Breaking
Memuat breaking news...

Situs Presiden Kenya Dibobol Peretas, Pemerintah Pastikan Belum Ada Data Bocor

Qaplo
Qaplo
Senin, 20 Juli 2026 - 8.06 PM WIB
Situs Presiden Kenya Dibobol Peretas, Pemerintah Pastikan Belum Ada Data Bocor
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA - Situs resmi Kepresidenan Kenya menjadi sasaran serangan siber yang kini diselidiki Kementerian Informasi, Komunikasi, dan Ekonomi Digital negara tersebut. Insiden ini terdeteksi oleh Otoritas ICT pemerintah, dan hingga Senin (20/7/2026), pihak berwenang menyebut belum ditemukan bukti akses tidak sah ke data sensitif maupun kebocoran informasi penting. Jenis serangan dan dugaan pelaku di baliknya belum diungkap ke publik.

Begitu insiden terdeteksi, pemerintah Kenya mengaktifkan protokol respons keamanan siber dan membatasi sementara akses publik ke situs kepresidenan agar tim forensik bisa menelusuri jejak serangan tanpa gangguan. Kementerian menyebut langkah mitigasi sudah diambil sesuai prosedur standar, dan proses pemulihan situs kini tengah berlangsung.

Sekretaris Kabinet untuk Kementerian, William Kabogo Gitau, menyampaikan pernyataan resmi lewat akun X miliknya, yang kemudian dikutip Reuters. "Untuk saat ini, tidak ada bukti akses tidak resmi terhadap data sensitif, pencurian data, atau hilangnya informasi. Sistem pemerintahan dan layanan digital masih tetap aman dan beroperasi," ujar Kabogo.

Otoritas ICT Kenya kini berkoordinasi dengan sejumlah lembaga pemerintah dan mitra teknis untuk merampungkan penyelidikan forensik sebelum hasil resmi diumumkan ke publik.

Situs kepresidenan biasanya menjadi salah satu kanal komunikasi resmi negara yang paling banyak diakses publik dan media. Ketika situs semacam ini berhasil ditembus, yang dipertaruhkan bukan cuma data yang berpotensi hilang, melainkan juga persepsi publik atas kesiapan negara menghadapi ancaman siber.

Pembatasan akses selama forensik berjalan adalah praktik standar yang lazim dilakukan lembaga pemerintah maupun swasta di berbagai negara saat terjadi dugaan pelanggaran keamanan, guna mencegah pelaku menghapus jejak digital sekaligus memberi ruang kerja bagi tim investigasi.

Klaim bahwa data sensitif belum terbukti bocor tentu jadi kabar yang melegakan bagi masyarakat Kenya. Meski begitu, kesimpulan itu masih bersifat sementara — hasil akhir forensik nanti yang akan menentukan apakah insiden ini murni percobaan gagal, atau ada celah keamanan lain yang baru terungkap belakangan.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait