 untuk ikut menggarap rudal pencegat murah. Brigjen RJ Mikesh, pejabat pengadaan senjata Angkatan Darat AS, punya alasan sederhana: tidak semua target musuh butuh dihadapi dengan sistem paling canggih dan paling mahal yang dimiliki AS.

Bukan Cuma Soal Siapa yang Punya Senjata Tercanggih

Presiden Donald Trump sempat menepis kekhawatiran soal menipisnya amunisi AS selama perang berlangsung. Tapi di sisi lain, Pentagon sendiri sudah meminta Kongres mengucurkan dana darurat untuk mengisi ulang berbagai persenjataan yang terkuras.

Yang sedang terjadi di industri pertahanan AS ini sebenarnya menyingkap satu pelajaran besar dari perang modern: kemenangan jangka panjang tidak selalu ditentukan oleh siapa yang punya senjata paling mutakhir, melainkan siapa yang sanggup memproduksi senjata dalam jumlah cukup besar dengan biaya yang masih masuk akal — sesuatu yang, setidaknya untuk saat ini, belum sepenuhnya dikuasai AS.

Catatan editorial: Sebagian besar rudal pencegat murah yang disebut di atas — termasuk PAC-3 ACE dari Lockheed dan teknologi seeker murah dari Boeing — masih dalam tahap pengembangan dan uji coba, belum siap produksi massal. Jadi meski disebut "murah", solusi ini belum bisa langsung menutup celah pertahanan AS dalam waktu dekat.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait