Singapura — Otoritas Pembangunan Infokom Media (IMDA) Singapura menjatuhkan denda sebesar 1 juta dolar Singapura atau sekitar 782 ribu dolar Amerika Serikat kepada Singtel atas gangguan layanan seluler yang terjadi pada Maret lalu.

Gangguan yang terjadi pada 16, 18, dan 19 Maret tersebut berdampak pada sekitar 720.000 pelanggan seluler Singtel, baik konsumen perorangan maupun korporat. Pengumuman denda disampaikan IMDA pada Selasa (20/10).

Bisa Dicegah, Bukan Serangan Siber

Hasil investigasi IMDA menyimpulkan gangguan itu sebenarnya bisa dicegah oleh Singtel dan bukan disebabkan oleh serangan siber.

Gangguan pada 16 Maret yang berlangsung sekitar sembilan jam dipicu kegagalan sistem pendingin (chiller) di salah satu sentral milik Singtel. Akibatnya, perangkat jaringan seluler di sentral tersebut kepanasan hingga mati.

IMDA menyebut insiden bermula dari kegagalan vendor Singtel mengikuti prosedur operasi standar untuk membuka kembali katup manual pengatur aliran air setelah perawatan terjadwal, ditambah tidak adanya pemantauan aktif dari Singtel terhadap katup maupun aliran air menuju sistem pendingin.

Gangguan Susulan pada 18 dan 19 Maret

Sementara itu, gangguan pada 18 dan 19 Maret muncul setelah trafik 5G dialihkan dari sentral yang bermasalah ke sentral Singtel lainnya. Lonjakan beban trafik, ditambah penonaktifan pengoptimal paket jaringan dan sebuah bug perangkat lunak di sentral pengganti, menyebabkan konektivitas terputus-putus bagi sebagian pelanggan pada malam hari di kedua tanggal tersebut.

Gangguan pada 16 Maret mulai dirasakan pelanggan sekitar pukul 10.30 pagi waktu setempat. Layanan 4G pulih sekitar pukul 13.30, layanan 5G dipulihkan bertahap mulai pukul 14.45, dan pulih sepenuhnya sekitar pukul 20.00. Adapun gangguan pada 18 Maret teratasi dalam waktu kurang dari satu jam.

Menanggapi putusan tersebut, CEO Singtel Ng Tian Chong menyatakan menerima keputusan IMDA beserta denda yang dijatuhkan. “Kami sangat menyesalkan gangguan dan ketidaknyamanan yang dialami para pelanggan kami,” ujarnya.

Sumber: CNA