Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui ketahanan stok nasional BBM jenis Pertalite (RON 90) mengalami penurunan ke kisaran 16–18 hari, dari posisi normal di atas 20 hari. Ia memastikan kondisi tersebut masih dalam koridor aman dan tidak berarti Indonesia kekurangan bahan bakar.
Bahlil menjelaskan, penyusutan stok dipicu pergeseran pola konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Perbedaan harga yang cukup lebar antara Pertamax dan Pertalite membuat banyak konsumen beralih, sehingga kebutuhan Pertalite melonjak tajam.
"Mungkin untuk mencapai di angka 20 hari itu ya kita butuh waktu seminggu. Seminggu selesai. Tapi di 16–18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal," tutur Bahlil.
Proses blending di kilang sedang berjalan
Untuk memulihkan cadangan, proses pencampuran (blending) produksi Pertalite saat ini tengah berlangsung di kilang. Bahlil memperkirakan stok kembali ke level 20 hari dalam waktu sekitar satu pekan.
Catatan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menunjukkan konsumsi harian Pertalite naik signifikan setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Bahlil menegaskan BBM jenis lain—Biosolar, Pertamax RON 92, Pertamax Green RON 95, hingga Pertamax Turbo RON 98—tidak mengalami masalah pasokan.
"Untuk Biosolar, RON 92, RON 95, RON 98 itu nggak ada masalah. Yang terjadi pergeseran itu RON 90," ucapnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Pemerintah mengimbau masyarakat tidak panik. Bahlil menilai angka 16–18 hari masih memenuhi standar nasional, sekaligus meminta Pertamina mempercepat distribusi ke daerah-daerah yang sempat mengalami antrean.
Sumber: Stok Pertalite Turun Jadi 16-18 Hari, Ini Penjelasan Bahlil — Bloomberg Technoz


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda